PT Adaro Indonesia

Sudah Rekomendasikan 50 ABK ke Sekolah Umum

Seorang terapis ABK (anak berkebutuhan khusus) perlu memahami bahwa setiap diri kita pasti mempunyai permasalahan, sehingga kita harus datang

PT Adaro Indonesia
Ghea Amalia Arpandy, seorang Psikolog asal Banjarmasin bersama Tenaga Pengajar Taman Mutiara Indonesia (TMI), Minggu (1/12) di Ruang Meeting Kantor Yayasan Adaro Bangun Negeri, Tanjung, Tabalong. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG Seorang terapis ABK (anak berkebutuhan khusus) perlu memahami bahwa setiap diri kita pasti mempunyai permasalahan, sehingga kita harus datang dengan diri yang siap untuk menghadapi si anak yang berkebutuhan khusus tersebut.

Inilah poin yang disampaikan Ghea Amalia Arpandy, seorang Psikolog asal Banjarmasin, saat menyampaikan kiat-kiat yang harus dimiliki seorang Terapis ABK pada kegiatan Refreshment Tenaga Pengajar Taman Mutiara Indonesia (TMI), Minggu (1/12) di Ruang Meeting Kantor Yayasan Adaro Bangun Negeri, Tanjung, Kabupaten Tabalong.

Kegiatan yang diinisasi oleh CSR Department PT Adaro Indonesia ini dihadiri oleh 9 orang terapis dari TMI, serta Slamet Purwanto selaku Ketua Yayasan sekaligus pendiri TMI.

“Kegiatan ini untuk menyegarkan kembali cara penanganan yang seharusnya dilakukan seorang terapis saat menerapi ABK,” jelas Ghea saat memulai materinya.

Dalam materinya, Ghea yang telah mengambil Sertifikasi Neuopsikologi di San Diego, USA ini memaparkan bahwa hal yang perlu diperdalam bagi para terapis adalah bagaimana cara melihat suatu masalah atau gejala dari seorang anak ABK. Sumber permasalahannya bisa saja berbeda-beda, tergantung kondisi sertiap anak.

“Contohnya untuk masalah konsentrasi kita perlu melihat masalahnya, karena terlalu sensitif terhadap lingkungan sehingga hal kecil membuatnya kurang fokus atau sulit mempertahankan atensi,” papar Ghea yang selain memiliki Pusat Layanan Psikologi Klinis Kapita di Banjarmasin juga seorang pengajar di Universitas Muhammadiyah Banjarmasin.

Ghea juga menghimbau agar TMI sebaiknya perlu melibatkan dokter dan psikolog untuk melihat arah perkembangan ABK sehingga terapi yang dilakukan sesuai dengan tujuan.

TMI adalah Pusat Layanan ABK yang sudah beraktivitas sejak 2011 di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan. Pasien ABK yang tercatat tidak hanya berasal wilayah Tabalong saja, namun juga ada yang berasal dari Barabai, Kandangan, Paringin, bahkan dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Hingga saat ini TMI telah merekomendasikan tidak kurang dari 50 ABK untuk bisa bersekolah di sekolah umum. Bahkan tidak sedikit di antaranya yang mampu berprestasi, baik itu prestasi akademik maupun non akademik.

Adapun metode terapi yang dilakukan TMI adalah metode ABA untuk meningkatkan kepatuhan dan komunikasi serta metode floortime untuk meningkatkan kekuatan, keseimbangan, melatih gerakan dan motorik pada anak.

Selain itu TMI juga menerapkan SOP proses awal belajar mengajar dengan menerapkan tuntunan dalam agama Islam, seperti memulainya dengan berwudhu, bacaan doa-doa dan bacaan surah-surat dalam kitab suci Al Quran.

“Refreshment ini sangat bagus bagi kami untuk mendapatkan ilmu dan pemahaman baru saat menangani ABK,” tutur Slamet di penghujung kegiatan.

Slamet berharap setelah refreshment ini tim terapisnya lebih mampu mengenali kondisi ABK dengan berbagai macam kondisi.

“Target kami dalam 2 tahun ke depan adalah pemenuhan tenaga terapis profesional, serta perluasan tempat terapi yang sudah melebihi kapasitas agar pelayanan kami bisa lebih maksimal,” pungkas Slamet.(AOL/*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved