Fikrah

Mengapa Kita Harus Bertasbih?

Allah berfirman, Wa saari’uu ilaa magfiiratin min rabbikum wa jannatin ‘ardhuha assamawaatu wal ardhu u’iddat lilmuttaqiin.

Mengapa Kita Harus Bertasbih?
Kaltrabu
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin, Lc. MA

BANJARMASINPOST.CO.ID - Allah berfirman, Wa saari’uu ilaa magfiiratin min rabbikum wa jannatin ‘ardhuha assamawaatu wal ardhu u’iddat lilmuttaqiin. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, diperuntukkan bagi orang-orang bertakwa.’(QS.3/133)

Ketika mikraj, Nabi SAW bertemu Nabi Ibrahim a.s di langit ke tujuh, Nabi Ibrahim a.s berkata, “Ya Muhammad iqra’ ummataka minniayas-salaam, wa akhbirhum annal-jannata thayyibatut-turbah, ‘adzbatul-maa, wagiraasuhaa subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallaah, wallahu akbar, wala haula walaa quwwata illaa billaahil-aliyyil-adhiim.”

Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada ummatmu, beritahu mereka, surga itu tanahnya subur, airnya jernih, dan tanam-tanamannya adalah tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan hawqalah. ”Nabi SAW bersabda, “Barang siapa bertasbih, bertahmid dan bertakbir masing-masing 33 kali, kemudian membaca laa ilaaha illallaah wahdahuu laa syariika lahuu lahul-mulku wa lahul-hamdu yuhyii wa yumiit wa huwaa alaa kulli syai’in qadiir, usai salat (fardhu), maka akan diampuni dosanya kendati sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad, Darimi dan Malik).

Dari hadits ini dapat dipahami, umat beriman hendaklah bertasbih, bertahmid dan bertakbir untuk menanami lahan yang disediakan Allah bagi mereka.

Tasbih adalah tanziihuhu ta’ala ammaa laa yaliiqu bihi, mensucikan Allah dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya dengan ucapan subhaanallaah (Mahasuci Allah). Tahmid adalah Memuji Allah dengan ucapan Alhamdulillah (segala puji teruntuk bagi Allah). Tahlil adalah ucapan laa ilaaha illaallaah (tidak ada Tuhan selain Allah), Takbir adalah ucapan Allahu Akbar (Allah Maha Besar) dan hawqalah ucapan laa haula walaa quwwata illaa billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah).

Banjarmasin Post edisi Jumat (10/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Jumat (10/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Sejumlah sahabat yang miskin datang kepada Nabi SAW, “Ya Rasulallah, dzahaba ahluddutsuur al-jannata bil-ujuur, yushalluuna kamaa nushalli, wa yashuumuuna kamaa nashuumu, wa yahujjuuna, wa yatashaddaquuna wa yujaahiduuna bi-fudhuuli amwaalihim.”

Wahai Rasul, orang-orang kaya itu bisa masuk surga dengan ganjaran amal mereka, mereka salat seperti kami salat, puasa seperti kami puasa, namun mereka dapat berhaji dan berumrah, bersedekah dan berjihad dengan kelebihan harta mereka “Nabi SAW menjawab. “Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang dapat melampaui derajat orang kaya dan tidak ada yang mengalahkan derajat kalian kecuali mengamalkan amalan tersebut, yaitu kalian bertasbih, bertahmid, bertakbir setiap usai shalat (fardhu), masing-masing 33 kali.” (HR. Bukhari).

Di dalam hadits lain diterangkan, “Fa inna kulla tasbiihatin sadaqah, wa kulla takbiiratin sadaqah, wa kulla tahliilatin sadaqah,”Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah.”(HR. Muslim).

Buah dzikir adalah taqaarrub (dekat) dengan Allah, diingat Allah dan dengan itu diberikan ketenteraman batin yang dicari-cari manusia kapanpun dan dimanapun mereka berada. Fakta dan data bicara, di zaman now; manusia yang tinggal di kota-kota besar pergi ke desa-desa. Yang tinggal di desa pergi ke kota. Yang tinggal di gunung-gunung pergi ke tepi pantai. Yang tinggal di tepi pantai pergi ke gunung-gunung. Untuk apa? Semuanya mencari ketenangan jiwa. Orang-orang Barat yang bekerja penuh sepanjang hari, gaji mereka setiap bulan ditabung untuk berwisata ke mancanegara. Di negara kita, disaksikan bule-bule berkeliaran. Apa yang mereka cari ? Ketenteraman jiwa,

Orang beriman sebenarnya tidak perlu kesana kemari, mereka mendapatkan ketenteraman dengan dzikrullah, alladziina aamanuu wa tathma’innu quluubuhum bizdikrillah alaa bidzikrillahi tathma’innul-quluub, orang-orang yang berimandan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingatAllah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. 13 /28). Kalaupun umat beriman diperintahkan untuk berkelana di muka bumi, tiada lain adalah untuk bekerja mencari rezeki, mengambil iktibar, menyaksikan pengaruh (atsar) rahmat Allah dan untuk berhaji dan berumrah.

Dzikir membuahkan taqarrub (kedekatan diri) dengan Allah; pada gilirannya menimbulkan rasatakut (khauf) berbuat dosa dan gandrung beribadah dengan penuh harap (raja) diterimanya amal. Alladziina aamanuu wa amilish-shaalihaati thuuba lahum wa husnu ma’aab, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”(QS.13/29).

Konsisten dalam ibadah membuahkan ketenteraman dan keberkahan hidup. Inilah yang didambakan manusia dalam hidup dan kehidupan. Jika seorang beriman belum merasakan ketenteraman, bisa jadi dalam imannya masih ada masalah yang memerlukan (mursyid) (pembimbing), itulah para ulama yang benar yang mewarisi para Nabi. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved