BPost Cetak

Kisah Pembawa Rakit Bambu dari HSS ke Banjarmasin, M Noor Arungi Sungai Empat Hari Tiga Malam

Mereka menghanyutkan ribuan batang bambu dari hulu Sungai Amandit ke hilir Sungai Barito menuju Banjarmasin untuk dijual

Kisah Pembawa Rakit Bambu dari HSS ke Banjarmasin, M Noor Arungi Sungai Empat Hari Tiga Malam
BPost Cetak
BPost Edisi Sabtu (7/12/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Pernah dengar lagu berbahasa Banjar berjudul Pambatangan? Lagu tersebut juga menggambarkan aktivitas warga Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), yang memilir rakit bambu secara bergandengan.

Mereka menghanyutkan ribuan batang bambu dari hulu Sungai Amandit ke hilir Sungai Barito menuju Banjarmasin untuk dijual. Para palantingan (istilah bagi mereka yang sering membawa rakit bambu) tersebut masih eksis mempertahankan jalur sungai sebagai sarana transportasi.

HSS terutama Kecamatan Padang Batung dan Loksado memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil bambu. Potensi bambu dijadikan warga sebagai sumber mata pencaharian, selain berladang dan berkebun.

Dari Padang Batung dan Loksado, bambu dibawa dari hulu Sungai Amandit ke hilir sungai yaitu Desa Palantinga Kelurahan Kandangan Hulu. Jarak tempuhnya satu hari satu malam, saat kondisi air surut. Sedangkan jika air dalam, bisa lebih cepat yakni 10 jam.

Kalah 0-3 dari Semen Padang, Barito Putera Belum Lolos dari Degradasi

Si Palui: Ilmu Bahari

Pelaku Perampokan Dibekuk, Karyawan Alfamart Ungkap Perasaan Tak Enak Pasca Kejadian

Jadi Destinasi Wisata Air, Pulau Bromo Akan Dibangun Rumah Lanting, Desain Dibantu ULM

Sesampainya di Palantingan, rakit bambu disambut pembeli pengumpul. Selanjutnya, bambu dijual ke Banjarmasin.

Dua di antara palantingan adalah M Noor dan Mahli. Mereka berdagang bambu sebagai mata pencaharian utama.

Rata-rata dalam satu minggu, masing-masing membawa sedikitnya 3.000 batang bambu yang sudah dijadikan rakit. Start dari Desa Pisangan Getek, mereka mengarungi sungai dan melewati sejumlah kabupaten di Kalsel yang menjadi jalur lintasan air.

“Labuh ke Banjarmasin biasanya pukul 08.00 Wita. Diperlukan waktu empat hari tiga malam, baru sampai di dermaga Jembatan Dewi (Jembatan A Yani) Banjarmasin,”ungkap Mahli, yang sudah 25 tahun menjadi palantingan, kepada BPost.

Biasanya, para pedagang bambu berangkat berombongan sehingga dalam perjalanan bisa saling membantu jika ada kendala.

Rakit berisi ribuan batang bambu tersebut ditarik kelotok atau perahu bermesin mobil L 300. Sebagian lagi pakai mesin domping biasa.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved