Berita Batola

Air Sumur Bor Keluarkan Api di Bedandan Batola Layak Konsumsi, Wajib Dimasak Karena Mengandung Ini

Hasil pemeriksaan sampel air dari tiga sumur bor di Desa Bedandan Batola yang mengeluarkan api memastikan air dari sumur bor layak konsumsi

Air Sumur Bor Keluarkan Api di Bedandan Batola Layak Konsumsi, Wajib Dimasak Karena Mengandung Ini
banjarmasinpost.co.id/edi nugroho
Kabid Pengendalian Dampak Lingkungan DLH Kabupaten Batola, Alfiansyah mencium air dari pipa sumur bor di RT 01 dan 02 Sungai Sangkai Desa Bedandan, Kecamatan Cerbon. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATOLA - Dinas Kesehatan Kabupaten Batola akhirnya mengumumkan hasil uji sample air dari tiga sumur bor di RT 01 dan 02 Sungai Sangkai Desa Bedandan, Kecamatan Cerbon, Kabupaten Batola yang mengeluarkan semburan api proyek bantuan sarana lingkungan (sarling) dari Kementrian Sosial RI.

“Dari pemeriksaan laboratorium, air sumur bor yang mengandung gas di Desa Badandan, Kecamatan Cerbon, Barito Kuala (Batola) dinyatakan tetap layak konsumsi, tapi harus dimasuk terlebih dahulu sampai mendidih,” kata dr Azizah Sri Widari, Kepala Dinas Kesehatan Batola, Kamis (26/12/19).

Menurut Sri, dari empat sumber air yang dijadikan sampel, tidak terkandung zat-zat berbahaya. Jika pun nilai zat yang ditemukan rata-rata masih dibawah batas maksimum. Selain dari sumber air yang mengeluarkan gas, petugas dinkes juga mengambil sampel dari tiga sumber air lain sebagai pembanding.

Diakui Azizah, ternyata hasil laboratorium dari keempat titik tersebut nyaris sama. Semua zat kimiawi yang terkandung masih dalam batas aman, mengingat air maupun gas merupakan unsur terpisah dan tak saling bercampur.

USBN SD Dihapuskan Januari 2020, Begini Reaksi Orangtua Siswa

Pantau Pelabuhan Trisakti dan Alur Barito, Basarnas Banjarmasin Turunkan KN SAR Laksmana

Diduga Mengantuk, Pengemudi Mobil Double Kabin Menabrak Kios Ponsel dan Pagar Mesjid di Karangredjo

Raih Adipura di Provinsi, Kadis LH dan Perhubungan HST Optimis Dapatkan Adipura di Tingkat Nasional

Menurutnya, hasil laboratorium menunjukkan pH atau keasaman keempat titik tersebut berkisar antara 6,19 hingga 7,30. Sementara batas maksimum yang dianjurkan dalam rentang 6,5 hingga 8,5. Kemudian sianida (CN) yang berbahaya untuk kesehatan, juga masih jauh dari batas maksimum 0,1. Keempat titik sampel menghasilkan nilai 0,0177 hingga 0,002.

“Demikian pula zat-zat lain seperti kesadahan (CaCO3), nitrat (HNO3), nitrit (NaNO2), sulfat (SO2), besi (Fe), seng (Zn), mangan (Mn) dan tembaga (Cu) yang kesemuanya masih dibawah batas maksimum,” katanya.

Ditambahkanya meski demikian, bukan berarti air tersebut dapat langsung dikonsumsi. Sesuai tipikal air tanah, kandungan bakteri MPN caliform dan escherichia coli yang terkandung dalam air sumur bor Badandan terbilang tinggi.

“Anjuran yang diberikan adalah air jangan langsung dimasak, tetapi lebih dahulu ditampung dan diendapkan. Dianjurkan air permukaan yang diambil untuk dimasak,” tegas Azizah.

Dipaparkan Azizah, memang kualitas kimiawi air dalam batas aman. Namun dari kandungan bakteriologis air dari sumur bor itu tidak aman untuk langsung dikonsumsi. Artinya kalau dijadikan sebagai sumber air minum, harus diolah dulu dengan cara dimasak sampai mendidih sebelum dikonsumsi.

Seperti diketahui warga di RT 01 dan 02 Sungai Sangkai Desa Bedandan, Kecamatan Cerbon, Kabupaten Batola keluar api, Minggu (1/12/19) lalu geger. Tiga sumur bor yang dikabarkan proyek Pemkab Batola mengeluarkan api.

Kontan penenemuan gas dari pengeboran dengan kedalaman sekitar 30 sampai 40 meter ini menggemparkan warga Sungai Sangkai. Warga pun silih berganti melihat keberadan api dari sumur bor tersebut.

Tiga sumur bor di RT 01 dan 02 Sungai Sangkai Desa Bedandan, Kecamatan Cerbon yang terus mengeluarkan api
Tiga sumur bor di RT 01 dan 02 Sungai Sangkai Desa Bedandan, Kecamatan Cerbon yang terus mengeluarkan api (istimewa/salfiannor)

Keberadaan tiga sumur bor di RT 01 dan 02 Sungai Sangkai Desa Bedandan, Kecamatan Cerbon, Kabupaten Batola yang mengeluarkan semburan api proyek bantuan dari Kementrian Sosial RI mendapat kunjungan Kabid Energi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) atau Pertambangan Provinsi Kalsel, Sutikno, Senin (2/11/19) sore.

Tak Kenali Petugas, Pengedar Narkoba di Banjarmasin Ini Diciduk Polisi Menyamar

PPDB SMPN 2020, Jalur Penerima Kartu Indonesia Pintar Capai 15 Persen

USBN SD Dihapuskan Januari 2020, Kadisdik Batola : Jangan-jangan Raport Juga Dihapuskan

Kehadiran Sutikno diterima Kabid Pengendalian Dampak Lingkungan DLH Kabupaten Batola, Alfiansyah dan Ketua RT 02 H Barnawi (60) dan sejumlah warga setempat.

Menurut Sutikno, di daerah gambut atau rawa memang banyak terperangkap Coalbed methane (CBM) sehingga sebelum jadi bebatuan mengeluarkan gas.
“Jadi gas yang menyembur dari tiga sumur bor tersebut merupakan gas yang terperangkap dan terbawa air,” katanya. (Banjarmasinpost.co.id/edi nugroho)

Penulis: Edi Nugroho
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved