Fikrah

Mencegah Pernikahan Usia Dini

MENURUT Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Kalimantan Selatan, Surya Chandra Suryapati, Provinsi Kalsel

Mencegah Pernikahan Usia Dini
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - MENURUT Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Kalimantan Selatan, Surya Chandra Suryapati, Provinsi Kalsel yang kaya lahan dan sumber daya alam ini, menempati peringkat pertama jumlah pernikahan usia dini di Indonesia, yaitu rentang usia 9-13 tahun (11/3/2019).

Hal ini dipicu oleh faktor kemiskinan, rendahnya pendidikan, serta belum meratanya pembangunan di pedesaan, disamping pesatnya pertumbuhan penduduk dan pengaruh perkembangan teknologi, baik melalui telepon seluler /media sosial, banyak remaja yang matang libido seksnya sebelum waktunya.

Ada lima kabupaten di Kalsel yang tertinggi pernikahan usia dini, yaitu Tapin, Kotabaru, Tabalong, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Utara.

Menurut Syekh Nasih Ulwan dalam bukunya Tarbiyatul-Aulad fil-Islam, perkawinan dalam Islam bukan sekadar pemenuhan hasrat seks, tidak; tetapi bertujuan untuk:

Pertama, mengikuti syari’at Allah dan Sunnah Rasulullah SAW, salat orang yang sudah menikah dua rakaat lebih afdhal dari tujuh-puluh rakaat salat orang yang belum menikah. Karena itu, seseorang yang akan menikah haruslah ia berniat untuk mengikuti syariat Allah dan Sunnah Rasul SAW.

Kedua, mendapatkan zurriyyah thayyibah (keturunan yang baik). Ketiga silaturrahmi. Keempat, membentuk rumah tangga yang (tenteram) dengan mawaddah (kasih sayang yang didominasi oleh lahiriyah seperti kecantikan dan ketampanan, materi dan kekayaan, dan status sosial yang tinggi) dan rahmah (kasih sayang yang didominasi oleh ketenteraman jiwa dan kenyamanan batin).

Disinilah terbukti, perkawinan usia dini banyak memicu perceraian, karena setelah berumah tangga pasangan usia dini banyak yang belum mampu menyelesaikan problema kehidupan yang mereka hadapi, sehingga memicu perceraian.

Contohnya di kota Banjarmasin, jeda waktu Januari-Desember 2018, 2.310 kasus perceraian didominasi oleh pasangan muda, gugat cerai banyak diajukan oleh pihak istri, karena suami tidak bertanggung-jawab,

Perkawinan yang disebut pernikahan, menurut Undang Undang dan Hukum Islam, dilakukan melalui akad, menghasilkan kebolehan istimta’ (persetubuhan) antara suami dan istri dengan syarat-syarat tertentu.

Banjarmasin Post edisi Jumat (13/12/2019).
Banjarmasin Post edisi Jumat (13/12/2019). (Dok Banjarmasinpost.co.id)
Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved