Tajuk

Trending #GanyangMalaysia

Laga kualifikasi Piala Dunia 2022 antara Timnas Malaysia menjamu Indonesia pada 19 November lalu, masih berbuntut

Trending #GanyangMalaysia
facebook.com/pg/theafcdotcom
Suporter Indonesia mendukung perjuangan timnas U-16 Indonesia saat bersua timnas U-16 Vietnam pada laga kedua Grup C Piala AFC U-19 2018 atau Piala Asia U-16 2018 di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, 24 September 2018. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Laga kualifikasi Piala Dunia 2022 antara Timnas Malaysia menjamu Indonesia pada 19 November lalu, masih berbuntut. Kisruh di dalam stadion dan di luar stadion, mengaduk-aduk perasaan supporter tanah air dan rakyat Indonesia.

Kemarin (22/11), tagar #GanyangMalaysia menjadi trending di twitter. Disertai hujatan atas perlakuan tidak manusiawi itu.

Keriuhan jagad maya itu merembet ke ‘alam nyata’. PSSI memastikan telah mengajukan protes dan laporan ke FIFA terhadap insiden itu. Ketua MPR Bambang Soesatyo pun angkat bicara. Ia mendukung penuh nota protes yang diajukan KBRI di Kuala Lumpur terhadap Kementerian Luar Negeri Malaysia.

Pihak istana pun, sebagaimana disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, segera mengambil langkah untuk berkomunikasi dengan Malaysia.

Sayangnya, riuh di jagad maya serta desakan dari Indonesia hanya ditanggapi dingin Negeri Jiran itu. Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, Menteri Pemuda dan Olahraga, dalam unggahan video di akun twitternya, malah menyebut insiden itu hoaks, kabar bohong, tidak betul dan sebagainya-dan sebagainya.

Dari raut muka dan pernyataan verbalnya, tidak ada nada penyesalan, duka, empati dari seorang Syed atas insiden yang dialami supporter Timnas, warga negara Indonesia.

Padahal, saat ada insiden antar-suporter di Stadion Utama Gelora Bung Karno, saat leg pertama laga Indonesia vs Malaysia (5/9), Syed secara lantang meminta agar Indonesia meminta maaf. Seraya berkhutbah soal arti penting persahabatan bagi kedua negara.

Dan tidak perlu lama. Sehari setelah pertandingan (6/9), Menpora kala itu, Imam Nahrawi, pun meminta maaf dengan mendatangi langsung ke tempat Syed menginap, di Hotel Fairmount Senayan, Jakarta.

Ketika Indonesia memeluk Malaysia di Fairmount, kita sebagai bangsa sama sekali tidak merasa rendah apalagi merasa direndahkan. Sebab, permintaan maaf itu muncul dari kebesaran hati bangsa Indonesia yang memang besar.

Sebagai bangsa besar yang tidak pongah, Indonesia memang punya ajaran untuk bersikap kesatria. Yakni, mengakui kesalahan dan meminta maaf bila memang salah. Dan tentu akan berjuang hingga titik darah penghabisan, bila memang kita benar dan dilecehkan bangsa lain.

Tidak susah kan untuk minta maaf? Kecuali mereka yang terlahir pongah. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved