Tajuk

Waspada Ajaran Sesat

WARGA Hulu Sungai Tengah (HST) khususnya Desa Bandang, Kecamatan Batubenawa, dihebohkan oleh adanya ajaran yang dinilai Majelis Ulama Indonesia

Waspada Ajaran Sesat
banjarmasinpost.co.id/eka pertiwi
Kediaman Nasrudin Desa Bandang Aluan Kecamatan Batu Benawa Kabupaten HST 

BANJARMASINPOST.CO.ID - WARGA Hulu Sungai Tengah (HST) khususnya Desa Bandang, Kecamatan Batubenawa, dihebohkan oleh adanya ajaran yang dinilai Majelis Ulama Indonesia (MUI) sesat dan telah berkembang di desa yang terletak tak terlalu jauh dari ibukota HST, yakni Kota Barabai.

Ironisnya beberapa warga menjadi pengikut Nasrudin, pelaku pembawa ajaran yang sangat menyimpang dari ajaran agama Islam itu. Bahkan ada warga yang telah berbulan-bulan menjadi murid Nasrudin.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) HST pun geram dengan ulah Nasrudin. Apalagi lelaki yang sebelumnya berproesi sebagai tukang mebel itu sudah dua kali ditegur oleh MUI terkait ajarannnya yang menyimpang tersebut.

Beberapa ajaran Nasrudin yang menurut MUI menyimpang, yakni Nasrudin mengaku pernah kedatangan wahyu dan malaikat jibril, serta mengaku sebagai orang yang diutus oleh Allah.

Syahadat pun diubah, jadi dia mengaku nabi. Nasrudin pun kini harus berhadapan dengan hukum. MUI HST yang sangat geram dengan ulah Nasrudin itu melapor ke aparat kepolisian dengan tuduhan telah melakukan penistaan terhadap agama Islam.

Seringnya muncul ajaran yang menyimpang sebagai bukti kontrol kita terhadap suatu ajaran yang diduga sesat masih lemah, baik kontrol dari masyarakat, aparat penegak hukum maupun aparatur pemerintah. Memang harus diakui psikologi masyarakat kita masih sangat mudah dimainkan, terutama masyarakat yang tinggal di perdesaan dan jauh dari informasi yang berbasis teknologi.

Banjarmasin Post edisi Sabtu (30/11/2019).
Banjarmasin Post edisi Sabtu (30/11/2019). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Penyebar ajaran menyimpang biasanya menyasar desa-desa dan masyarakat yang dianggap berpendidikan rendah dan minim pengetahuan tentang agama, sehingga lebih mudah diberikan doktrin sesuai kehendak penyebar ajaran itu. Di sinilah sebenarnya peran pemerintah, aparat kedamanan dan MUI atau organisasi keagamaan untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap daerah yang dianggap rawan dimasuki pihak pembawa ajaran menyimpang.

Harus sejak dini dilakukan pemetaan kawasan-kawasan yang dianggap rawan tersebut dan melakukan tindakan secepat mungkin, jika ditemukan ajaran yang dianggap menyimpang dari jaran agama. Perlunya tindakan cepat itu, sebab ajaran-ajaran menyimpang jika terus berkembang tidak menutup kemungkinan menimbulkan konflik yang bisa jadi akan berujung dan pertikaian horisontal.

Tentu kita semua tak menginginkan itu terjadi, sebab penyelesaiannya akan lebih rumit. Jadi lebih baik mencegah daripada mengobati. Langkah lain yang juga sangat penting dilakukan pendekatan ilmu keagamaan terutama kawasan yang dianggap rawan. Tujuannya, untuk membentengi akidah warga, agar tidak mudah terbuai ajaran yang menyimpang. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved