Fikrah

Mengapa Kita Salat?

Kita menyembah Allah, karena Dia-lah yang menciptakan kita. Dari pengabdian itu, Allah tidak mengambil kepentingan apapun

Kaltrabu
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin, Ketua Umum MUI Prov Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - ALLAH SWT telah menciptakan kita sebagai manusia sebaik-baik bentuk (QS 95/4), disuruh-Nya kita beribadah, yaa ayyunnaasu’buduu rabbakumulladzii khalaqakum wa-lladziina min qablikum la’allakum tattaquun (Wahai manusia, sembahlah Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa) (QS 2/21).

Kita menyembah Allah, karena Dia-lah yang menciptakan kita. Dari pengabdian itu, Allah tidak mengambil kepentingan apapun; seandainya semua manusia salat kebesaran Allah tidak bertambah dan sebaliknya seandainya tidak ada yang salat, kebesaran-Nya tidak berkurang.

Bahkan firman-Nya; ma uriidu minhum an yuth’muun (Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan (QS.51 /57-58). Pengabdian manusia kepada Allah SWT, adalah untuk kepentingan diri mereka sendiri.

Salat fardhu lima waktu (Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya), adalah ilustrasi fase-fase kehidupan yang harus kita renungi. Subuh fase kelahiran, Zuhur masa dewasa, Asar masa tua, Magrib masa kematian, sedangkan Isya fase kefanaan kita, dikembalikan kepada Allah SWT.

Untuk apa salat?
1. Salat sebagai penyejuk hati. Nabi SAW bersabda, hubbiba ilayya minaddun-yaa an-nisaa’ wath-thiibu, wa ju’ilat qurratu ‘ainii fish-shalati, dijadikan kesenanganku dari dunia berupa wanita dan minyak wangi. Dan salat dijadikan penyejuk hatiku. (HR Nasa’i dan Ahmad).

Bila waktu salat tiba, Nabi SAW menyuruh Bilal mengumandangkan azan. qum yaa bilaal fa arihnaa bish-shalaati, Bilal berdirilah, nyamankan kita dengan salat. (HR Abu Daud).

2. Salat pencegah perbuatan keji dan mungkar. Innash-shalaata tanhaa ‘anil-fahsyaa’i munkar, sesungguhnya salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. (QS 29/45).

Dalam kitab Hikmatuttasyri’ diceritakan ada seseorang yang selalu mendirikan salat, tetapi kemaksiatannya juga jalan, hal ini disampaikan kepada Nabi SAW, beliau menjawab, da’ahu, satanhaahu shalaatuhu yauman maa, biarkan dahulu suatu hari nanti salatnya mencegahnya dari perbuatan mungkarnya.”

3. Salat sebagai penolong manusia menghadapi permasalahan kehidupan. Wasta’iinuu bish-shabri wash-shalaati. Wa innahaa lakabiiratun illaa alal-khaasyi’iin, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (QS.2/45).

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved