Berita Kabupaten Banjar

Gandeng DUDI Terkait Soal Ketenagakerjaan, Begini Harapan SMKN 1 Martapura

Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Martapura menjalin kerjasama dengan belasan dunia usaha dunia industri (DUDI).

Gandeng DUDI Terkait Soal Ketenagakerjaan, Begini Harapan SMKN 1 Martapura
banjarmasinpost.co.id/idda royani
Kepala SMKN 1 Martapura Dwi Ayati (kedua kiri) menandatangi kerjasama penyerapan tenaga kerja dengan dunia usaha dunia industri, Selasa (29_10) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Martapura menjalin kerjasama dengan belasan dunia usaha dunia industri (DUDI).

Kerjasama tersebut terutama dalam hal penyerapan tenaga kerja. Penandatanganan naskah kerjasama telah dilakukan, Selasa kemarin, disaksikan petinggi Dinas Pendidikan Kalsel dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Banjar.

Kepala SMKN 1 Martapura Dwi Ayati mengatakan sekolanya tiap tahun meluluskan ratusan alumni yang memikili kompetensi memadai. Termasuk alumni penyandang disabilitas.

Ayati mengatakan berdasar peraturan pemerintah, dunia kerja juga harus menampung sekitar dua persen dari tenaga kerja berkebutuhan khusus.

Baca: Riset Video Syur Mirip Nagita Slavina dan Gisell, Profesor Ini Sebut Istri Raffi Ahmad Doppelganger

Baca: BREAKING NEWS - Kebakaran Jalan Pembangunan Bikin Panik Pasien RS Suaka Insan

Baca: Citra Playboy Raffi Ahmad Diungkap Jenderal Ini, Suami Nagita Slavina Disuruh Cari Istri Lebih Muda

"Misalnya dari dunia usaha industri memerlukan tenaga kerja difabel, silakan datang ke SMK Negeri 1 Martapura karena kami juga menampung anak-anak yang berkebutuhan khusus," ucapnya, Sabtu (02/11/2019).

Pelajar difabel di sekolahnya di antaranya ada yang tuna rungu, tuna daksa, tunagrahita ringan. Ada juga yang mengalami celebral palsy, slowleaner, hematohirosis, aspenger sindrom, hidroseplasy, dan autis.

Selain itu, pihaknya juga menampung pelajar repatriasi yakni anak-anak TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Sabah, Malaysia. Jumlahnya sebanyak 28 orang yang sebagian besar orangtua mereka berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia berharap kalangan DUDI di Banua ini juga bisa menyerap pelajar repatriasi tersebut guna membantu remaja tersebut terangkat dari lembah keterpurukan ekonomi. Di Kalsel ada sepuluh sekolah menengah atas yang menampung anak-anak TKI Sabah tersebut.

"Silakan alumni-alumninya nanti direkrut. Mereka rata-rata kami arahkan untuk mengambil kompetensi keahlian tata busana dan tata boga," papar Ayati.

Ia menuturkan pelajar repatriasi tersebut adalah anak-anak dari TKI ilegal yang seumur hidup mengais rezeki di Sabah. Keberadaan mereka di negeri Jiran itu tidak diakui. Artinya mereka secara ilegal masuk Sabah sehingga kewarganegaraannya pun belum jelas.

"Karena itu kami berupaya untuk mengembalikan mereka supaya kembali menjadi warga negara Indonesia.
Mudah-mudahan nanti bisa ditampung di dunia kerja industri di Indonesia supaya mereka tidak lagi kembali ke Sabah, Malaysia," harap Ayati.

Kalangan pelajar repatriasi tersebut pun berharap kelak setelah lulus sekolah bisa hidup secara mandiri. Jika pun tak tertampung dalam dunia kerja, mereka akan menekuni bidang wiraswasta.

Jessica Bota Liwun misalnya yang bercita-cita ingin menjadi seorang desainer andal. Sementara itu, rekannya, Rosmarlyn Kewa ingin menjadi fotografer profesional. Saat ini keduanya duduk di bangku krlas XI.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved