BPost Cetak

Sampah Bisa Disulap Jadi Briket dan Produk Kecantikan, Nenden Pasok Lulur ke Sejumlah Salon

Nenden Raspati ibu satu anak asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini menyulap sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Sampah Bisa Disulap Jadi Briket dan Produk Kecantikan, Nenden Pasok Lulur ke Sejumlah Salon
BPost Cetak
BPost Edisi Selasa (31/12/2019) 

BANJARMASINPOSTCO.ID - Bagi kebanyakan orang, sampah adalah sesuatu yang tidak berguna. Barang bau yang bisa mendatangkan penyakit, sehingga harus segera dibuang jauh-jauh.

Namun, pandangan tersebut tidak berlaku bagi Nenden Raspati. Di tangan ibu satu anak asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini, sampah disulap menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Pegawai Sekretariat DPRD Kabupaten Cianjur ini mampu mendaur ulang sampah yang ia kumpulkan dari lingkungan sekitar tempat tinggalnya menjadi bahan bakar alternatif yakni briket dan produk kosmetik.

Untuk membuat briket, berasal dari sampah campuran, organik dan anorganik. Sedangkan untuk produk kosmetik seperti masker, lulur, shampo dan sabun batangan harus khusus dari sampah organik, seperti ranting pohon, dedaunan, kayu dan kertas.

Kejagung Mulai Periksa Saksi Kasus Jiwasraya, 10 Orang Ini Masuk Daftar Cegah

Ayah Baru Bilqis Disinggung Ayu Ting Ting Saat Ultah Anaknya Setelah Ramai Kabar dengan Didi Riyadi

Bisa Terbang 30 Jam Tanpa Awak, Kecepatan Pesawat Ciptaan PT Dirgantara Ini Bisa 235 Km Per Jam

Teriakan Ashanty Saat Aurel Singgung Ciumannya di Depan Atta Halilintar dan Anang Hermansyah

“Juga sisa makanan rumah tangga, terutama batok kelapa,” kata Nenden saat ditemui Kompas.com di rumahnya di Perumahan Gading Asri, Desa Bojong, Cianjur, Minggu (29/12).

Untuk pengolahannya, menggunakan tong yang telah dimodifikasi. Di dalam alat yang dinamai tabung Reaktor 120C itu, sampah dibakar dengan limbah kayu selama tiga jam hingga menghasilkan karbon aktif atau menjadi arang.

“Untuk membuat briket, setelah arang dihaluskan langsung dipres, berbentuk dadu atau bulat. Namun, kalau untuk dijadikan charcoal bahan lulur atau masker ada proses lanjutannya lagi,” kata dia.

Nenden mengaku, ide awal membuat alat daur ulang sampah karena risi melihat kondisi sampah yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.

Produksi sampah di perumahan itu cukup tinggi. Sedangkan proses pengangkutannya hanya dua kali dalam sepekan. Jika tidak melakukan sesuatu, lingkungan bisa tidak nyaman bahkan bisa tidak sehat. Karena itu, ia bertekad ingin melakukan sesuatu yang bisa berkontribusi dalam mengurangi beban sampah yang dibuang ke TPA (tempat pembuangan akhir).

Berbekal pengalaman saat bekerja di Dinas Pekerjaan Umum (PU)) dan berbagai referensi yang didapat, Nenden pun berhasil membuat alat pembakar sampah dengan kapasitas daya tampung 50 kilogram.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved