Berita HSS

Cegah Bayi Stunting, Desa-desa di HSS Wajib, Anggarkan Program Pencegahan untuk Posyandu

Cegah Bayi Stunting, Desa-desa di HSS Wajib, Anggarkan Program Pencegahan untuk Posyandu

Cegah Bayi Stunting, Desa-desa di HSS Wajib, Anggarkan Program Pencegahan untuk Posyandu
Dinkes HSS untuk banjarmasinpost.co.id
Kegiatan penimbangan dan pengukuran tubuh balita, di salah satu kegiatan posyandu di HSS 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Upaya mencegah dan menangani balita stunting atau balita pendek dilakukan Pemkab HSS melalu lintas SKPD.

Salah satunya, melibatkan pemerintahan desa, dengan lebih mengaktifkan lagi posyadu. Untuk posyandu tersebut, tiap desa diwajibkan menganggarkan dana desa mendukung pencegahan lain yaitu pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil dan remaja puteri di sekolah.

Kepala Dinas Kesehatan HSS dr H Siti Zainab, melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Noorhadini Ulfah,kepada banjaramasinpost.co.id, Senin (9/12/2019) menjelaskan, kegiatan posyandu lainnya adalah penyuluhan, pemberian makanan tambahan pada ibu hamil balita kurang gizi serta melakukan pengunkuran tingg dan berat badan.

BREAKING NEWS - Warga Pingaranilir Astambul Geger, Seorang Pemuda Gantung Diri

Salahkan Ashanty, Anang Marah-marah di Bandara, 2 Adik Aurel Hermansyah Sampai Menolak Lakukan Ini

TERUNGKAP Motif Orang Asing Ilegal Masuk ke Indonesia: dari Jualan Baju hingga Jadi Pemain Bola

“Termasuk mengaktifkan kela ibu hamil dan kelas balita serta penyuluhan isi piringku,”kata Ulfah.

Dijelaskan, stunting sangat berkaitan dengan kesehatan lingkungan, dan gaya hidip sehat individu, bekerjasama dengan instansi terkait juga dilakukan pengadaan WC sehat oleh DInas PU, Disdik, Dinas Ketahanan Pangan serta OPD terkait lainnya dalam mencegah stunting. DIsebutkan, untuk di HSS sampai 2019 tercarat ada 748 balita masuk kategori berbadan pendek.

Pemkab HSS sendiri dinilai paling respons terkait penanganan dan pencegahan stunting, hingga dinilai paling reflikatif dalam upaya tersebut oleh Pemrov Kalsel.

Dijelaskan, diperlukan kerjasama yang kuat antarinstansi atau SKPD dalam nenangani masalah stunting tersebut. “Tidak bisa hanya Dinkes. Tapi seluruh pihak terkait, alhamdulillah aktif mendukung program ini,”ungkapnya.

Stunting tak hanya berpengaruh pada perkembangan otak dan kecerdasan anak yang ujung-ujungnya mengasilkan generasi lemah.

Tapi juga bakal berpengaruh terhadap perekonomiannya kelak. Sebab, selalu kalah bersaing dari sisi SDM, sehingga bakal sulit menuntaskan masalah kemiskinan. Karena itu, pencegahan dilakukan mulai pertama kehidupan bayi. Atau saat bayi mulai dalam kandungan atau mulai kehamilan.

“Pencegahan dimulai dari sanitasi lingkungan, memerhatikan makanan dimana edukasi dilakukan melalui Dinas Pendidikan dan untuk hal spesifik lewat intervensi Dinkes. Termasuk lewat dakwah para ustadz-ustadz yang berdakwah keliling kampung,”kata Noorhadini.

Selain itu, dilakukan edukasi kesehatan keluarga, dukungan sarana dan prasarana, pemberian tablet tambah darah serta gerakan kesehatan masyarakat (Germas), pemberian makanan tambahan berbahan lokal.

Untuk dukungan anggaran, selain dana desa juga didukung DAK, keaktifan bidan desa agar pemeriksaan kehamilan mencapai target. Ditambah inovasi Dinkes yaitu Program “Si Midun ke Faskes” serta adanya Pondok Asyiek, yaitu air susu ibu ekslusif seperti di Daha Utara.

"Penganggaran juga dilakukan di PKK, program Dasa Wisma mulai 2019. Tapi mulai 2017 sudah dilakukan penanganan,”jelasnya. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved