Opini Publik

Menyoal Eksistensi PAUD

“Pendidikan merupakan senjata ampuh untuk mengubah dunia,” demikian kata Nelson Mandela. Pendidikan menentukan kualitas hidup manusia guna menyongsong

Menyoal Eksistensi PAUD
YABN
Program pendidikan Adaro menjangkau 84 sekolah PAUD, dengan menerapkan konsep Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK). 

OLEH: IKA MAYLASARI SST MSI, Fungsional Statistisi Madya BPS RI

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Pendidikan merupakan senjata ampuh untuk mengubah dunia,” demikian kata Nelson Mandela. Pendidikan menentukan kualitas hidup manusia guna menyongsong masa depan yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan teori modal manusia (human capital) tentang adanya linieritas tingkat pendidikan dengan produktivitas dan tingkat upah seseorang.

Sejatinya, pendidikan bagian dari lingkaran kehidupan manusia yang dirintis sejak manusia lahir untuk mengembangkan kemampuannya dalam berinteraksi. Masa ini diawali pada usia balita, dimana pertumbuhan otak anak sedang berkembang pesat yang mampu menyerap informasi dan merespon stimulasi baru dua kali lebih cepat dari orang dewasa. Inilah alasan para ahli menyebut usia balita masa golden age dalam daur kehidupan seorang anak.

Karenanya, dukungan positif perlu dilakukan dengan memberikan stimulasi terhadap perkembangan motorik mereka, khususnya usia 2-5 tahun, seperti mempelajari bakat baru, bahasa, mengontrol tangan dan jari, banyak bertanya, meluapkan perasaan, hingga keinginan berbagi serta bermain bersama teman, sebagaimana tertuang dalam publikasi keluaran UNICEF yang berjudul Early Childhood Development : The key to a full and productive life.

Selain keluarga, keberadaan pendidikan pra-sekolah atau lebih populer dikenal dengan sebutan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mampu menyediakan dukungan tersebut.

Sebagai tahap awal bagi anak dalam mengenal asyiknya dunia belajar, PAUD berperan penting dalam mengasah kemampuan anak, jasmani maupun rohani. Kegiatan ini dinikmati melalui proses bermain dan terarah oleh pendidik khusus yang tidak hanya mengerti dunia anak pada umumnya, tetapi juga memiliki kompetensi khusus. Keterlibatan anak pada program PAUD membentuk kesiapan mereka dalam melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Banjarmasin Post edisi Rabu (20/11/2019).
Banjarmasin Post edisi Rabu (20/11/2019). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Mengapa demikian? Karena proses pembelajaran di PAUD mengenalkan lima domain penting dalam perkembangan dan pembelajaran anak, seperti perkembangan fisik dan motoric, perkembangan emosi dan sosial; perkembangan Bahasa, kognisi dan pengetahuan umum, serta perasaan yang positif akan belajar, sebagaimana hasil identifikasi National Educational Goal Panel, lembaga pendidikan di Amerika (1997). Seluruh domain pembelajaran tersebut dapat diperoleh ketika anak mengikuti program PAUD. Selain itu, program PAUD dapat meminimalisasi terjadinya kasus drop out pada masa awal SD dan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Memaknai peringatan Hari Anak Sedunia 20 November, tidak berlebihan jika menengok kembali sudah sejauh mana implementasi hak-hak anak Indonesia dalam dunia pendidikan, khususnya PAUD.

Nyatanya, capaian indikator pendidikan pada jenjang PAUD di Indonesia tahun 2018 belum memuaskan. Hal ini diperlihatkan oleh Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD anak usia 3-6 tahun yang masih berkisar 37 persen.

Bayangkan saja, dari 10 orang anak usia tersebut, hanya 3 sampai 4 orang saja yang sedang mengikuti PAUD dan sejenisnya (Susenas, 2018). Bahkan, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, angka tersebut hanya bergerak naik sekitar 1 persen. Di tengah gencarnya program pemerintah untuk mewujudkan gerakan Satu Desa Satu PAUD, capaian ini dapat dikatakan relatif rendah.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved