Tajuk

Modal Pariwisata

TERMINAL baru Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, telah digunakan mulai Selasa (10/12). Kata pertama yang terucap dari para pengguna

Modal Pariwisata
banjarmasinpost.co.id/nurholis huda
Lift terpampang di tengah tangga. Lift tersebut lebih dikhususkan kepada para disabilitas yang mau berangkat menggunakan terminal baru Bandara Syamsudin Noor. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - TERMINAL baru Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, telah digunakan mulai Selasa (10/12). Kata pertama yang terucap dari para pengguna jasa bandara adalah “megah”. Ini tentunya jauh dari kondisi terminal lama, yang sebenarnya sudah sangat lama dirasakan tidak tidak layak untuk melayani penerbangan di Kalimantan Selatan.

Padahal daerah ini sempat sangat padat dikunjung banyak investor saat booming batu bara. Melonjaknya bisnis emas hitam ini juga membuat makin banyak warga yang bepergian ke luar daerah bahkan luar negeri. Malu rasanya membandingkan Bandara Syamsudin Noor dengan bandara di berbagai kota di negeri ini.

Ada perasaan tidak adil. Kalsel yang tidak sedikit menyumbang devisa, bandara seadanya.

Padahal Bandara Syamsudin Noor tidak hanya untuk warga Kalsel, tetapi juga pengguna jasa

penerbangan dari Kalimantan Tengah.

Warga Kalsel serta Kalteng juga menyumbang banyak pendapatan bagi negara melalui PT Angkasapura I selaku pengelola Bandara Syamsudin Noor.

Kedua daerah ini mengirim banyak jemaah haji dan umrah. Jemaah dari daerah ini tak perlu lagi transit di bandara daerah lain untuk menuju Arab Saudi.

Setelah status internasional disandang didukung megahnya terminal bandara, lalu apa? Apa yang harus dilakukan di tengah merosotnya bisnis andalan Kalsel yakni batu bara? Pertanyaan-pertanyaan ini tentunya harus dijawab terutama oleh pemerintah daerah.

Industri dan pariwisata adalah sektor yang harus dikembangkan. Listrik di Kalsel dan Kalteng telah surplus. Namun masih banyak yang belum termanfaatkan karena sektor industri belum berkembang dengan pesat.

Demikian pula dengan pariwisata. Ini memang perlu kerja keras mengingat Kalsel bukanlah daerah yang sama dengan Bali atau daerah Nusa Tenggara. Harus diakui pantai Kalsel yang ada di daerah pesisir selatan kurang bagus. Pantai yang bagus ada di daerah Kotabaru. Namun untuk menuju ke sana, jaraknya cukup jauh. Artinya selain Bandara Syamsudin Noor, bandara lain di Kalsel seperti di Kotabaru dan Tanahbumbu juga perlu dikembangkan.

Membuka akses udara seluas-luasnya merupakan salah satu cara untuk mengembangkan industri dan pariwisata. Terlebih daerah ini merupakan daerah pendukung calon ibu kota negara baru.

Semua ini tentunya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kalsel. Dengan sejahteranya masyarakat Kalsel, maka makin banyak yang bisa menikmati indahnya bandara. Dengan demikian terminal bandara yang baru tetap ramai. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved