Tajuk

Semua Bisa Dibeli?

SEJAK kabar mengenai berbagai fasilitas mewah terdapat di Lapas Sukamiskin, kini sudah mengalami sejumlah perombakan

Semua Bisa Dibeli?
Kompas.com
Pasca Kabar penggeledahan oleh KPK tampak kondisi lapas Sukamiskin yang berjalan normal seperti biasa. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEJAK kabar mengenai berbagai fasilitas mewah terdapat di Lapas Sukamiskin, kini sudah mengalami sejumlah perombakan. Kamar-kamar di sana sudah mengalami perubahan, namun kamar-kamar yang pernah dihuni Setya Novanto (mantan ketua DPR), Djoko Susilo (mantan pejabat polisi), dan Muhammad Nazaruddin (mantan anggota DPR), masih menjadi perhatian.

Pasalnya, untuk ukuran kamar lembaga permasyarakatan, kamar milik keduanya masih terbilang cukup mewah. Dari sisi ukuran kamar pun, Setnov, Nazaruddin, dan Djoko Susilo mendapat tempat yang lebih luas. Mereka masing-masing menempati sebuah kamar berukuran dua kali lipat dari ukuran pada umumnya.

Hal itu terungkap saat Ombudsman RI melakukan kunjungan untuk menemui warga binaan, dan meninjau pembangunan kamar-kamar Lapas Sukamiskin, Jumat (20/12).

Kepala Kanwil Kemenkumham Jawa Barat, Liberti Sitinjak, beralasan tak berubahnya luasan kamar tersebut karena Lapas Sukamiskin masuk sebagai cagar budaya, sehingga kalau dilakukan perubahan perlu ada koordinasi dengan instansi cagar budaya. Sebab, kata dia, Lapas Sukamiskin adalah salah satu bangunan bersejarah di Bandung.

Banjarmasin Post edisi Sabtu (21/12/2019)
Banjarmasin Post edisi Sabtu (21/12/2019) (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Ketiga kamar tersebut sebelumnya dikenal pernah ditempati ketiga koruptor tersebut. Selain luasnya lebih besar dibanding kamar sel tahanan lainnya, kamar-kamar itu sebelumnya juga diberi fasilitas layaknya kamar pribadi.

Temuan ini seakan merobek-robek rasa keadilan bagi para napi lainnya. Bagaimana tidak, saat banyak lembaga pemasyarakatan mengalami over kapasitas dan membuat para penghuninya berdesak-desakan di dalam satu ruang sel sempit, para terpidana koruptor masih bisa hidup enak di dalam penjara.

Rasa keadilan para napi ‘kacangan’ jelas terusik. Anggapan uang bisa membeli segalanya akan makin menggema hingga ke ranah penegakan hukum di Indonesia. Asal ada uang, semua bisa dibeli. Termasuk hidup mewah di dalam penjara.

Tentu kita masih ingat temuan sel mewah di Rutan Wanita Kelasa IIA Pondok Bambu Jakarta, beberapa waktu lalu. Di mana sejumlah ruangan gedung perkantoran dialihfungsikan menjadi ruang pribadi mewah terpidana Arthalyta Suryani dan Limarita.

Fasilitas mewah di setiap ruangan tersebut adalah AC, LCD, home theatre, kulkas, dispenser, serta Blackberry. Bahkan di ruangan Limarita terdapat ruang khusus untuk karaoke.

Saat itu, terungkap kalau untuk mendapat fasilitas tersebut perlu gelontoran uang tidak sedikit dari para terpidana korupsi. Istilah ada uang ada barang, menjadi rahasia umum di rutan tersebut.

Kondisi tersebut kini menjadi tantangan bagi aparat penegak hukum dari hulu hingga ke hilir, agar bisa menghilangkan pradigma kalau pisau hukum hanya tajam ke bawah. Penegakkan hukum harus merata, tidak pandang bulu.

Saat seorang menjadi pesakitan, baik kasus mencuri ayam atau korupsi triliunan rupiah, tindakan aparat hukum harus sama. Mereka tidak silau oleh kilau kekayaan sang terpidana. Memang seharusnya rak semua bisa dibeli oleh uang! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved