Fikrah

Hakekat Berselawat

SHALAWAT jamak dari shalah, (doa dan memohon berkah). ”Selawat orang mukmin, doa mereka untuk Nabi SAW, selawat malaikat permohonan ampun

Net
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin
BANJARMASINPOST.CO.ID - SHALAWAT jamak dari shalah, (doa dan memohon berkah). ”Selawat orang mukmin, doa mereka untuk Nabi SAW, selawat malaikat permohonan ampun mereka untuk Nabi SAW, selawat Allah SWT rahmat dan sanjungan-Nya di sisi malaikat-Nya. (Lisanul-Arab, 14/hal 164).

Perintah berselawat luar biasa, sebelum memerintahkan umat berselawat dan bersalam, Allah SAW dan para malaikat-Nya telah berselawat: innallaha wa malaaikatahuu yushaluuna alan-nabiy, yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu alaihi wasallimuu tasliima. (QS 33/56).

Ka’ab bertanya, “Wahai Rasul, kami tahu bersalam kepadamu, bagaimana berselawat? Rasul menjawab, Ucapkan Allaahumma shalli ala Muhammad. Beragam selawat dibenarkan, wa ahsinuush-shalaata alaaa nabiyyikum, fa innakum laa tadruuna la’alla dzaalika tu’radhu alaihi, “Perindahlah selawat untuk Nabi-mu, karena kamu tidak tahu, selawat kamu itu disampaikan kepadanya. (HR Ibnu Majah). Albakhiilu man dzukirtu ‘indahu falam yushalli alayya, orang kikir adalah orang yang tidak berselawat untukku bila disebut namaku di hadapannya. (HR.Tirmizdi).

Ibnu Hajar Al-Haitami, Syamsuddin Ramli dan Izzuddin bin Abdussalam, menambahkan kata “sayyidinaa” mendahulukan kesopanan terhadap Nabi SAW. Ibnu Hajar Al-Asqalani mendahulukan perintah sehingga dalam berselawat tanpa “sayyidina.”

Ada ulama yang mengambil jalan tengah; dalam salat tanpa siyadah (sayyidina) untuk memelihara keaslian ungkapan ”assalaamu alaika ayyuhannbiyy warahmatullahi wabarakatuh, selamat sejahtera, rahmat Allah dan berkah-Nya, teruntuk bagi-mu wahai Nabi.

Inilah waktu berselawat yang paling tinggi derajatnya, ungkapan ini datang dari Allah SWT sendiri pada waktu Nabi SAW jatuh tersungkur di hadirat Allah SWT dalam mikraj attahiyyaatul-mubaarakaatush-salawaatuth-thayyibaatu lillah, penghormatan penuh berkah dan selawat paling indah hanya untuk-Mu wahai Allah.

”Allah SWT menjawab, Assalaamu alaika ayyuhanabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh, kesejahteraan, rahmat Allah dan berkah-Nya bagimu wahai Nabi.” Nabi SAW menyahut, Assalaamu alainaa wa ‘alaa ibaadillahishashalihin, semua itu untuk kami semua dan untuk para hamba-Mu yang saleh.”.

Sahabat bertanya, Wakaifa tu’radhu shalaatunaa alaika, waqad aramta, bagaimana selawat kami bisa sampai kepadamu, bukankah jasad-mu telah hancur, Beliau menjawab, Innallaha harrama alal-ardi ajsaadal-anbiyaai, sesungguhnya Allah SWT mengharamkan bumi memakan jasad para Nabi. (HR Abu Daud). Inna lillaahi malaa’ikatan sayyaahiina fil-ardhi yuballiguunaniyassalaam min ummati, sesungguhnya Allah SWT memiliki para malaikat yang berkelana di bumi untuk menyampaikan salam umatku kepada-ku. (Al-Jami al-Ahkam, juz 14/237).

Nabi SAW berjanji menjawab selawat umat yang disampaikan kepadanya, maa min ahadin yushalli alayya illaa raddallaahu ‘alayya ruuhii hataa arudda alaihi, tidah seseorangpun berselawat kepadaku, melainkan Allah kembalikan ruhku sehingga aku dapat menjawab selawat tersebut. (HR Abu Daud).

Selawat untuk Nabi SAW adalah amal ibadah yang tidak pernah tertolak, uridhat alayya a’amaalu ummatii, fawajadtu mihal-maqqbuula wal-marduuda, illash-sahalaatu alayya, diperlihatkan kepada-ku amal-amal umatku, aku temukan ada yang diterima dan ada yang tertolak, kecuali selawat kepada-ku.. Man shalla alaiyya shalaatan shallallahu alaihi asyran, siapa yang berselawat kepadaku satu kali, Allah SWT berselawat untuknya sepuluh kali. (HR Muslim).

Nabi SAW bersabda pula, Man shalla alayya fii kitaabin lam tazalil-malaa’ikatu yushalluuna alaihi maa daama ismii fii dzalikal-kitaabi. siapa yang berselawat kepada-ku lewat tulisan di sebuah buku, para malaikat selalu berselawat kepadanya selama namaku tertulis di buku itu. (Al-Qurthubi, Al-Jami li Ahkam Al-Quran, juz 14/hal.235).

Imam Asy-sydzali bercerita bermimpi melihat Nabi SAW. Ini mimpi yang benar karena beliau bersabda: Man ra’aani fil-manaami faqad ra’aanii fa-innasyaithaana laa yatamast-stalu bii, Siapa yang melihat aku dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku karena setan tidak bisa menyerupai aku. (HR, Bukhari-Muslim), dalam mimpi itu beliau bertanya, selawat Allah sepuluh kali bagi seseorang yang berselawat satu kali, apakah bagi orang yang hadir hatinya? Nabi SAW menjawab, tidak, bahkan bagi siapapun kendati hatinya lalai, Allah SWT tetap menyuruh sekelompok malaikat mendoakan dan memohonkan ampun untuknya kendati hatinya lalai. Jika demikian, tidak seorangpun yang tahu berapa ganjaran seseorang yang berselawat dengan hati yang jaga, kecuali Allah SWT (Mukhtashar fii ma’aani Asma Allah Alhusna, hal 131)

Apabila seorang mukmin berselawat tidak cukup hanya mengucapkan allaahumma shalli alaa muhammad, tetapi hakikatnya ia harus ta’zhimuhu fid-dun-ya bi’i’alaa-i dzikrihi, wa iizh-haari diinihi, wa ibqaa’i syari’atihi, wafil-aakhirati bi-ijzaali matsuubatihi, wa tasyfii’ihi fii ummatihi, wa ibdaa’i fadhiilatihi bil-maqaamil-mahmuudi.

Maksudnya di dunia hendaklah ia meninggikan Nabi Muhammad SAW dengan menyebut-nyebut namanya, mengamalkan agamanya dan membela syari’atnya, dan berdoa agar kepada Nabi SAW di akhirat diizinkan memberikan syafa’at untuk umatnya, dianugerahkan ganjaran sesuai perjuangannya, dan ditempatkan di tempat terpuji. (Al-Futuuhat Ar-Rabbaniyyah juz 3/hal301) . (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved