Fikrah

Peringkat Tujuan Beramal

INDONESIA adalah negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Sensus 2010, penduduk Indonesia 237.641.326 jiwa, muslim 87,18 persen

banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
KH Husin Naparin 

OLEH: KH HUSIN NAPARIN, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - INDONESIA adalah negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Sensus 2010, penduduk Indonesia 237.641.326 jiwa, muslim 87,18 persen; Kristen 6,96 persen; Katolik 1,69 persen; Hindu 0.72 persen; Buddha 0,05 persen; Konghucu 0,13 persen; agama lainnya 0,38 persen.

Menurut UUD 1945, “tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya.” dan “menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya.” Mahkamah Konstitusi RI, 7 November 2017 mengakui aliran kepercayaan. Kalimantan Selatan jumlah penduduknya 3,7 juta jiwa, Islam 96.23 persen; Hindu 1.61 persen; Kristen Protestan 1.26 persen; Katolik 0.57 persen; Buddha 0.33 persen.

Mayoritasnya umat Islam di Indonesia, menggembirakan kita, tetapi juga membuat mirisnya hati, karena banyaknya yang minim pengetahuan agama dan pengamalan Islam, khususnya salat. Imam Al-Gazali dalam Mizan al-Amal menulis, manusia ada mukmin dan ada kafir; mukmin ada yang beramal dan ada yang tidak beramal; yang beramal, ada yang beramal wajib dan sunat; ada yang beramal wajib saja, dan ada yang beramal sunat saja (contoh salat cukup dua kali dalam setahun, Idulfitri dan Iduladha, padahal keduanya sunat).

Umat Islam memerlukan pendorong beramal, yaitu ilmu beramal.

Ada tiga peringkat tujuan beramal; Pertama untuk menunaikan kewajiban, orang, ibadahnya disebut ibadatul-ibad. Kedua, beribadah bukan saja untuk menunaikan kewajiban, tetapi juga untuk mensyukuri nikmat, ibadahnya diistilahkan ibadatul-khawas (sadar makna ibadah yang dilakukan). Mereka ringan melaksanakan ibadah, tidak halnya seperti orang yang hanya menunaikan kewajiban, beribadah dengan perasaan berat dan bila mendengar adzan, menggerutu, “ah, salat lagi.”

Ketiga, orang yang melaksanakan ibadah bukan hanya menunaikan kewajiban dan bersyukur akan nikmat, tetapi ibadah baginya adalah sarana taqarrub kepada Allah SWT. Mereka adalah orang-orang khawashul-khawas. Mereka merasa nyaman dalam melaksanakan ibadah, inilah yang harus kita gapai, yaitu halawatul-ibadah (manis-lezatnya ibadah).

Mereka yang berada pada peringkat pertama disebut awam (orang kebanyakan), dan mereka yang pada peringkat kedua dan ketiga diistilahkan ibadatushufiyyin (ibadahnya orang-orang sufi, bersih). Sebagai seorang muslim, perlu introspeksi diri, apakah ibadah kita begitu-begitu saja, tidak naik-naik peringkat.

Ibadah yang dilaksanakan seorang awam sama bentuknya dengan yang dilaksanakan mereka yang mencapai kesufian (bersih). Perbedaan terletak pada corak (al-laun) pelaksanakan suatu amal. Ada beberapa aktivitas amal untuk mengukur awamnya seseorang ataukah mencapai kesufian, yaitu:

1. Sesuatu yang mubah (boleh-boleh saja) dilakukan oleh seseorang, orang awam biasa saja melakukannya, tetapi orang sufi tidak mau melakukannya, seperti berjalan-jalan di tengah keramaian pasar. Orang yang mencapai kesufian tidak mau melakukan hal itu, bukan berarti membenci gerak perekonomian di pasar yang diperlukan oleh manusia dalam kehidupan, tetapi yang mereka tidak sukai dan mereka hindari adalah kebohongan dan sumpah palsu yang sering terjadi di pasar.

2. Keduniaan (pangkat, jabatan atau materi), bagi orang awan ditaruh di dalam hati, sehingga bila mereka berhasil meraupnya, gembiranya bukan alang kepalang, berjingkrak-jingkrak lupa diri. Tetapi bila hilang, mereka putus asa dan frustasi, bahkan menggila. Adapun para sufi, bisa jadi mereka terima jika diperkirakan mampu memikul amanah dan untuk pepentingan agama.

3. Ibadah yang dilakukan orang awam sebagai pembersih jiwa, tetapi bagi orang sufi sebagai penghias jiwa, ibaratkan membuat sebuah kursi, orang awam masih dalam tahap meraut kayu bahan kursi, sedang bagi orang sufi sudah pada tahap mengecatnya dengan warna-warni yang indah.

4. Masalah dosa, bagi orang awam ada dosa kecil dan ada dosa besar; sedangkan bagi orang sufi tidak ada dosa besar dan dosa kecil, semua dosa bagi mereka adalah besar; karena memandang kepada siapa berbuat dosa, yaitu kepada Allah SWT yang Maha Agung, kendati mereka tahu bahwa Dia Maha Pengampun.

5. Taklif hukum atau kewajiban, orang-orang awam memaksakan diri untuk menunaikannya, sedangkan orang-orang sufi melaksanakan kewajiban suka-rela/ikhlas mencari ridha Allah SWT’ yang mereka paksakan adalah ma’iyyatullah; yaitu kehadiran hati bersama Allah..

6. Tujuan ibadah bagi orang-orang awam mencari-cari rahmat Allah SWT, sedang bagi orang sufi menanti-nanti faidhanurruhmah (banjir limpahan rahmat). (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved