Berita HSS

Warga Maabai dan Mantaih Desa Kamawakan Loksado, Kabupaten HSS, Menanti Jaringan Listrik PLN

Warga Maabai dan Mantaih di Desa Kamawakan Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan menanti jaringan listrik masuk ke permukiman mereka.

Warga Maabai dan Mantaih Desa Kamawakan Loksado, Kabupaten HSS, Menanti Jaringan Listrik PLN
HO/Dinas Kominfo HSS
Peresmian pengoperasian listrik Desa Haratai oleh PLN Unit Pelaksana Pelayanan pelanggan Kandangan beberapa waktu lalu 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Warga di dua dusun yaitu Maabai dan Mantaih di Desa Kamawakan Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan menanti jaringan listrik masuk ke permukiman mereka.

Puluhan tahun, warga setempat hidup dalam “kegelapan” dan beberapa tahun terakhir urunan membeli mesin genset, agar bisa menonton televisi dan  mengisi baterai (carger) telepon genggam.

Kepala Desa Kamawakan, kepada banjarmasinpost.co.id, Rabu (20/11/2019) menjelaskan, sebagai kepala desa, pihaknya sudah menyampaikan aspirasi warga tersebut, baik ke PLN Rayon Kandangan maupun langsung ke PLN wilayah Kalselteng di Banjarbaru.

“Proposal juga sudah kami sampaikan, menurut pihak PLN di Banjarbaru disampaikan melalui Kandangan saja, sudah kami lakukan juga,”ungkap Ardani.

Menurut Ardani, sebagai Kades, dirinya sering di desak masyarakat kedua dusun tersebut, meski sudah dijelaskan kepada mereka bahwa sebagai kades dia hanya bisa memperjuangkan, sambil menunggu kebijakan PLN Kalselteng merealisasikan impian masyarakat tersebut.

Diundang Maulid di Gang Syahdan Kandangan, Bupati HSS, Kenang Masa SMA dan Sejarah Gang

Penjual Kartu Perdana Sudah Teregistrasi di Banjarmasin Dijerat UU ITE, Ancaman 12 Tahun Penjara

BREAKING NEWS : Polda Kalsel Bongkar Peredaran Kartu Perdana Sudah Teregistrasi, 2 Orang Diamankan

Namun warga tak juga mengerti. Bahkan, jelas Kades warga mendesak agar menggunakan dana desa untuk membeli kabel dan memasang sendiri kabel tersebut, agar listrik bisa dialirkan ke permukiman mereka.

“Saya sudah jelaskan, tak boleh asal sambung, jika tak izin PLN. Mereka minta saya terus mendesak PLN memenuhi kebutuhan listrik. Mereka siap gotong royong membawakan tiang listriknya jika dibutuhkan,”ungkap Ardani.

Selama ini warga Maabai dan Mantaih urunan membeli bahan bakar bensin, untuk menghidupkan genset. Karena bahan bakar jenis bensin di eceran mahal dan sulit membeli di SPBU dengan harga subsidi karena selalu keburu habis, genset pun kata Kades rata rata hanya bisa dihidupkan maksimal tiga jam.

“Biasanya dinyalakan, pukul 20.00 sampai 22.00 wita, atau bisa pula sampai pukul 00.00 wita jika bensin masih ada,”ungkap Ardani.

Sedangkan untuk lampu minyak, warga juga sulit membeli minyak tanah, karena bahan bakar tersebut sudah langka dan makin mahal. Selain penerangan dan nonton televisi, warga butuh listrik juga untuk mengeces telepon genggam. Sebab, jaringan seluler sudah masuk ke dusun terpencil tersebut.

Halaman
12
Penulis: Hanani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved