Jendela

Memperluas Jejaring Zakat dan Wakaf

SUATU hari di depan kantor MUI Provinsi Kalsel kompleks Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, saya didatangi seorang personel TNI AD

Memperluas Jejaring Zakat dan Wakaf
BPost
Ahmad Barjie B - Mahasiswa Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin

Oleh: AHMAD BARJIE B, Badan Wakaf Indonesia Perwakilan Kalsel, Baznas Kota Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SUATU hari di depan kantor MUI Provinsi Kalsel kompleks Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, saya didatangi seorang personel TNI AD yang berasal dari luar kota. Saya mengira ia mau shalat sunat di masjid, ternyata ia ingin mengeluarkan zakat profesi dari gaji bulanannya. Saya kemudian mengajaknya ke kantor Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kalsel yang juga terletak di kompleks masjid raya. Tentara berpangkat sedang itu menyebutkan, gajinya sekitar Rp 5 juta, sementara tunjangan sekitar Rp 2,5 juta per bulan. Setelah dihitungkan oleh petugas ia pun membayar secara kontan, dan berjanji untuk bulan-bulan berikutnya akan menyetor zakatnya melalui rekening bank.

Kali lain, sebagai ketua RT saya pernah didatangi seorang wanita paroh baya. Ia melaporkan sekaligus menyakinkan keinginannya berwakaf tanah yang cukup luas, strategis dan bernilai ratusan juta rupiah. Menurutnya ia pernah “diuji” oleh seseorang yang mempertanyakan tekadnya mewakafkan tanah tersebut, kalau-kalau tidak disetujui keluarga yang lain, kalau-kalau menyesal karena tidak dijual untuk keperluan sendiri, apakah tidak sebaiknya dijadikan aset keluarga atau investasi untuk masa depan. Untuk itu ia datang dengan memperlihatkan surat-surat tanah, persetujuan semua keluarga dan kelengkapan lainnya, sehingga tanah wakafnya dijamin tidak bermasalah. Menurutnya, keluarganya memang tidak kaya, tetapi kalau dijual uang tanah itu pasti akan habis, sementara kalau diwakafkan nilai dan pahalanya akan terus mengalir, membawa berkah di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Potensi Zakat dan Wakaf

Dua ilustrasi nyata di atas menunjukkan bahwa sesungguhnya potensi zakat dan wakaf di masyarakat kita sangat besar. Zakat harta atau maal selama ini mungkin sudah dikeluarkan oleh muzakki (pemilik harta), meskipun harus kita akui masih banyak yang belum berzakat sebagaimana mestinya. Yang menonjol baru zakat fitrah di setiap akhir Ramadhan, yang kadangkala juga digabung dengan zakat harta. Juga zakat padi sesudah panen raya sekali atau dua kali setahun.

Namun yang masih kurang adalah zakat profesi atau penghasilan. Jika kita amati, banyak sekali pegawai negeri, swasta, pengusaha dan praktisi lain yang penghasilan harian, mingguan dan bulanannya besar, melampaui nisab zakat.

Mereka ini penting sekali untuk mengeluarkan zakatnya setiap bulan, tanpa perlu menunggu haul satu tahun. Dengan mengeluarkan zakat penghasilan setiap bulan, maka harta yang bersangkutan setiap saat akan mendatangkan berkah bagi muzakki dan memberi nilai manfaat bagi penerima zakat (mustahiq). Berbeda sekiranya zakat hanya dikeluarkan sekali setahun, maka berkah dan nilainya hanya didapat sekali setahun.

Dapat dibayangkan, sekiranya di Kalimantan Selatan atau daerah-daerah lainnya, ada 100 ribu orang yang mengeluarkan zakat penghasilan secara rutin, sebagaimana dicontohkan oleh personal TNI di atas, betapa besar nilai dan manfaat yang diperoleh. Lembaga-lembaga zakat resmi yang sudah ada, seperti halnya Baznas dapat mengelola, kemudian menyalurkannya kepada para pihak yang berhak. Tentu akan sangat banyak mustahiq yang tertolong setiap bulannya.

Jika uang zakat yang diterima oleh Baznas besar, maka dana itu juga dapat digulirkan sebagai modal usaha produktif bagi mustahiq. Harus diakui, banyak kalangan masyarakat bawah selama ini tidak punya modal untuk berusaha, mereka tidak punya akses ke perbankan, akhirnya terpaksa meminjam uang kepada rentenir dengan prosedur sederhana dan cepat, namun bunganya berlipat-lipat. Akhirnya keuntungan yang tipis hanya untuk membayar bunga, sehingga tidak jarang orang terjerat utang seumur hidupnya, dan sulit untuk keluar dari lilitan utang kalau tidak ada “dewa penolong”.

Kalau dana zakat bisa dipinjamkan kepada mereka secara bergulir, atau diberikan secara hibah, maka mereka akan bisa menolong dirinya dan melepaskan diri dari jeratan rentenir. Dalam hitungan bulan dan tahun mereka pasti akan stabil, dan tidak mustahil nantinya akan berpindah status dari mustahiq ke muzakki.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved