Berita Batola

Dinas Kesehatan Batola Luncurkan Program Sikudapeni, Kelas Ibu Hamil Tiap Kecamatan

Balita meninggal di Kabupaten Batola diharapkan setiap tahunnya menurun. Angka penurunan bayi meninggal merupakan hasil dari langkah nyata

Dinas Kesehatan Batola Luncurkan Program Sikudapeni, Kelas Ibu Hamil Tiap Kecamatan
banjarmasinpost.co.id/edi nugroho
Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kabupaten Batola, Candra. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Balita meninggal di Kabupaten Batola diharapkan setiap tahunnya menurun. Angka penurunan bayi meninggal merupakan hasil dari langkah nyata dan aksi dari dinas kesehatan (dinkes) untuk mengurangi angkat kematian bayi setiap tahunnya.

“Iya alhamdulillah. Angka kematian bayi setiap tahunnya cenderung menurun,” kata Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kabupaten Batola, Candra, Senin (23/12/19).

Menurut Candra, Dinkes Batola bersama-sama satuan kerja perangkat daerah (SKDP) lainnya untuk dari awal pernikahan sudah dilakukan caten, yakni untuk mencegah terjadi virus rubella hingga tetanus pada ibu hamil.

“Bersama Kemenag Batola kita bersinergi agar calon pengantin untuk bersama-sama mencegah terjadinya sejumlah virus,” kata Candra.

Raffi Ahmad Kecelakaan & Ucap Ini! Nagita Slavina Sampai Tertegun, Ibunda Rafathar : Astaghfirullah

Link Live Streaming RCTI Indonesian Idol 2019 Top 10, Siaran Langsung RCTI+ Spektakuler Show 6

Live MolaTV! Link Live Streaming Perseta Tulungagung vs Putra Sinar Giri Babak 8 Besar Liga 3 2019

Ditambahkan Candra, dinkes saat ini sudah membentuk kelas ibu hamil di setiap kecamatan. Dengan kelas ibu hamil tersebut, maka ibu mengandung tersebut akan mendapatkan pemeriksaan gratis dan diberikan beberapa makanan asupan gizi.

“Kami juga kerjasama dengan Universitas Airlangga, yakni program sikudapeni atau siapkan, kuatkan, dampingi pasangan pengantin sejak dini,” katanya.

Menurutnya, dalam program sukudapeni ini ibu hamil diberikan tambahan suplemen dan nutrisi agar tidak kekurangan energi kronis. Saat ibu hamil kekurangan energi kronis, maka akan berakibat ibu hamil itu akan melahirkan bayi yant stunting atau ibu kurang gizi.

“Kondisi ibu kurang gizi inilah yang kami hindarkan,” katanya.

Menurutnya, stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh dan adanya penyakit bawaan yang dibawa bayi tersebut. Penanganan terbaik penangangan stunting itu adalah bayi di bawah umur dua tahun. (Banjarmasinpost.co.id/edi nugroho)

Penulis: Edi Nugroho
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved