Opini Publik

Banjir dan Tiga Mazhab Etika Lingkungan

Salah satu kado pahit yang menyambut Indonesia pada awal tahun 2020 ini adalah amukan bencana banjir. Lihat saja berbagai belahan bumi Indonesia kewal

Banjir dan Tiga Mazhab Etika Lingkungan
istimewa/bpbd banjar
Banjir yang terjadi di Desa Tanah Abang, Kecamatan Mataraman berangsur surut. 

Oleh: Satrio Wahono, Magister Filsafat UI dan Pengajar FE Universitas Pancasila

BANJARMASINPOST.CO.ID - Salah satu kado pahit yang menyambut Indonesia pada awal tahun 2020 ini adalah amukan bencana banjir. Lihat saja berbagai belahan bumi Indonesia kewalahan menghadapi bahaya banjir: amblesnya jalan, lumpuhnya lalu lintas, terendamnya rumah warga sehingga warga harus tinggal di barak pengungsian, sampai tersendatnya aktivitas perekonomian.

Akhirnya, terbukti sudah bahwa efek pemanasan global (global warming) bukan isapan jempol belaka. Pasalnya, memang pemanasan global-lah yang kini menjadi biang keladi bagi bencana hujan ekstrem saat ini. Sebab, pemanasan global akibat kegiatan ekonomi industri yang rakus bahan bakar fosil menghasilkan emisi karbon dioksida.

Emisi ini lantas bertumpuk di bumi menyerupai selubung yang menahan cahaya matahari terlepas ke udara. Padahal proses pelepasan itu dibutuhkan mengingat cahaya matahari itu bersifat memanaskan bumi. Dengan terhambatnya proses pelepasan cahaya itu, suhu bumi meningkat dan sulit kembali normal, es di kedua kutub mencair, dan permukaan laut naik. Peredaran arus laut inilah yang mengakibatkan perubahan iklim, termasuk hujan ekstrem dan bencana badai.

Dengan kata lain, bencana banjir dahsyat yang melanda Indonesia saat ini adalah akibat ulah manusia sendiri yang abai menjaga lingkungan. Maka itu, solusi konkret berupa paradigma baru relasi antara manusia dan lingkungan mesti dirumuskan. Untuk itu, kita bisa menyebut setidaknya tiga etika, masing-masing mewakili kearifan lokal, etika Barat, dan teologi Timur.

Banjarmasin Post edisi Sabtu (4/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Sabtu (4/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Tiga Mazhab

Pertama, kearifan lingkungan lokal Mentawai. Menurut Darrell Addison Possey dalam Culture and Spiritual Values of Biodiversity (Kanisius, terjemahan, 1999), masyarakat Mentawai meyakini semua ciptaan adalah satu kesatuan yang harmonis. Mereka percaya semua unsur dalam alam, entah itu binatang, tumbuhan, hutan, gunung, dan sungai, memiliki jiwa dan kepribadian khas lengkap dengan penunggunya.

Meski demikian, itu tidak berarti manusia diharamkan memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, masyarakat adat Mentawai justru bergantung pada binatang dan tumbuhan. Hanya saja, semua aktivitas bertahan hidup itu ditempatkan dalam kerangka kesalingterhubungan antar elemen alam dalam sakralitas mereka.

Maka itu, segala aktivitas tersebut memiliki tabu dan upacara adat-keagamaan pun dibutuhkan demi mengungkapkan sikap hormat terhadap alam. Artinya, karena setiap elemen alam memiliki ruh, maka pemanfaatan jiwa mereka untuk kepentingan manusia harus disertai semacam “permintaan izin” lewat upacara agama kepada yang empunya jiwa. Sekaligus, ini menjadi bentuk pengluhuran terhadap alam semesta.

Dengan kata lain, masyarakat adat Mentawai meletakkan relasi ketergantungan manusia pada alam sebagai relasi subsistensi. Jadi, penggunaan alam oleh manusia terbatas untuk bertahan hidup (subsisten), bukan untuk eksploitasi demi menangguk laba berlebih. Dari perspektif ini, masyarakat Mentawai hanya memanfaatkan alam secukupnya demi memungkinkan alam memperbarui diri (renewable) sehingga tersedia kembali untuk digunakan. Terciptalah susunan rantai makanan dan kehidupan yang harmonis.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved