Berita Banjarmasin

H Bono Kecewa Mendengar Penawaran Ganti Rugi Pembebasan Lahan di Jalan Pasar Pagi Banjarmasin

Belasan pedagang di kawasan Jalan Pasar Pagi Kelurahan Muara Kelayan Kecamatan Banjarmasin Tengah Kalsel, Rabu (27/11/2019) mendatangi Balai Kota.

H Bono Kecewa Mendengar Penawaran Ganti Rugi Pembebasan Lahan di Jalan Pasar Pagi Banjarmasin
banjarmasinpost.co.id/achmad rizky abdul gani
Jejeran bangunan pedagang beras di Jalan Pasar Pagi Kelurahan Muara Kelayan Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalsel. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Belasan pedagang di kawasan Jalan Pasar Pagi Kelurahan Muara Kelayan Kecamatan Banjarmasin Tengah Kalsel, Rabu (27/11/2019) siang tadi mendatangi Balai Kota Banjarmasin.

Menuju lantai dua ruang integrasi Pemko Banjarmasin, adapun kedatangannya tersebut guna mengikuti pertemuan bersama Dinas Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman, perwakilan Disperindag dan Wakil Wali kota Banjarmasin.

Meski digelar tertutup kepada awak media, namun rapat yang santer beredar di antaranya membahas terkait sosialisasi nominal ganti rugi atas rencana pembebasan lahan itu, sempat membuat beberapa pedagang keluar dengan wajah kekecewaan.

Satu diantaranya H Bono, yang mengaku meski sudah mendukung atas wacana pemerintah ingin melaksanakan pembangunan siring di sepanjang Jalan Pasar Pagi, namun dukungannya tersebut justru bertepuk sebelah tangan.

BREAKING NEWS : Terdengar Suara Ledakan di Landasan Ulin Banjarbaru, Warga Mengira Gempa

Ini Penjelasan Kabid Humas Polda Kalsel Soal Suara Ledakan Keras di Lianganggang & Landasan Ulin

Suara Ledakan di Landasan Ulin, Kaca Mesjid di Handil Kandangan Kabupaten Banjar Sampai Pecah

Pasalnya, tambah Bono lagi rencana ganti rugi pemerintah atas bangunan yang ia miliki dengan beberapa warga lain demi memuluskan pembangunan Siring di sepanjang Jalan Pasar Pagi tersebut, tidak sesuai dengan harga pasar.

Pemerintah Kota malah memukul rata atau menilai sama ganti rugi semua bangunan di sepanjang Jalan Pasar Pagi tanpa memperhatikan dokumen surat-menyurat tanah.

" Masa disamakan, antara (kepemilikan, red) segel, sertifikat dan hak guna bangunan, hanya lantaran alasan prona? Sedangkan kami saja sejak 1972 di sana," ujarnya.

Tidak hanya itu, bila dibandingkan dengan kepemilikan surat keterangan status tanah Bono juga mengaku pihaknya justru mengantongi sertifikat. Sehingga dengan itu sangat wajar jika ia berharap asetnya yang akan digunakan demi pembangunan Siring tersebut, bisa mendapatkan ganti rugi sesuai harga pasar.

" Kalau ini kami justru dipukul rata, hanya dapat ganti rugi Rp 2.850.000 permeter. Sedangkan harga pasaran tanah di sana sekarang sudah mencapai Rp 5 jutaan lebih," jelasnya.

Tidak hanya Bono, kekecewaan serupa juga diungkapkan seorang pria berkopiah putih, Bawaihi. Namun menurutnya dengan mendengar penawaran tersebut, ia cenderung memilih sedikit pasrah.

Persiapan Haul ke-15 Guru Sekumpul Rekayasa Lintas Dipetakan hingga ke Kaltim, RPH Pun Digratiskan

Tuak Puluhan Liter Diamankan Satpol PP Banjarbaru di Guntung Manggis, Penjual Berhasil Kabur

Karena bila pun harus menolak dan menempuh ranah perdata ke meja hijau, tentu selain akan membutuhkan biaya lagi, juga kemungkinan peluang menang yang kecil.

" Iya meskipun sebetulnya dengan ganti rugi tersebut, saya sendiri masih keberatan. Karena harga pasaran tanah sendiri di sana, sekarang sudah mencapai kisaran Rp 5 juta. Kan tentu kecil sekali bila hanya ganti rugi kisaran 2,8 Juta permeternya," ujarnya. (Banjarmasinpost.co.id/ahmad rizky abdul gani)

Penulis: Ahmad Rizky Abdul Gani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved