BPost Cetak

Mendorong UMKM Menembus Pasar Ekspor

Kinerja ekspor produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) turun. Kontribusinya terhadap ekspor nonmigas sebesar 14,17 persen.

Mendorong UMKM Menembus Pasar Ekspor
Banjarmasinpost.co.id/Achmad Maudhody
Ilustrasi-Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Halaman Hotel Rattan Inn Banjarmasin, Sabtu (26/1/2019). 

Kendala lain yang dihadapi UMKM menembus ekspor adalah tingginya biaya logistik ditambah pajak yang tinggi untuk volume besar. Akumindo menyebut pajak yang berlaku 30 persen. Penerima produk di negara tujuan nantinya juga masih akan dibebani biaya.

Terkait dengan perizinan, hal ini juga masih menjadi masalah tersendiri. Di lapangan, selain pemahaman yang masih minim dari pelaku UMKM terkait prosedur ekspor-impor, tetapi kebijakan ekspor-impor untuk UMKM juga masih belum sejelas usaha besar.

Harmonisasi antar lembaga belum serasi dan belum terintegrasi. Dorongan ekspor produk UMKM lebih pada himbauan, belum benar-benar berwujud pada kebijakan. Pada akhirnya, pelaku UMKM lebih memilih pasar domestik.

Menyikapi berbagai persoalan yang terjadi, ada dua kata kunci yang dapat dioptimalkan. Yaitu, insentif dan digitalisasi. Insentif dibutuhkan sebagai stimulus, baik dengan mempermudah persyaratan maupun keringanan pajak. Termasuk dengan menyediakan perizinan digital.

Terkait digitalisasi, diperkirakan baru sekitar 9 persen UMKM yang memanfaatkan pasar digital. Padahal, dari 267 juta populasi penduduk Indonesia, diperkirakan 83,5 juta adalah pengguna smartphone, 132,7 juta pengguna internet aktif, 130 juta pengguna media sosial, dan 18 juta diantaranya berbelanja online. Strategi bisnis digital dapat menjadi peluang untuk membuka peluang ekspor produk UMKM.

Menolong Perekonomian
Tren perlambatan PDB Indonesia yang cenderung stagnan pada angka pertumbuhan 5 persen sudah terjadi sejak 2014. Seiring bayang-bayang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin melambat pascaperang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang menekan perdagangan internasional dan ekonomi global, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II 2019 kembali mencatat semakin melebarnya defisit transaksi berjalan setelah sebelumnya sempat mengalami perbaikan.

Tahun depan, defisit transaksi berjalan masih akan menghantui. Terlebih belanja bunga utang negara jatuh tempo akan meningkat. Itulah sebabnya, pemerintah belakangan semakin menyuarakan dorongan ekspor bagi UMKM.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia tanggal 23-24 Oktober juga memutuskan menurunkan kembali suku bunga acuan hingga menyentuh titik terendah sepanjang 2019, yaitu 5 persen. Hal ini tidak lepas dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, termasuk membantu kredit murah bagi UMKM.

Jelas, UMKM saat ini menjadi harapan bagi pemerintah untuk menolong perekonomian dengan ikut membantu perbaikan defisit transaksi berjalan melalui peningkatan diversifikasi produk yang bisa diekspor ke luar negeri.

10 Manfaat Teh Hijau untuk Kesehatan dan Kecantikan, Bakar Lemak hingga Menangkal Penyakit

Berat Tubuh Artis Ini Turun 90 Kg, Denada & Teman Ariel NOAH & Ayu Ting Ting, Wika Salim Kaget!

Saat ini, eksistensi UMKM memang diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekspor nonmigas. Pasalnya, defisit transaksi berjalan yang telah berlangsung sejak 2012 dapat berimplikasi pada instabilitas nilai tukar yang pada gilirannya dapat berimplikasi pada instabilitas perekonomian nasional.

Halaman
123
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved