Tajuk

Janji Nadiem

TIAP 25 November, Indonesia memeringati Hari Guru Nasional. Ada yang menarik pada Hari Guru tahun ini. “Bapak Guru Indonesia” Nadiem Makarim

Janji Nadiem
KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim saat pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dan melantik menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - TIAP 25 November, Indonesia memeringati Hari Guru Nasional. Ada yang menarik pada Hari Guru tahun ini. “Bapak Guru Indonesia” Nadiem Makarim menjadi viral di media sosial karena “bocornya” teks pidato atau sambutan yang akan dibacakan sang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu pada peringatan Hari Guru pada Senin ini.

Dalam teks pidato tersebut, Nadiem menegaskan tidak akan membuat janji kosong kepada para guru. Dia menegaskan, perubahan memang hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Akan tetapi Nadiem berjanji akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia.

Harapan besar langsung bergaung saat Nadiem dipilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Mendikbud. Meski tidak berlatar ahli pendidikan dan birokrat, masyarakat yang terpesona oleh sosok dan jejak rekam Nadiem, meyakini ia mampu membikin terobosan baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan di era digital.

Nadiem yang baru berusia 35 tahun dan penyandang gelar Master Business of Administration (MBA) dari Harvard University ini adalah pendiri salah satu Unicorn terbesar di Indonesia saat ini, Go-Jek. Dan, seakan menjawab “tantangan” dari Jokowi dan masyarakat, Nadiem pun menyatakan akan membuat perubahan sistem belajar berbasis aplikasi. Ini merupakan ide besar menghadapi revolusi 4.0 di bidang pendidikan.

Apresiasi positif pantas diberikan. Namun, diharapkan Nadiem tidak hanya terfokus pada hal tersebut. Yang tidak kalah penting dalam upaya membangun pendidikan nasional adalah terwujudnya pemerataan pendidikan bagi seluruh wilayah. Ini tantangan sangat berat.

Secara nasional, pendidikan kita masih jauh tertinggal dari negara maju. Bahkan Profesor Lant Pritchett dari Harvard University pernah mengatakan pendidikan di Indonesia setidaknya membutuhkan waktu 128 tahun untuk menyamakan diri dengan pendidikan di negara-negara maju. Ironis memang, tapi itulah kondisi yang ada.

Tak hanya kesenjangan kualitas dan terpenuhinya sarana prasarana pendidikan di berbagai daerah, Nadiem juga memiliki PR (pekerjaan rumah) besar yakni peningkatan kompetensi guru. Betapa tidak, hasil uji kompetensi guru (UKG) secara nasional hanya mendapat nilai rata-rata 53 dari nilai 100.

Diharapkan di era Nadiem, ketimpangan penyebaran guru dapat dikurangi apabila memang sulit dihilangkan dalam waktu lima tahun. Kesejahteraan para guru yang rela mengabdi di kawasan pedalaman juga harus ditingkatkan karena sejatinya merekalah para guru yang tulus.

Tantangan berat dan harapan besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia kini ada di pundak Nadiem. Berdasar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020, dia memiliki modal anggaran sekitar 500 triliun rupiah yang bisa dimanfaatkan untuk mengimplementasikan strateginya.

Semoga strategi didukung anggaran besar itu bisa mendongkrak kualitas pendidikan yang merata dan meningkatkan kompetensi guru. Ide, pemikiran, terobosan dan dobrakan yang dilakukan Nadiem sebelum menjadi Mendikbud sangat luar biasa. Semoga dia mampu melakukan hal yang sama untuk memajukan dunia pendidikan kita. Bukan mudah menyerah dan umbar janji. Selamat Hari Guru Nasional. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved