Jendela

Syair dan Musik Maulid

Sejak kanak-kanak, saya sudah gemar menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW. Selain menikmati aneka makanan enak dan mendengarkan ceramah

Syair dan Musik Maulid
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: MUJIBURRAHMAN, Rektor Universitas Islam Negeri(UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sejak kanak-kanak, saya sudah gemar menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW. Selain menikmati aneka makanan enak dan mendengarkan ceramah, yang sangat mengesankan di hati adalah syair-syair maulid yang dilantunkan dengan indah oleh orang-orang yang bersuara merdu. Alunan suara indah itu merasuk dalam ke lubuk hati, meskipun saya tidak paham makna syair-syair Arab yang disenandungkan itu.

Di Amuntai, kota kelahiranku, hingga awal 1980-an, syair maulid yang paling populer adalah al-Dibâ’î. Biasanya, yang dibaca hanya syair-syair, sedangkan prosa riwayat hidup Nabi tidak dibaca atau dibaca tanpa diperdengarkan kepada semua yang hadir. Selain itu, Simthut Durar atau Maulid al-Habsyi juga mulai populer, yang menggabungkan pembacaan prosa riwayat hidup Nabi dan syair-syair pujian.

Tak syak lagi, Maulid al-Habsyi makin populer berkat (Alm) Tuan Guru Haji Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul. Dengan suara basnya yang lembut, beliau melantunkan syair-syair dan prosa Simthut Durar dengan indah-memukau. Kebetulan, salah seorang sahabat Guru Zaini, Tuan Guru Haji Riduan, tinggal di kampung sebelah. Saya mulai mengenal Simthut Durar dari beliau dan murid-muridnya.

Saat saya di Kelas V Sekolah Dasar, saya bergabung dengan grup pembaca Maulid al-Habsyi. Meski peran saya hanya sebagai ‘tukang sahut’ alias pelengkap, tetapi saya sangat suka. Kebetulan ketika itu, ayahku terkena hukuman politik gara-gara tidak mau berkampanye untuk Golkar sehingga dimutasi ke Barito Kuala. Hidup kami sekeluarga prihatin. Ikut grup maulid itu sungguh memberikan penghiburan bagi saya.

Setamat SD, saya melanjutkan ke Pesantren Al-Falah Banjarbaru. Di sini, aneka maulid dibaca sebagai amalan rutin secara bergiliran, tetapi yang paling populer adalah Simthut Durar. Setelah duduk di Kelas III Tsanawi, saya diizinkan ikut pengajian Guru Sekumpul. Saat itulah saya secara langsung melihat wajah Guru yang tampan dan suaranya yang merdu. Beliau juga ‘merilis’ syair-syair baru yang mempesona.

Di Al-Falah, saya belajar bahasa Arab, sehingga saya mulai memahami makna syair dan prosa maulid yang dibaca dan disenandungkan itu. Saya mulai dapat menghayati lebih dalam syair dan prosa itu seiring dengan alunan indah suara yang membacanya. Keindahan itu makin terasa lagi setelah saya belajar Ilmu Balaghah, yang menjelaskan berbagai pola keindahan kata dan makna dalam sastra Arab.

Namun, kadangkala ada saja syair atau prosa yang tidak dapat saya pahami maknanya, tetapi seperti di masa kanak-kanak, saya tetap menikmati iramanya. Hal ini menyadarkan saya bahwa irama memiliki kekuatan tersendiri yang berbeda dengan kekuatan kata dan makna. Mungkin inilah salah satu sebab mengapa Guru Sekumpul kemudian menyertakan tabuhan terbang dalam pembacaan Simthut Durar.

Di dalam Kimiyâ’ al-Sa’âdah, al-Ghazali menyatakan, Allah menciptakan hati manusia laksana batu api, yang mudah tepijar oleh musik, yang melahirkan rasa tentram dan harmoni. Ia adalah gema keindahan dari alam yang lebih tinggi, yaitu alam ruh. Musik dapat membangkitkan emosi manusia yang terdalam, sehingga orang tak kuasa menjelaskannya dengan kata-kata. Musik membangkitkan cinta yang tertidur.

Musik adalah bunyi indah yang kita dengar. Musik adalah keindahan tanpa bentuk, laksana parfum yang harum tanpa bentuk. Keindahan adalah jejak-jejak rahmat ilahi yang dapat mengingatkan kita akan diri kita yang spiritual, yang ruhani. Bunyi yang keluar dari tenggorokan kita ataupun dari alat-alat musik, jika bergema dalam keserasian, dapat menghubungkan ruh kita dengan sumber segala keindahan, Tuhan.

Bagi al-Ghazali, musik boleh bahkan dianjurkan, jika digunakan untuk membangkitkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi haram jika musik itu justru membangkitkan hawa nafsu dan kemaksiatan. Musik juga dibolehkan (mubah) jika sifatnya netral, yakni tidak mengingatkan akan cinta atau takut pada Allah, tidak pula mendorong kepada hawa nafsu dan kemaksiatan, melainkan sebagai hiburan saja.

Alhasil, melalui senandung syair-syair maulid yang diiringi tabuhan terbang, kita dapat merasakan keindahan hidup beragama, bukan melalui teori dan wacana, melainkan melalui pengalaman ruhani ketika hati hanyut dalam arus melodi ‘surgawi’ atau terbakar oleh api cinta. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved