B Focus Urban Life

Tidak Ada Asosiasi di Batola, Harga Panen Walet Banyak Dimainkan Pengepul

Sejumlah petani walet mengaku keberatan dengan rencana penerapan pajak setiap kali hasil panen sebesar 10 persen.

Tidak Ada Asosiasi di Batola, Harga Panen Walet Banyak Dimainkan Pengepul
banjarmasinpost.co.id/aya sugianto
Rumah walet 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Sejumlah petani walet mengaku keberatan dengan rencana penerapan pajak setiap kali hasil panen sebesar 10 persen.

Angka paling ideal besaran pajak walet itu maksimal sebesar 5 persen.

“Idealnya 5 persen saja. Kalau perlu diturunkan menjadi 2,5 persen saja,” kata Rahmadi, petani walet di RT 02, Desa Tamba Jaya, Kecamatan Tabukan.

Rahmadi mengaku punya satu rumah walet dan itu pun modalnya patungan dengan para petani walet lainnya.

Kesal Tak Ada Kesadaran Pengusaha Walet Bayar Pajak, BP2RD Batola Segera Berikan Sanksi ini

Lagi! Ulah Andhika Pratama Bikin Nikita Mirzani Murka, Komentar di IG Gilang Dirga Jadi Penyebabnya

Sikap Aneh Adik Rizky Febian ke Teddy Pasca Lina Meninggal, Tangis Putri Sule Saat Ucap Ini

Biaya perawatan liur emas itu cukup tinggi, seperti beli parfum untuk walet per botolnya mencapai Rp500 ribu.

Petani walet, juga perlu obat hama atau serangga juga perlu dibeli.

Musuh utama pemeliharaan walet itu seperti kecoa dan semut.

Selama ini, harga panen walet di Batola banyak dimainkan oleh pengepul karena di setiap kecamatan itu tidak ada asosiasinya.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved