Opini Publik

Hadirkan Karakter Siaga Bencana Lewat Kurikulum

Banjir dan tanah longsor kembali melanda sebagian wilayah di Tanah Air. Di penghujung akhir tahun 2019 dilaporkan terjadi banijr di beberapa wilayah

Hadirkan Karakter Siaga Bencana Lewat Kurikulum
Banjarmasin Post Aya Sugianto
Kelurahan Cempaka dan Kelurahan Sungai Tiung Banjarbaru terandam Banjir, Minggu (5/1/2020). 

Oleh: Dewi Ayu Larasati, SS, M. Hum, Staf Pengajar Universitas Sumatra Utara.

BANJARMASINPOST.CO.ID - Banjir dan tanah longsor kembali melanda sebagian wilayah di Tanah Air. Di penghujung akhir tahun 2019 dilaporkan terjadi banijr di beberapa wilayah seperti Labuhan Batu-Sumut, Lahat-Sumsel, Bandung Barat-Jabar.

Di awal tahun baru tanggal 1 Januari 2020 banjir menyapa warga Jabodetabek. Korban jiwa serta harta benda telah jatuh dengan jumlah tak sedikit. Menurut Kepala BNPB Doni Monardo banjir ini adalah banjir terparah yang melanda ibukota dan sekitarnya sejak tahun 2013.

Banjir menjadi masalah akut yang tak hanya terjadi dalam satu atau dua tahun belakangan. Banjir menjadi “bencana tahunan” yang kerap datang dan pergi di kehidupan masyarakat Jakarta.

Seorang antropolog sosial asal Belanda, Roanne van Voorst pernah melakukan penelitian ekstensif di salah satu wilayah yang paling rawan banjir di Jakarta. Dalam bukunya berjudul Tempat Terbaik di Dunia: Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta (2018), ia menemukan fakta bahwa banjir menjadi semacam ‘ritual’ tahunan yang mesti dipersiapkan sedemikian rupa oleh warga yang lingkungannya kerap dihantam banjir. Persiapan itu dinilai penting untuk meminimalisir korban dan kerugian harta.

Namun kejadian bencana banjir yang berulang di Indonesia tampak seperti tanpa solusi yang komprehensif. Hal ini menunjukkan masyarakat dan pemerintah belum sepenuhnya lebih sigap mengantisipasi.

Masih rendahnya manajemen penanganan pengungsi yang diindikasikan oleh beberapa hal, antara lain:

Pertama, terjadi kepanikan dan kesemrawutan dalam proses evakuasi warga. Informasi yang terbilang simpang siur membuat warga tidak bisa menyelamatkan semua barang-barang miliknya. Mereka pun harus bekejar-kejaran menyelamatkan barang-barang dari sore hingga malam hari. Ada pula sebagian warga yang terisolasi di atas atap rumahnya dan tidak bisa mencari makan, terlebih dalam kondisi listrik padam. Kurangnya perahu karet yang memiliki motor atau mesin juga menjadi kendala proses evakuasi lantaran korban yang dievakuasi cukup banyak.

Kedua, ketidakjelasan tempat tujuan warga untuk mengungsi. Sebagian warga ada yang terpaksa memilih mengungsi ke Halte Transjakarta akibat kurangnya posko pengungsian di sekitar lokasi terdampak banjir.

Ketiga, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi (logistik) tidak merata. Korban banjir yang mengungsi masih memerlukan sejumlah kebutuhan mendesak seperti terpal, selimut, pakaian dewasa dan anak-anak, obat-obatan, makanan, minuman, kebutuhan akan air bersih dan juga MCK.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved