Dibalik Budaya Mawarung di HSS

Di Desa Lebih Ramai, Warga Perkotaan di HSS Malah Pindah ke Warung Malam karena Ada yang Cantik

Budaya mewarung, tak selalu berkonotasi negatif. Karena dibalik itu ada kearifan lokal masyarakat. Khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Di Desa Lebih Ramai, Warga Perkotaan di HSS Malah Pindah ke Warung Malam karena Ada yang Cantik
banjarmasinpost.co.id/hanani
Salah satu warung di kawasan Jalan Aluh Idut Kandangan, yang ramai pengujung pagi, siang hingga malam hari. Selain menyajikan menu sarapan dan kue tradisional, warung ini juga menyajikan rujak atau pencok. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Budaya mewarung, tak selalu berkonotasi negatif. Karena dibalik itu ada kearifan lokal masyarakat. Khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Warung sering menjadi pertemuan antarwarga, khususnya di kampung-kampung sehingga menjadi ajang silaturahim.
Hampir di seluruh desa di kecamatan-kecamatan di HSS dengan mudah ditemukan warung kecil sederhana, dengan harga “bersahabat”.

Pemilik warungpun rata-rata sangat ramah, dan menyajikan menu sarapan tradisional. Seperti nasi kuning, lontong, ketupat dan kue tradisional.

Tradisi Unik Warga Hulu Sungai Selatan, Menjalin Silaturahmi & Persaudaraan saat Santap Lontong

Ritual Teddy & Lina, Mantan Istri Sule Tiap Jumat Terungkap, Ibu Rizky Febian & Delina Lakukan Ini

FAKTA Keraton Agung Sejagat di Jogjakarta, dari Pengakuan Pengikut Hingga Bayar Seragam Rp 3 Juta

Ada pula lamang, kue ontuk-ontuk , pisang goreng, patah, roti pisang dan jenis kue lainnya. Berbeda dengan budaya mewarung di perdesaan yang masih hidup, di perkotaan, menurut budayawan HSS Aliman Syahrani, mulai surut, atau berkurang.

“Budaya mewarung di perkotaan, justru berpindah ke warung malam, di pinggir kota yang pengunjungnya didominasi anak muda. Tentu dengan tujuan lain tak sekedar sarapan atau makan minum sebagaimana layaknya warga orang tua di kampung-kampung. Mereka lebih pada rame-rame dan kadang mencari kenalan. Apalagi penunggu warungnya cantik,” ungkap Aliman.

Tim Gabungan Polres HSS melakukan razia pengujung warung malam, di di Jalan ingkar Selatan Desa Baluti Kandangan. Sasaran razia tersebut, pengunjung  warung yang membawa senjata tajam, penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan daftar G
Tim Gabungan Polres HSS melakukan razia pengujung warung malam, di di Jalan ingkar Selatan Desa Baluti Kandangan. Sasaran razia tersebut, pengunjung warung yang membawa senjata tajam, penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan daftar G (HO/Humas Polres HSS)

Jalin Silaturahmi & Persaudaraan Sambil Santap Lontong

Kalau anda berkunjung ke Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), jangan heran di Bumi Antaludin ini banyak sekali terdapat warung. Khususnya warung kecil sederhana yang menyajikan menu sarapan warisan nenek moyang.

Seperti nasi kuning, lontong, ketupat, yang disajikan bersama ikan gabus, telur dan ayam serta aneka kue tradisional senantiasa diminati masyarakat pembeli.

Biasanya pagi-pagi sekali, masyarakat sudah nongkrong di warung untuk sarapan. Bukan karena di rumah tak mampu membuat sarapan sendiri.

Lebih dari itu, masyarakat menjadikan warung sebagai ajang silaturahmi. Makan bersama, lalu ngobrol tentang kehidupan sehari-hari.

Budaya mewarung atau sarapan di warung ini bukan hal aneh bagi masyarakat setempat, khusunya di kampung-kampung. Pengunjungnya pun tak hanya laki-laki, tapi juga perempuan hingga anak-anak.

“Budaya ini sudah ada sejak waktu yang tak bisa disebutkan secara pasti. Namun bagi urang Banjar, khususnyamasyarakat HSS, selain untuk berakrab ria antar waraga, warung juga berfungsi sebagai media memperoleh dan bertukar informasi. Tentu saja selain untuk memenuhi kebutuhan sarapan atau berbelanja makan dan minum,”ungka Aliman Syahrani, budayawan dari Kandangan. (Banjarmasinpost/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved