BPost Cetak

Putri Wapres Makruf Amin Mundur Dari PNS dan Maju Jadi Calon Wali Kota Tangsel, Simak Ini Alasannya

Putri Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Siti Nur Azizah, mengundurkan diri sebagai PNS di Kemenag yang telah dilakoninya selama 18 tahun

Putri Wapres Makruf Amin Mundur Dari PNS dan Maju Jadi Calon Wali Kota Tangsel, Simak Ini Alasannya
BPost Cetak
Banjarmasinpost Edisi Kamis (14/11/2019) 

Wawancara Ekslusif Siti Nur Azizah Putri Wapres KH Ma’ruf Amin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Putri Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Siti Nur Azizah, mengundurkan diri sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian Agama (Kemenag) yang telah dilakoninya selama 18 tahun.

Seperti putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, yang mencalonkan diri menjadi wali kota Solo, Siti ingin maju dalam pemilihan kepala daerah Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Apa yang menjadi motivasinya? Berikut petikan wawancara dengan Siti :

Apa niat Anda mencalonkan sebagai wali Kota Tangsel?
Saya ingin nuansa yang berbeda untuk mengabdi. Ada banyak dorongan bagaimana menjadi bagian dari semangat perubahan yang dimunculkan oleh masyarkat Tangsel. Masyarakat Tangsel kan mau melakukan sebuah perubahan.

Lalu apa yang membuat Anda yakin terpilih?
Karena saya ini putri Banten. Saya orang Banten asli. Abah dan ibu almarhumah, orang Banten. Kemudian saya sekarang juga tinggal di kota Tangsel, Bintaro sektor 9. Jadi saya orang Banten dan orang Tangsel, KTP juga.

Masalah apa yang paling krusial untuk dibenahi di Tangsel?
Tangsel ini kota yang masih baru tapi cepat sekali pembangunannya. Ada sisi masyarakat lokal yang perlu penguatan karakteristik. Saya melihat itu yang belum disentuh secara maksimal.

Contohnya seperti apa?
Sampai sekarang saya juga belum bisa melihat apa sih sebetulnya karakteristiknya kota Tangsel itu sendiri. Dengan masyarakat yang majemuk, kan ada mayoritas masyarakat Betawi, Sunda dari Banten. Tapi ciri khas itu yang belum muncul belum kelihatan. Karena itu proses pemerataan kemajuan yang kemudian bisa mengangkat potensi karakteristik lokal itu belum kelihatan.

Memang karakteristik apa yang bisa dimunculkan?
Saya melihat, ini kan masyarakat Betawinya cukup kental, selain Sunda dan Jawa. Dan ini sebenarnya kota penyangga yang banyak urban dari Jakarta. Saya melihat karakteristik Betawi Tangsel mulai hilang. Contohnya (pohon) kelor. Sebenarnya kelor itu kan ciri dari masyarakat Betawi. Nah saya punya program namanya ‘sejuk’, sejuta kelor.

Sudah kemana saja Anda melakukan sosialisasi?
Kan ada tiga syarat orang untuk maju, selain popularitas, elektabilitas dan aksepbilitas. Saya perlu banyak ketemu masyarakat, karena untuk menyerap aspirasi. Makanya saya turun. Ini momen baik untuk mengangkat isu-isu lokal. Seperti ke majelis taklim, acara-acara masyarakat, tokoh masyarakat, budayawan, pengusaha yang andal, dan politisi senior. Yang terpenting membangun chemistry dengan masyarakat di Tangsel.

Untuk meraih dukungan dari parpol, Anda sudah ke parpol mana saja?
Sebagai orang yang meyakini proses itu tidak mengkhianati hasil, dan saya bukan orang yang instan, juga menggunakan karpet merah, untuk itu saya harus ikhtiar. Termasuk untuk mendapatkan legitimasi. Tentunya saya mengikuti konvensi dan melakukan komunikasi politik dengan partai-partai yang memiliki kursi di kota Tangsel. Yang pertama kali itu saya ke PDIP, juga daftar konvensi di PSI, PKB, bahkan partai yang tidak memiliki kursi, seperti PPP. Serta yang terakhir partai Gerindra. Nanti saya juga ke Partai Demokrat.

Bagaimana Anda menjamin tidak akan menggunakan ‘karpet merah’ dari Ayah Anda?
Kan bisa terbaca dari rekam jejak. Karena selama ini kan pekerjaan saya (PNS Kemenag) tidak cukup populer dan tidak untuk populer. Kalau pun sekarang saya muncul dan orang melihatnya sebagai putri Wapres, itu wajar-wajar saja.

Kapan Anda bilang kepada Ayah Anda untuk maju sebagai Calon Wali Kota Tangsel? Dan bagaimana tanggapannya?
Sebelum Pilpres 2019. Memang agak surprise, karena saya kan orang birokrat bukan politisi praktis, apa iya (maju)? Beliau senyum-senyum, ini nggak salah ini? Biasa kan orangtua melihat sesuatu yang baru dari anaknya.
Beliau menyampaikan, Wapres itu milik bangsa dan negara, tentu beliau ingin ditempatkan sebagai Wapres milik negara bukan hanya milik keluarga. Saya menghargai, karena saya menyampaikan ini sebelum pemilu.
Lalu saya tes pasar juga, pasang spanduk, kelihatannya sambutannya cukup baik. Artinya masyarakat punya semangat yang sama untuk melakukan perubahan. Setelah itu, beliau merestui dan mendukung sebagai orangtua tentunya.

Bisa jelaskan background Anda?
Pendidikan S1 saya di Universitas Islam Malang, S2 Universitas Jayabaya, S3 di Universitas Krisna Dwipayana, semuanya ambil ilmu hukum. Saya anak ke empat dari delapan bersaudara. Putra putri saya ada sembilan. (suf)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved