Tajuk

Mempertahankan Pesona Pasar Terapung

Pemerintah Kabupaten Banjar menggelar Festival Pasar Terapung Lokbaintan. Lebih 500 peserta mengikuti festival yang diadakan di Desa Lokbaintan itu.

Mempertahankan Pesona Pasar Terapung
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
Penonton berjejal di jembatan nonton festival pasar terapung Lokbaintan 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEMARIN, Minggu (17/11), Pemerintah Kabupaten Banjar menggelar Festival Pasar Terapung Lokbaintan. Lebih 500 peserta mengikuti festival yang diadakan di Desa Lokbaintan itu.

Pasar Terapung yang lebih dulu terkenal adalah Pasar Terapung Kuin di Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di era hingga 1990-an pasar ini, sangat menarik bagi wisatawan luar. Bahkan, dulu di sekitar lokasi Pasar Terapung terdapat penginapan.

Kehadiran penginapan itu menangkap peluang bisnis di mana wisatawan yang ingin menikmati Pasar Terapung Kuin harus datang subuh hari. Jika menginap di pusat kota, Banjarmasin, bisa memakan waktu hingga 20 menit menuju Pasar Terapung Kuin. Kalau terlalu siang, konsekuensinya pasar tak ramai lagi karena hanya ada beberapa jukung yang hilir mudik.

Namun kini Pasar Terapung Kuin sepertinya hanya tinggal nama. Dermaga yang disediakan pemerintah pun sudah tak ramai lagi aktivitasnya.

Untuk menghidupkan pasar terapung, Pemerintah Kota Banjarmasin, diawali saat kepemimpinan Wali Kota Muhidin, menyediakan fasilitas untuk pedagang berjualan di Siring Tendean. Namun aktivitasnya hanya pada hari-hari tertentu, khususnya hari libur.

Kini yang kencang digaungkan adalah Pasar Terapung Lokbaintan. Seperti juga Pasar Terapung Kuin, di Lokbaintan ini sudah sangat lama keberadaannya. Merupakan aktivitas biasa dan keseharian masyarakat setempat dalam berdagang antar-warga dengan sistem barter.

Sebagaimana di Kuin dulu, Pasar Terapung Lokbaintan pun kini gencar dipromosikan dalam berbagai event wisata.

Namun, sebagaimana juga Kuin, serbuan modernisasi di Pasar Terapung bisa saja membuatnya kehilangan aura tradisional. Padahal nuansa pesona tradisional itulah diburu wisatawan.

Lihat saja Pasar Terapung ‘buatan’ yang balutannya penuh nuansa modernisasi, sepertinya belum teramat menarik bagi wisatawan luar, terutama mancanegara. Para turis masih mengharapkan pasar terapung orisinil yang mungkin pernah mereka lihat ‘Acil Oke’ di tayangan televisi swasta.

Mengemas pariwisata agar menarik memang perlu. Tapi perlu diingat, wisata yang memesona dan bernilai jual tinggi, biasanya adalah wisata tradisional yang masih orisinil. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved