Fikrah

Maulid atau Mulut

RABI’UL Awwal, adalah bulan maulid Nabi Muhammad SAW. Maulid artinya kelahiran, beliau dilahirkan Senin pagi, tanggal 12, tahun Gajah

banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - RABI’UL Awwal, adalah bulan maulid Nabi Muhammad SAW. Maulid artinya kelahiran, beliau dilahirkan Senin pagi, tanggal 12, tahun Gajah. Dalam memperingati kelahiran beliau, bisa saja tidak tanggal 12, tetapi pada hari-hari lain, bahkan di luar Rabi’ul Awwal pun tidak mengapa.

Kenapa demikian, sebab yang diperingati dan disambut bukan hari lahir beliau seperti kita berulang tahun, tetapi kelahiran beliau, itulah maulid; kalau seseorang berulang tahun istilahnya idul-milad (hari ulang tahun). Walau anaa amilna kulla yaumin, li ahmada maulidan qad kaana waajib, (Seandainyapun kita peringati setiap hari boleh-boleh saja, bahkan terhadap Nabi Muhammad bisa dikatakan wajib).

Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan di seluruh dunia, upacara berbeda. Di Mesir, diadakan ceramah secara resmi oleh pemerintah, dihadiiri presiden dan para menteri, dibacakan syair-syair maulid Al-Burdah oleh para bintang film. Di Islamabad, ibukota Pakistan diadakan arak-arakan dan malam 12 Rabiul Awwal diadakan tablig akbar sampai jauh malam tanpa suguhan apa-apa, kecuali hanya gula-gula dibagikan di pintu masjid ketika hadirin bubar.

Di Malaysia, diadakan ceramah di masjid dan diskusi-diskusi. Di negara kita, 12 Rabi’ul Awwal dijadikan hari libur nasional dan diadakan upacara resmi di Istana Negara, presiden dan para menteri hadir, bahkan duta besar negara-negara sahabat diundang. Kedutaan-kedutaan Besar RI di luar negeri, juga mengadakan peringatan secara resmi.

Di seluruh Indonesia, umat Islam mengadakan peringatan dengan cara berbeda tapi semisal, diadakan di masjid, kantor dan di lembaga-pendidikan, pondok pesanteren untuk menumbuhkan cinta Rasul dan Islam; dibacakan syair-syair maulid, tausiyah dan suguhan berupa makanan; satu desa mengundang penduduk desa tetangga.

Disinilah, bulan maulid berubah menjadi bulan mulut. Tidak mengapa bagi orang-orang kaya berduit, peringatan maulid merupakan kesempatan memberikan jamuan ith’amuth-tha’aam yang dianjurkan Rasulullah SAW disamping sebagai silaturrahmi antarsesama umat Islam. Tetapi bisa jadi menjadi beban bagi mereka yang kurang berada, tidak jarang harus berutang agar bisa memperingati maulid dengan suguhan memungkinkan.

Di beberapa daerah, masyarakat muslim menyiapkan peringatan maulid menabung setahun penuh, diistilahkan handil maulid, ada juga yang memanfaatkan akikah untuk suguhan peringatan.

Para sastrawan penyair Arab telah menggubah syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW, seperti Alburdah, Albarzanji, Syaraful-Anam, Ad-Diba’i, Simthut Durar, Al-Azb dan lain-lain. Begitu halus dan indah susunannya, syair (puisi) dan nazham (prosa), kebanyakannya berkisar pada kelahiran Nabi Muhammad SAW, Ad-Diba’i umpamanya, fahtazzal-arsyu tharabaa wastibsyaaraa, wazdaadal-kursiyyu haibataa wawaqaara, wamtala’atissamaawaatu anwaaraa, wadhajjatil-malaa’ikatu tahliilaa wa tamjidaa wastigfaaraa. Artinya: arsys bergoncang karena riang dan gembira, singgasana Allah bertambah hebat dan agung, langit penuh cahaya gemarlapan. Malaikat pun gemuruh menyambut kelahiran Muhammad dengan tahlil, tahmid dan istigfar.

Walam tazal umuhhu taraa anwaa’an min fakrhi wa fadhlihi ilaa nihaayati tamaami hamlih, Ibunda Nabi selalu merasakan bermacam kemuliaan ketika mengandung Nabi SAW sampai waktu melahirkan tiba. Falammasytadda bihiythalqu wadh’atil-habib saajidan syaakiran haamidan ka’annahul-badru fi tamaamih, manakala masa melahirkan datang, beliau pun melahirkan habib SAW dalam posisi sujud, memuji Allah laksana bulan purnama.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved