Berita Tapin

Musim Banjir, Petani Padi di Tapin Persiapan Olah Lahan dan Perlakuan Benih

Musim banjir, Marzuki, petani padi lokal di Kelurahan Kupang justru sibuk mengolah lahan pertanian menggunakan traktor, Jumat (3/1/2019)

Penulis: Mukhtar Wahid | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid
Marzuki, petani padi lokal di Kelurahan Kupang berkeliling menjalankan alat mesin pengolah lahan atau traktor, Jumat (3_1_2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Musim banjir, Marzuki, petani padi lokal di Kelurahan Kupang justru sibuk mengolah lahan pertanian menggunakan traktor, Jumat (3/1/2019).

Lahan pertanian padi yang diolahnya itu miliknya, sudah terendam air setinggi mata kaki orang dewasa, pasca cuaca hujan melanda wilayah Kabupaten Tapin sejak awal pekan ini.

Lahan pertanian di Kelurahan Kupang merupakan lahan tadah hujan atau berada di wilayah daratan.

"Saat ini masih persiapan masa tanam," katanya.

Jika air yang merendam lahan pertanian setinggi mata kaki lebih mudah menggunakan alat mesin pertanian mengolahnya, lebih efesien dan efektif hasilnya.

Penampakan Via Vallen Pakai Barang Mewah Ini Saat Umrah Disorot, Lihat Foto Rival Nella Kharisma Itu

Dua Tahun Jadi Korban Pencabulan sang Ayah, Korban Baru Berani Lapor, Ibu Kandung Ikut Diancam

Tanpa Bra, Nikita Mirzani Basah-basah Saat Sohib Billy Syahputra Kunjungi Korban Banjir, Cek Video

Jika kering agak sulit karena tanahnya keras setelah didera musim kemarau, beberapa waktu lalu.

Abdillah, petani padi lokal jenis Siam Kupang mengaku mengolah lahan pertanian miliknya menggunakan alat manual, disebutnya pisau tajak.

"Kalau air setinggi telapak kaki orang dewasa, masih dapat dibersihkan dengan alat tajak. Kalau airnya tinggi agak sulit dan khawatir mata pisau tajak tidak tajam karena mengenai air," katanya.

Sebagian petani lainnya, pantauan reporter Banjarmasinpost.co.id, sudah ada yang membuat bibit padi atau istilah warga di Kelurahan Kupang, melambak.

Hasil dari kegiatan melambak itulah yang akan dipilih untuk ditanam kembali di lahan yang sudah diolah secara rata.

Abdillah mengaku pasca banjir yang melanda sebagian lahan pertanian padi itu tidak terlalu berpengaruh karena para petani belum melakukan tanam padi perdana.

"Nanti, sekitar April akan dilaksanakaan menanam padi lokal. Justru cuaca hujan saat ini berkah bagi para petani untuk mengolah lahan pertanian padi yang sebelumnya kekeringan," katanya.

Mulyono, warga Desa Bungur Baru, Kecamatan Bungur mengaku musim hujan saat ini sangat tepat untuk mengolah lahan pertanian padi unggul.

Selain persiapan pengolahan lahan pertanian, juga saat perlakukan benih padi untuk memulai masa tanam perdana.

"Sekitar akhir Januari atau awal Februari sudah mulai tanam perdana padi unggul. Hujan yang ada ini tidak ada dampak banjir, justru petani menunggu cuaca hujan ini," katanya.

Lurah Raya Belanti, Jaidi mengaku 70 persen warganya berprofesi petani.

Pascabanjir akhir Desember 2019 itu Tidak berdampak bagi petani yang menanam padi lokal karena memang belum menggarap sawah.

"Kemarin itu khawatir padi unggul program Serasi. Tapi, ternyata tidak terdampak juga dari banjir kemarin," jelasnya.

(banjarmasinpost.co.id/ mukhtar wahid)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved