Opini Publik

Mengembangkan Desa Wisata

Pada pertengahan Oktober 2019, Kementerian Desa meluncurkan buku Rural Ekonomics III. Mengiringi sambutan dan paparan Menteri Desa

Mengembangkan Desa Wisata
Banjarmasin Post Group/Helriansyah
Bupati Kotabaru, H Sayed Jafar, dan rombongan menyaksikan Upacara Adat Mappanretasi Desa Teluk Tamiang, Kecamatan Pulaulaut Tanjung Selayar Kotabaru, beberapa hari tadi. 

Oleh: M Noor Azasi Ahsan, Tenaga Ahli di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IPB Bogor

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pada pertengahan Oktober 2019, Kementerian Desa meluncurkan buku Rural Ekonomics III. Mengiringi sambutan dan paparan Menteri Desa, dilakukan pula pemutaran video yang antara lain menampilkan keindahan wisata di Umbul Ponggok ang menyediakan berbagai panorama buatan yang menawan dan berada di bawah air itu untuk tempat berswafoto. Ada pula sejumlah desa wisata lain yang dianggap terbaik berdasar penilaian Kementerian Desa.

Hakikatnya kegiatan pariwisata yang menawarkan daya tarik wisata berupa keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian, kehidupan sosial, ekonomi, adat istiadat masyarakat setempat, arsitektur bangunan maupun tata ruang desa yang khas bisa disebut wisata perdesaan, sedangkan lokasinya disebut Desa Wisata.

Dalam Diskusi Wisata Desa di Kementerian Desa, Selasa, 29 Oktober 2019, Direktur Pembangunan Sarana dan Prasarana Desa Drs H Mukhlis menekankan pentingnya keberadaan Village Business Park (VBP) sebagai Ruang Terbuka Hijau desa yang antara lain dilengkapi dengan fasilitas bebas akses internet dalam rangka menunjang kegiatan pariwisata. Pengalaman setahun bertugas di Kalimantan Selatan, terdapat sejumlah desa yang menarik dikunjungi dan dapat dikembangkan sebagai desa wisata walaupun belum dilengkapi lokasi yang khusus untuk VBP.

Di Kalsel, seperti Jaro Kabupaten Tabalong, terdapat obyek wisata Bukit Kamaro yang menyediakan flying fox dan beberapa ornament sebagai tempat swa-photo. Di Hulu Sungai Selatan, ada wahana wisata air Cekdam Tayub yang dikelola BUMDes Antaluddin Makmur Desa Madang. Pengunjung bisa naik perahu mengeliling danau kecil yang dikelilingi perbukitan, hutan dan kebun sawit dengan menyewa sepeda air Rp 5.000,- per jam. BUMDes telah membeli lahan kelapa sawit di sekitar lokasi untuk area agro-wisata serta rencana melengkapinya dengan flying fox dan fasilitas pelatihan outbond.

Dalam bentuk lain, beberapa desa dan kampung yang ada di Kabupaten Banjar juga mengembangkan wisata air. Melengkapi pasar terapung yang sudah lebih dahulu dikenal orang, citra bumi seribu sungai berupaya dilestarikan melalui atraksi lomba balap jukung di Desa Sungai Rangas Tengah.

Kotabaru juga tidak kalah menarik. Selain Pantai Sarang Tiung di Pulau Laut Utara, ada pula pulau penyu di Tanjung Kunyit Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar. Tidak Jauh sana, Desa Tamiang telah membangun monument perahu phinisi pada sebuah bukit di desa tersebut. Selain menjadi rest area, desa dengan pantai tidak kalah menawan ini juga ingin mengingatkan kisah perjalanan hidup kaum Nabi Nuh.

Di Tanahbumbu, Pegunungan Batu dan danau-danau bekas galian tambang Desa Mantewe menjadi lokasi wisata yang menarik oleh Komunitas Pemuda setelah mendapat izin dari pemerintah desa dan pada pemilik lahan. Para Inisiator membangun objek wisata Bukit Watu Tukul di sana dengan mengutamakan pemanfaatan sumber daya lokal.

Banjarmasin Post cetak edisi Sabtu (2/11/2019).
Banjarmasin Post cetak edisi Sabtu (2/11/2019). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Arah pengembangan Desa Wisata

Pengembangan wisata desa ke Bukit Watu Tukul memberikan pelajaran, bagaimana pengelolaan wisata ini dapat membantu penciptaan lapangan kerja bagi para pemuda dalam penyediaan jasa fotograper dan ojek. Uang kas yang terkumpul dari hasil pendapatan kemudian digunakan untuk membangun usaha berupa kafe angkringan. Para pemuda juga menghiasi pinggir jalan raya desa dan beberapa tempat umum dengan ribuan bunga melati.

Sinergisitas, khususnya dengan Kkbupaten perlu dibangun dalam pengelolaan areal wisata perdesaan. Pola Desa Berjo melalui pembagian saham dan keuntungan dari pengelolaan air terjun Jumog masing-masing 30 persen untuk Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan Pemerintah Desa Berjo serta 40 persen untuk BUM Desa sebagai pengelolanya bisa dicontoh untuk menghindari terjadi pengkavlingan areal wisata menjadi bagian yang dikelola desa dan bagian yang dikelola kabupaten sebagaimana yang pernah temui pada sebuah kawasan pesisir.

Merujuk pada pendapat Prof Erani Yustika yang menempatkan pengembangan desa wisata sebagai bagian dari matra lumbung ekonomi desa (Bumi Desa), pengembangan desa wisata diharapkan dapat mendorong perekonomian dan memulihkan destruksi ekologi yang dialami banyak desa. Sebagai contoh, pembangunan wisata Kampung Rajungan di Belitung bisa mengakselerasi pengembangan dan ekspor produk olahan kolagen bernilai ekonomi tinggi ke Eropa.

Desa wisata tidak dikembangkan untuk tujuan menginvasi ekonomi warga desa sehingga tergusur dari budaya, mata pencaharian maupun lahan dan asset produktif yang selama dimilikinya, namun justru diharapkan dapat melestarikan dan memperkuatnya kearifan lokal tersebut. Oleh karena itu, kegiatan berwisata ke desa hendaklah berjalan apa adanya, agar warga tetap menjalani profesi dan budaya yang selama ini sudah baik.

Peningkatan kapasitas komunikasi diharapkan memberikan mereka kemampuan dan kepercayaan diri dalam memberikan pemahaman kepada wisatawan yang masuk untuk tetap menghargai budaya dan adat-istiadat setempat. Wisata perdesaan tidak harus menonjolkan pemandangan alam yang indah atau bangunan yang mewah dan artistik, namun budaya, adat istiadat, kebiasaan, religi dan warisan artefak yang masih lestari itu juga bisa menarik wisatawan melalui aktivitas wisata edukasi. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved