Breaking News:

Berita Batola

2,5 Juta Ikan Nila Mati, Dinas Lingkungan Hidup Batola Ambil Sample Air di Lima Titik

2,5 Juta Ikan Nila Mati, Dinas Lingkungan Hidup Batola Ambil Sample Air di Lima Titik

ALFIAN DINAS LINGKUNGAN HIDUP BATOLA
Dinas lingkungan hidup (LH) Kabupaten Batola mengambil air sample di lima lokasi menyusul musibah 2, 5 juta bibit ikan milik petani ikan di jala apung sepanjang Sungai Barito yang mati mendadak dalam beberapa hari terakhir. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Musibah 2, 5 juta bibit ikan milik petani ikan di jala apung sepanjang Sungai Barito yang mati mendadak dalam beberapa hari terakhir memasuki babak baru.

Dinas lingkungan hidup (LH) Kabupaten Batola akhirnya mengambil air sample di lima lokasi untuk meneliti kandungan air Sungai Barito menyusul kematian massal dari ikan nila tersebut.

“Iya pada Kamis (9/1/20) lalu, kita telah mengambil sample di lima titik,” kata Kabid Pengendalian Dampak Lingkungan DLH Kabupaten Batola, Alfiansyah, Senin (13/1/20).

Menurut Alfian, lima lokasi atau tidak yang diambil sample untuk diteliti, yakni keramba Desa Bagus, Pasar Wangkang, Kodim, Lepasan dan muara pertemuan sungai Barito.

Simpan 10 Paket Sabu, Perempuan Warga Jalan Golf Banjarbaru Ini Ini Ditahan Polisi

Ulah Syahnaz & Jeje Tempati Kamar Raffi Ahmad & Nagita Slavina Pasca Lahiran Berujung Masalah

Tubuh Montok Syahrini Saat Liburan di Los Angeles Disorot, Istri Reino Barack Pamer Ini Pagi Hari

Menurut Alfian, jika ada dugaan limbah yang mencemari air sungai Barito, maka Dinas LH Batola tidak bisa memastikannya. Kejadian ikan Nila mati ini juga pernah terjadi pada beberapa tahun lalu.

“Saat itu kondisi lingkungan hampir sama yaitu terjadi kemarau yangg panjang dan kebakaran lahan juga hutan,” katanya.

Dijelaskan Alfian, pada musim hujan curah hujannya cukup tinggi sehinga massa peralihan inilah biasanya kondisi air sungai akan berubah. Sebab, air hujan yang turun itu membawa beberapa unsur kimia terlarut dalam tanah.

“Dampaknya akan menyebabkan kondisi air menjadi asam ditambah lagi dengan suhu air (pH) yang rendah, kadar besi (Fe) yang tinggi. Bahkan kadar oksigen terlarut dalam cukup rendah sehingga jumlah oksigen dalam air otamatis akan berkurang,” katanya.

Dipaparkannya, kondisi ini diperparah dengan kondisi daya tahan jenis ikan ini tidak begitu tahan terhdp perubahan air sungai. Ini bisa dilihat dan dicermati kenapa jenis ikan yang lain seperti haruan, seluang, patin, pepuyu, udang dll tetap hidup pada kondisi air sungai yang sama.
“Bahkan, tidak ada kematian pada ikan-ikan tersebut. Jadi kita tidak bisa berasumsi ini oleh limbah,” katanya.

Fandi, petani ikan nila menggunakan jala apung Sungai Barito RT 08 Kelurahan Marabahan Kota, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Batola, hanya bisa pasrah. Setiap hari 200 ekor ikan nila umur sekitar 3 bulan terus mati.

“Iya setiap hari minimal mati 200 ekor. Pagi hari 200 ekor dan sore mati sekitar 300 ekor,” kata Fandi.

Dirinya punya beberapa karamba atau jala apung dan pagi hari selalu membuang ikan ke Sungai Barito. Sore dan malam hari juga harus membuang ikan-ikan nila yang mati hampir 300 ekor. Total ikan nila umur 3 bulan itu mencapai 19 ribu ekor.

“Total kerugian dari pembelian bibir ikan dan pakan ikan itu mencapai Rp10 jutaan,” katanya.
Menurut Fandi, ada kemungkinan air Sungai Barito saat ini sudah tercemar limbah dan karena faktor alam. Diharapkan, ke depan petani ikan akan tetap bisa berusaha mencari nafkah dengan memelihara ikan di Sungai Barito.

Sementara itu Syaiful Asgar, Kabid Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Batola memperkirakan ikan nila yang mati berjumlah 2.580.000 ekor. Sebagian besar merupakan benih ikan berumur 2 bulan.”Estimasi tersebut diperoleh dari rata-rata 10.000 bibit yang disemai dalam 258 keramba,” jelasnya.

(Banjarmasinpost.co.id/edi nugroho)

Penulis: Edi Nugroho
Editor: Royan Naimi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved