Tajuk

Bukan untuk Di-bully

TAHUN 2016 lalu anggota DPR telah mengesahkan UU Nomor 8 tentang Penyandang Disabilitas. Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan penyandang

Bukan untuk Di-bully
pemkab banjar
Remaja penyandang disabilitas asal Desa Pingaran Ulu, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, ini menerima bantuan kursi roda dari Pemerintah Desa setempat. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - TAHUN 2016 lalu anggota DPR telah mengesahkan UU Nomor 8 tentang Penyandang Disabilitas. Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Harapan dari kehadiran UU ini adalah pemerintah, swasta dan masyarakat bisa memberikan hak yang lebih baik bagi penyandang disabilitas di republik ini. Hal itu mulai dari hak untuk hidup, hak mendapatkan pekerjaan, hak pendidikan, hak mendapatkan kemudahan mengakses fasilitas umum.

Ada beberapa pertanyaan terkait para penyandangan disabilitas. Apakah para penyandang disabilitas sudah mendapatkan haknya? Apakah para penyandang disabilitas sudah mendapatkan kesempatan mendapat pekerjaan, baik formal maupun informal? Apakah para penyandang disabilitas sudah mendapat kesempatan mendapat pendidikan? Apakah para penyandang disabilitas sudah bisa mengakses fasilitas umum?

Tidak mudah menjawab pertanyaan itu. Namun dari fakta di lapangan, kita akan menemukan jawabannya. Pada fasilitas umum, perhatian terhadap penyandang disabilitas ini belum optimal. Bukti yang paling gampang terlihat adalah masih banyak trotoar yang tidak ada jalur khusus (guide block) berwarna kuning, masih sedikit toilet khusus bagi penyandang disabiltas.

Dalam lapangan pekerjaan, masih banyak penyandangan disabilitas yang tidak terserap, baik di pemerintahan maupun di swasta. Di bidang pendidikan masih terjadi diskriminasi. Hingga sekarang masih ada sekolah yang masih mensyaratkan berbadan sehat, yakni tidak tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, buta warna sebagian, dan buta warna keseluruhan maupun sebagian, dalam penerimaan siswa baru.

Di tengah-tengah masyarakat juga masih terjadi pem-bully–an terhadap penyandangan disabilitas. Ini terjadi karena masyarakat masih kurang mendapat edukasi terkait disabilitas. Sasaran dari bully ini biasanya anak-anak disabilitas.

Karena ini masih dalam suasana Hari Disabilitas Internasional (Tanggal 3 Desember dinobatkan sebagai Hari Disabilitas Internasional), kita semua harus mengangkat derajat hidup para penyandang disabilitas.

Kita harus menghentikan perbuatan tidak manusiawi terhadap mereka. Kita harus sadar bahwa penyandang disabilitas bukan untuk didiskriminasi. Penyandang disabilitas bukan untuk di-bully. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved