Tajuk

Ujian Perdana Kapolri Jenderal Idham Azis

Ujian datang. Ledakan bom bunuh diri terjadi di lingkungan markas Mapolrestabes, Rabu (13/11/2019) sekitar pukul 08.45 WIB.

Ujian Perdana Kapolri Jenderal Idham Azis
BPost Cetak
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID -  Pertemuan demi pertemuan digelar. Ini dilakukan untuk saling kenal. Maklum pejabat baru.

Tiga pekan sudah para menteri Kabinet Indonesia Maju dilantik.

Tak hanya di lembaga yang dipimpinnya, sejumlah menteri telah menggelar pertemuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Isinya pun lebih banyak untuk saling kenal. Wajar mengingat anggota DPR juga baru dilantik.

Belum lagi seluruh tugas dan fungsi masing-masing selesai dipelajari, ujian datang. Ledakan bom bunuh diri terjadi di lingkungan markas Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11) sekitar pukul 08.45 WIB.

Ujian ini lebih ditujukan kepada Kapolri Jenderal Idham Azis. Padahal dia baru sekitar 13 hari dinaikkan pangkat dari komisaris jenderal menjadi jenderal dan kemudian dilantik menjadi kapolri oleh Presiden Joko Widodo.

Pasca Bos Bunuh Diri di Mapolrestabes Medan, Anjing Pelacak Ikut Periksa Tamu di Polda Kalsel

Dedek Ledakkan Bom di Badan, Bripka Juli Tak Bisa Lagi Mendengar

Penerimaan CPNS 2019, BIN Cari 200 Lulusan SMA, Kementerian Hukum Perlu 3.532 Orang

Seperti pendahulunya Tito Karnavian, yang kini menjabat sebagai menteri dalam negeri, Idham banyak bergelut di bidang antiteror. Apakah ini alasan Joko Widodo memilih Idham, mungkin salah satunya. Soalnya teror memang kerap mendera negeri ini. Sebagian bahkan ditujukan kepada polisi.

Mengapa? Pertanyaan ini tentunya harus bisa dijawab oleh pemerintah dan kepolisian.

Biasanya yang dilakukan pascaserangan adalah penangkapan demi penangkapan. Namun apakah itu jawabannya yang benar, sepertinya belum.

Perlu ada langkah untuk mencegah aksi terorisme. Walaupun tak ada aksi terorisme, kita kerap mendengar adanya aksi penangkapan terduga terorisme oleh polisi. Apakah sudah cukup, rasanya juga belum.

Dalam beberapa kejadian sepertinya pemerintah berhadapan dengan rakyat. Ini terasa saat mahasiswa berunjuk rasa di depan gedung DPR untuk memprotes revisi sejumlah undang-undang.

Demikian pula pada aksi demo di berbagai daerah. Pengunjuk rasa beradu fisik dengan kepolisian. Beberapa di antaranya bahkan tewas.

Pemerintah perlu mendapat bantuan untuk mendapatkan jawabannya. Pemerintah perlu berbicara dengan masyarakat melalui para tokoh.

Dede Berubah Setelah Menikah, Ada Pengakuan Pelaku Bom Bunuh Diri Ledakan Diri Demi 72 Bidadari

Putri Wapres Makruf Amin Mundur Dari PNS dan Maju Jadi Calon Wali Kota Tangsel, Simak Ini Alasannya

Tidak cukup hanya menyatakan radikalisme mewabah dan harus diperangi. Bukan tidak mungkin aksi teror itu adalah akibat.

Upaya menyelesaikan masalah dengan banyak belajar termasuk kepada orang lain adalah hal yang bijaksana. Apalagi bangsa ini terdiri atas berbagai latarbelakang. Dengan demikian diharapkan kita bisa lolos dari ujian selanjutnya. (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved