Opini Publik

Desa Tangguh Banjir dan Kekeringan

HUJAN ekstrem dengan intensitas sangat tinggi membuat banyak jalan, rumah dan bangunan di Jakarta terendam akibat banjir. Mulai rumah artis

Desa Tangguh Banjir dan Kekeringan
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
Petugas Tagana membantu warga di kawasan banjir desa Tanahabang. 

Oleh: M Noor Azasi Ahsan, Tenaga Ahli P2SDM Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB

BANJARMASINPOST.CO.ID - HUJAN ekstrem dengan intensitas sangat tinggi membuat banyak jalan, rumah dan bangunan di Jakarta terendam akibat banjir. Mulai rumah artis yang terendam hanya setinggi lutut hingga yang tingginya hampir seatap. Bahkan dalam sebuah video lain, banjir hampir menenggelamkan mobil Lamborghini di rumah seorang pengacara terkenal.

Keadaan di bagian hulu ternyata tidak lebih baik. Akibat hujan deras, tanah longsor dan banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Sukajaya dan Kecamatan Cigudeg yang terletak di bagian barat Kabupaten Bogor. Selain memutus akses jalan desa, puluhan rumah dan sejumlah bangunan hanyut atau tertimbun lumpur. Lebih seratus warga yang dikabarkan hilang, beberapa diantaranya ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dunia.

Persoalan Lingkungan

Banjir relatif tidak terlalu banyak menimbulkan kerugian pada masa lalu, kontribusinya hanya sekitar lima persen dari total kerugian akibat bencana. Namun aktivitas pertambangan dan konversi lahan hutan untuk berbagai peruntukan lain telah menyebabkan daerah pegunungan menjadi gundul.

Air hujan bukan hanya tidak mampu lagi diserap tanah, malahan menjadi aliran permukaan yang membawa tanah hanyut, hingga longsor menimpa berbagai bangunan di bagian bawah. Itulah yang dialami desa-desa di Kawasan Bogor Barat yang berada di lereng Gunung Pongkor dan Gunung Halimun pada awal tahun 2020 ini.

Sebaliknya pada musim kemarau yang ektrem, banyak daerah mengalami kekeringan. Meskipun tidak mengalami banjir pada musim hujan ini, namun sejumlah peternakan ayam di Desa Atu-atu Kabupaten Tanahlaut yang berada di sekitar areal perkebunan sawit terpaksa membeli air dari luar karena sumur kering pada musim kemarau sekitar dua atau tiga bulan yang lalu. Biaya tambahan yang dikeluarkan antara tiga hingga lima juta rupiah.

Saat ini risiko kebencanaan di wilayah Kalimantan Selatan memang masih relatif sedang, namun berpotensi akan meningkat bila tidak diantisipasi lebih dini. Lebih-lebih dengan adanya pemanasan global yang telah mengubah keseimbangan siklus hidrologi.

Sebagai perbandingan, dalam kurun zaman es lebih dari satu juta tahun hingga masa 5000 tahun ke belakang, suhu global meningkat dari 4°C-7°C. Dalam satu abad terakhir ini, suhu udara meningkat 0,7°C atau 10 kali lipat lebih cepat dari rata-rata pemulihan pemanasan global pada zaman es.

Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Permendesa) Nomor 2 Tahun 2019 sebenarnya telah mengatur kriteria ketahanan lingkungan atau ekologi dalam Indeks Desa Membangun (IDM) dalam mengantisipasi keadaan tersebut. Pertama, aspek pengendalian pencemaran dengan melihat ada atau tidak adanya pencemaran air, tanah dan udara serta keberadaan sungai yang terkena limbah.

Banjarmasin Post edisi Kamis (9/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Kamis (9/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)
Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved