Fikrah

Beratnya Menjadi Seorang Ibu

Seorang sshabat datang kepada Rasulullah SAW seraya bertanya, “Ya Rasulallah, man ahaqqu abarru bihi

Beratnya Menjadi Seorang Ibu
Net
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Seorang sshabat datang kepada Rasulullah SAW seraya bertanya, “Ya Rasulallah, man ahaqqu abarru bihi.” Wahai Rasul, siapa orang yang paling berhak aku berbuat baik dengannya.” Rasulullah SAW menjawab, “Ummuka,” Ibumu. Ia bertanya lagi, “Tumma man,” Kemudian siapa lagi ? Rasulullah SAW menjawab, “Ummuka.” Ibumu. Ia bertanya lagi kali yang ketiga, “Tsumma man,” Kemudian siapa lagi ?” Rasulullah SAW menjawab, “Ummuka.” Ibumu. Kemudian ia bertanya lagi, “Tsumma man.”Kemudian sesudah itu siapa lagi ?” Rasulullah SAW menjawab, “Bapakmu.” (HR.Bukhari).

Ini kah posisi seorang ibu. Beban berat yang dipikul olehnya , tidak bisa dipikul oleh seorang ayah’ Mengandung sembilan bulan sembilan hari, menyusukan dan merawat sang anak tanpa pamrih. “Hamalathu ummuhu wahnan ‘ala wahnin wa fishaaluhuu fii ‘aamaini, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan yang lemah bertambah lemah dan menyusukannya dua tahun.“ (QS.21/14).

Jika sang anak sakit ibu tidak bisa tidur, dia gendong anaknya itu. Air matanya meleleh membasahi wajah sang anak, “Ya Allah, jangan anakku yang sakit, pindahkan saja sakitnya kepadaku.” Inilah sosok ibu kita, pepatah mengatakan, “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak bisa jadi hanya sepanjang galah.

Menurut Arrazi, tiga kepayahan yang diderita seorang ibu, yaitu kehamilan, melahirkan dan menyusukan.” Kata “umm,” yang kita terjemahkan dengan kata “ibu” memancar cahaya kesabaran dan kemuliaan pada hari kiamat nanti.

Penghormatan kita sebagai anak akan diuji dan teruji bila kita sudah dewasa. Mungkin kita sudah menjadi insan terhormat, orang berpangkat dan berjabatan, manusia berilmu dan orang kaya, mempunyai rumah mewah, sudah beristri dan beranak pinak.

Sedang kedua orang tua kita sudah tua, badannya sudah lemah, tulangnya sudah rapuh dan kulitnya keriput. Keperkasaan ayah kita membanting tulang mencari rezeki untuk segala keperluan kita sudah hilang, dan kecermatan ibu kita pun sudah sirna dimakan usia. Mana yang kita dahulukan, menengok kedua orangtua ataukah lebih mementingkan isteri dan anak kita, yang tidak jarang pula sang istri cerewetnya luar biasa, bermuka masam bila suami lebih mementingkan kedua orangtuanya.

Apabila kedua orangtua telah tua, penghormatan kita kepada keduanya diawali dengan ucapan dan kata-kata, jangan sampai menyakitkan hati dan perasaan keduanya. “Waqadhaa rabbuka allaa ta’buduu illaa iyyahu wabil-waalidaimi ihsaanaa. Immaa yanblughanna ‘indakal-kibaru ahaduhumaa aw kilaahuma falaa taqul-lahumaa uf, wala tanhar huma waqul lahumaa qaulan kariimaa.” Dan Tuhanmu telah mmemerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya.

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeilharaanmu , maka janganlah sekali-kali mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah” dan janganlah membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” Wakhfidh lahumaa janaahadz-dzulli minarrahmati wa qul rabbir-hamhuma kamaa rabbayaanii shagiiraa. Dan rendahkanlah diriimu terhadap keduanya dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya sebagaimana keduanya mendidik aku waktu kecil.” (QS.17/23-24)).

Pantaslah ada “hari Ibu.” Untuk mengingatkan posisi ibu dalam kehidupan kita walaupun ayah juga harus kita hormati.

Dua hari lagi kita akan menyambut hari ibu, 22 Desember 2019. Hari Ibu adalah hari peringatan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya baik untuk suami, anak-anak maupun lingkungan sosialnya. Hari Ibu diperingati di seluruh dunia, dengan istilah “Mother’s Day.”kendati ada perbedaan hari, yaitu 8 Maret. Di Indonesia dirayakan setiap 22 Desember, diresmikan oleh Presiden Soekarno dengan Keppres no. 316 tahun 1958.

Hari Ibu mengacu kepada Kongres Perempuan Pertama 22 Desember 1928, yang diselenggarakan di Yogjakarta, dihadiri 30-an organisasi wanita yang ada pada waktu itu, antara lain Wanita Tomo, Wanita Muljo, Wanita Taman Siswa, Wanita Katolik, Aisjiah, Ina Tuni, Jong Islamien Bond, Jong Java Meisjeskring, Boedi Sedjati, Poetrie Merdika, Poetri Indonesia dan lain-lain.

Kongres dipimpin oleh Sujatin, dalam pidatonya menandaskan bahwa sekarang zaman kemajuan, karenanya perempuan harus maju jangan ketinggalan dari kaum laki-kaki, bukan berarti kaum perempuan harus menjadi laki-laki. Perempuan tetap perempuan kecuali jika ia harus mengurus dapur dan kasur. Tetapi perempuan juga hendaklah bersama kamu lelaki mengurus kehidupan bermasyarakat dan bernegara tanpa mengabaikan kehidupan berkeluarga. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved