Tajuk

Pahlawan Milineal

BISA jadi anak-anak milineal kurang atau bahkan enggan menyimak warta tentang penganugerahan kembali gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden

Pahlawan Milineal
Instagram/Dian Sastro
Salah satu penggagas Sumpah Pemuda Sunario Sastrowardoyo dan artis peran Dian Sastrowardoyo. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - BISA jadi anak-anak milineal kurang atau bahkan enggan menyimak warta tentang penganugerahan kembali gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), Jumat (8/11/2019) kemarin. Ada enam tokoh yang mendapat gelar tersebut yakni Ruhana Kuddus, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi, Prof dr M Sardjito, KH Abdul Kahar Mudzakkir, AA Maramis dan KH Masjkur.

Bila ditanya, sangat mungkin generasi milineal kurang atau bahkan tidak mengenal tokoh-tokoh yang memiliki banyak jasa terhadap bangsa dan negara ini. Bagi generasi milenial, sosok dan defenisi pahlawan bagi mereka tentu sangat jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi milineal memiliki pahlawannya sendiri yang tidak didapatkan dari menghafal buku pelajaran sejarah di sekolah.

Tidak mengherankan, mereka juga cenderung lebih mengenal dan mengagumi tokoh-tokoh fiksi superhero dalam Avengers seperti Ironman, Captain America, Captain Marvel. Hulk, Thor, dan Black Widow daripada sosok pahlawan bangsa. Kisah kepahlawanan jagoan Avengers lebih menarik dan meresap di hati mereka.

Sementara tokoh-tokoh perjuangan bangsa seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, dan Cut Nyak Dien lebih ditempatkan sebagai bahan hafalan untuk menjawab soal ujian. Harus diakui, pelajaran sejarah seakan berhenti pada glorifikasi masa lalu yang tidak relevan dengan masa kini.

Survei Litbang Kompas pada kaum muda pada 2018 lalu memang menunjukkan keberadaan pahlawan bangsa tidak dilupakan sepenuhnya oleh generasi milenial, meski secara kuantitas tidak mencapai 50 persen.

Ketika ditanya siapa yang pantas disebut pahlawan, generasi milineal yang menjadi responden mengatakan pejuang kemerdekaan (49 persen), tokoh popular (36 persen), tokoh agama (9,6 persen), tokoh imajiner (3,5 persen), orang yang berjasa bagi rakyat (2,5 persen), sosok yang bermanfaat (1.3 persen), dan sisanya (0.2 persen) menjawab tidak tahu.

Lalu ada pertanyaan lain. Apa nilai kepahlawanan menurut mereka? Jawabannya, memperjuangkan kesejahteraan banyak orang (51.8 persen) dan membela kebenaran (39,5 persen). Sementara memperjuangkan kemerdekaan bangsa hanya dijawab oleh 4,6 persen responden dan 2,9 persen lainnya menjawab pahlawan adalah orang yang berjuang melawan musuh.

Apa artinya, selain kurang mengenal sosok para pahlawan bangsa ini, generasi milenial menafsirkannya defenisi pahlawan secara lebih luas. Tidak sebatas tokoh yang berjuang untuk memerdekakan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini di era perjuangan. Kaum muda lebih melihat hal-hal konkret dan berguna bagi masyarakat sekarang, bukan sekadar glorifikasi masa lalu.

Akan lebih mengena apabila penafsiran milenial tentang sosok pahlawan juga diajarkan dalam buku pelajaran sejarah. Diajarkan bahwa pahlawan tidak harus tokoh perjuang kemerdekaan, tetapi lebih kepada mereka yang mengutamakan kepentingan bersama dan memiliki kontribusi positif untuk kemanusiaan, lingkungan hidup, pendidikan, kesehatan, olahraga, budaya, keagamaan, dan bidang-bidang lainnya

Diharapkan dengan cara itu, sosok pahlawan tidak hanya kisah “hero” masa lalu dari orang-orang yang sudah almarhum. Tetapi, pahlawan bisa juga tokoh masa kini (living heroes) yang akan menggerakkan Indonesia terus ke depan, bersaing degan negara-negara maju lainnya. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved