Berita Banjarbaru

DTPH Provinsi Kalsel Sebut Kenaikan Harga Gabah Wajar, Ini Penjelasan Syamsir Alam

Harga gabah mengalami kenaikan, rata-rata harga kualitas Gabah Kering Panen (GKP) ditingkat petani naik 3,16 persen, dari Rp 5.216,33 per kilogram

DTPH Provinsi Kalsel Sebut Kenaikan Harga Gabah Wajar, Ini Penjelasan Syamsir Alam
net
Petani Tapin berantas hama.

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Harga gabah mengalami kenaikan, rata-rata harga kualitas Gabah Kering Panen (GKP) ditingkat petani naik 3,16 persen, dari Rp 5.216,33 per kilogram di bulan Oktober 2019 menjadi Rp 5.381,30 per kilogram November 2019

"Harga gabah mengalami kenaikan itu hal yang wajar, nanti kalau panen sudah berlangsung merata pasti turun lagi," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikutrura (DTPH) Provinsi Kalsel Syamsir Alam, Senin (9/12/2019).

Syamsir Alam mengatakan, dimungkinkan karena para petani masih menahan atau menyimpan gabahnya.

"Nanti kalau sudah selesai musim panen harga jenis lokal melonjak naik, nanti pada saat panen lagi selanjutnya kembali turun itu sudah biasa, petani sudah tau itu," sebutnya lagi.

Pegawai Honorer di Pemko Banjarmasin Tidak Boleh Kenakan Atribut PNS Mulai Hari Ini, Ini Alasannya

Pesan Khusus Ali Syakieb ke Citra Kirana & Rezky Aditya, Nabila Ungkap Hubungan Sang Adik dan Ciki

VIRAL Video Lamborghini Keluarkan Asap Tebal di Surabaya, Wanita Bergaun Merah Berlari

Syamsir menjelaskan bahwa di wilayah Kalsel gabah yang paling diminati adalah gabah lokal atau padi jenis lokal, sedangkan jenis padi unggul jarang diminati masyarakat.

"Kalau petani yang pintar dan rajin dia tidak mau menjual sebelum benar-benar panen, itu yang menyebabkan harga naik," lontarnya.

Ditambah, kondisi gabah juga mempengaruhi harga. Jika kondisi gabah kering giling (sudah dijemur, kadar air cukup) itu harganya tinggi, tetapi kalau gabah masih basah harganya murah.

Untuk diketahui Data dari Badan Pusat Statistik Kalimantan Selatan (Kalsel) Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan November 2019 tercatat 95,50 atau naik 1,06 persen dibanding NTP bulan Oktober 2019 lalu yang mencapai 94,49 persen.

Kenaikan ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 1,32 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) hanya naik 0,26 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan (Kalsel), mencatat perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) pada November 2019 tercatat 95,50 atau naik 1,06 persen dibanding NTP bulan Oktober 2019 lalu yang mencapai 94,49 persen.
Kenaikan ini disebabkan indeks harga yang diterima petani (It) naik 1,32 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) hanya naik 0,26 persen.

Kepala BPS Kalsel Diah Utami sebelumnya mengatakan, daerah perdesaan Kalsel mengalami Inflasi sebesar 0,28 persen, dimana indeks harga kelompok bahan makanan terjadi kenaikan terbesar 0,55 persen. Sementara kelompok lainnya naik berkisar 0,08-0,16 persen.

“Rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) ditingkat petani naik 3,16 persen, dari Rp 5.216,33 per Kilogram di bulan Oktober 2019 menjadi Rp 5.381,30 per Kg di bulan November 2019. Begitu juga harga gabah di tingkat penggilingan naik 3,05 persen dari Rp 5.311,40 per Kilogram di bulan Oktober 2019 menjadi Rp 5.473,48 per Kg di bulan November 2019,” kata Diah. (banjarmasinpost.co.id/Lis).

Penulis: Nurholis Huda
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved