Dibalik Budaya Mawarung di HSS

Warung Komisi X Tergusur Muncul Warung Medsos di HSS, Tempat Warga Zaman Now Lakukan Aktivitas Ini

Fungsi warung sebagai tempat berkumpul dan bersilaturahim, masih hidup di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebagai kota Kabupaten.

Warung Komisi X Tergusur Muncul Warung Medsos di HSS, Tempat Warga Zaman Now Lakukan Aktivitas Ini
banjarmasinpost.co.id/hanani
Salah satu warung di kawasan Jalan Aluh Idut Kandangan, yang ramai pengujung pagi, siang hingga malam hari. Selain menyajikan menu sarapan dan kue tradisional, warung ini juga menyajikan rujak atau pencok. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Fungsi warung sebagai tempat berkumpul dan bersilaturahim, masih hidup di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebagai kota Kabupaten.

Namun, fungsinya sebagai tempat dikskusi dan berbagi informasi, mulai berkurang karena bergeser ke budaya sosial media (Sosmed). Khususnya di kalangan anak muda. Mereka lebih suka mengemukakan pendapat melalui medsos. Sedangkan ke warung, hanya sekedar hiburan dan kumpul rame-rame sambil ngopi, atau ngeteh.

“Warung seperti Komis X itu sekarang tidak ada lagi di Kandangan. Mungkin karena saat ini pengujungnya sudah pindah ke “Warung Medsos”. Atau group-group WA, sebagai media berbagi informasi. Terbukti banyak group-group whats’up yang sifatnya publik, dimana warga bebas berbagi informasi apa saja, dan kapan saja,” kata Budayawan dari Kandangan HSS, ALiman SYahrani.

Menurut Aliman, pergeseran budaya tersebut, karena gaya hidup digital makin kuat. Jaringan internetpun sudah masuk hingga kepelosok perdesaan. Orang dengan mudah berbagi informasin maupun mendapatkan berita-berita terkini, hanya melalui telepon genggam.

Ada Warung Namanya Komisi X, Pengujungnya Berbagai Profesi, Wakil Bupati HSS Pun Datang Malam-malam

FAKTA Pria Pura-pura Pindah Agama, Gasak Harta Milik Ustaz hingga Bergerilya dari Masjid ke Masjid

Ritual Teddy & Lina, Mantan Istri Sule Tiap Jumat Terungkap, Ibu Rizky Febian & Delina Lakukan Ini

Meski demikian, budaya mewarung sebagai tempat berkumpul, belum tergantikan. “Sekalipun juga muncul café-café yang menawarkan konsep “mawarung” lebih modern, tapi belum mampu mengalahkan budaya mewarung tradisional, yang mengakar di masyarakat.

Warung Komisi X di HSS

Seperti diketahui budaya mewarung di Hulu Sungai, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), tak lepas dari budaya masyarakatnya yang rakat (akrab) dan suka bermufakat (sepakat setelah tukar pendapat).

Warung tak sekedar tempat makan, tapi juga jadi tempat ngobrol yang asyik tempat diskusi dan berbagi informasi antara pengunjung.

Bahkan, pada tahun 2000-an di Kota Kandangan sebagai ibukota kabupaten pernah ada warung legendaris.

Namanya warung mama Fuad, yang letaknya di jalan Panglima Batur Kandangan. Beda dengan warung umumnya yang dijadikan tempat sarapan. Warung ini justru ramai pada malam hari, selepas waktu salat isya.

Tak hanya menunya yang menarik, yaitu kue lupis, kolak pisang, apam serabi, lapat, laksa, lontong serta menu makan malam berupa nasi lengkap dengan laukpauknya. Daya tarik lainnya adalah pengujung yang hadir. Mereka dari kalangan berbagai profesi.

Salah satu warung di kawasan Jalan Aluh Idut Kandangan yang ramai pengujung pagi, siang hingga malam hari. Selain menyajikan menu sarapan dan kue tradisional, warung ini juga menyajikan rujak atau pencok.
Salah satu warung di kawasan Jalan Aluh Idut Kandangan yang ramai pengujung pagi, siang hingga malam hari. Selain menyajikan menu sarapan dan kue tradisional, warung ini juga menyajikan rujak atau pencok. (banjarmasinpost.co.id/hanani)
Halaman
123
Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved