Ekonomi dan Bisnis

Lagi-lagi Ikan Gabus Picu Inflasi di Banjarmasin, BPS Kalsel Catat Segini Inflasi Kota Banjarmasin

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan mencatat terjadinya inflasi 0,23 persen di Kalimantan Selatan pada November 2019

Lagi-lagi Ikan Gabus Picu Inflasi di Banjarmasin, BPS Kalsel Catat Segini Inflasi Kota Banjarmasin
banjarmasinpost.co.id/ibrahim ashabirin
Ikan haruan atau ikan gabus ini berukuran kecil yang didapat di Kabupaten Tapin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan mencatat terjadinya inflasi 0,23 persen di Kalimantan Selatan pada November 2019. Sedangkan Kota Banjarmasin mengalami inflasi 0,17 persen, dan Kota Tanjung yang mengalami inflasi sebesar 0,97 persen.

Hal ini disampaikan Kepala BPS Kalsel, Diah Utami saat menyampaikan rilis resmi di Kantor BPS Kalsel Jalan Trikora, Banjarbaru, Senin (2/12). Diah menyampaikan, di Banjarmasin tercatat laju inflasi kalender tahun 2019 (November 2019 terhadap Desember 2018) sebesar 3,56 persen dan laju inflasi “year on year” 4,28 persen.

“Adapun komoditas yang mengalami kenaikan harga dengan andil inflasi tertinggi di Kota Banjarmasin antara lain ikan gabus, daging ayam ras, ikan nila, telur ayam ras, dan bawang merah,” paparnya.

Ke Toko Emas, Benda Dekat Ibunda Ayu Ting Ting Ini Jadi Sorotan, Mirip Milik Mertua Raffi Ahmad?

Ikan gabus memang cukup sering muncul menjadi penyebab inflasi di Banjarmasin. Hal ini lantaran permintaan komoditas pangan ini cukup tinggi, karena mengikuti kebiasaan masyarakat Banua yang sangat suka mengonsumsi jenis ikan air tawar ini. Ikan ini kerap dijadikan lauk untuk nasi kuning, ketupat kandangan atau bahan pembuat camilan seperti amplang dan abon ikan haruan yang menjadi oleh-oleh favorit wisatawan saat berkunjung ke Banjarmasin.

Sedangkan di Kota Tanjung, laju inflasi kalender Tahun 2019 terjadi inflasi sebesar 2,10 persen dan laju inflasi “year on year” adalah 2,79 persen. Komoditas yang mengalami kenaikan harga dengan andil inflasi tertinggi di Kota Tanjung antara lain daging ayam ras, ikan gabus, jagung manis, bawang merah, dan tomat sayur.

BERLANGSUNG! Link Tira Persikabo vs Barito Putera via Live Streaming UseeTV & TV Online Vidio.com

Dari 82 kota yang menghitung indeks harga konsumen, tercatat 57 kota mengalami inflasi, 25 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Kota Manado sebesar 3,30 persen, dan terendah di Kota Malang sebesar 0,01 persen. Kota yang mengalami deflasi tertinggi di Tanjung Pandan sebesar 1,06 persen dan deflasi terendah kota Batam sebesar 0,01
persen.

Ditambahkan Diah, perkembangan IHK menurut kelompok pengeluaran pada November 2019 di Kota Banjarmasin terjadi inflasi sebesar 0,17 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 139,11 pada Oktober 2019 menjadi 139,35 pada November 2019.

Inflasi di Banjarmasin ini terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan sebesar 1,25 persen. Selain itu kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar 0,01 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 0,41 persen, kelompok sandang sebesar 0,22 persen.

Terminal Baru Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin Dubuka 10 Desember, Ini Jalur Baru Menuju Bandara

Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan yaitu kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,08 persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,65 persen. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga dengan andil inflasi tertinggi di Kota Banjarmasin antara lain ikan gabus, daging ayam ras, ikan nila, telur ayam ras, bawang merah. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga dengan andil deflasi tertinggi antara lain angkutan udara, ikan kembung, udang basah, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga.

Di Kota Tanjung, November 2019 terjadi inflasi 0,97 persen atau terjadi kenaikan IHK dari 135,42 pada Oktober 2019 menjadi 136,73 pada November 2019.

Inflasi di Kota Tanjung November 2019 terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan sebesar 3,15 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,28 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,36 persen, kelompok sandang sebesar 0,20 persen, dan kelompok kesehatan sebesar 0,14 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan yaitu kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 0,01 persen. (banjarmasinpost.co.id/nda)

Penulis: Anjar Wulandari
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved