Tajuk

Konsumen Cerdas

Tak pernah kapok. Tak pernah jerah. Penipuan ‘massal’ dengan berbagai modus, masih saja laris manis dan diminati ribuan korban.

Konsumen Cerdas
SURYA.co.id/Luhur Pambudi
Kedua tersangka penipuan investasi bodong via aplikasi MeMiles saat gelar rilis di Mapolda Jatim 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Tak pernah kapok. Tak pernah jerah. Penipuan ‘massal’ dengan berbagai modus, masih saja laris manis dan diminati ribuan korban.

Yang peling akhir, skema ponzi dipraktikkan lagi dan merugikan korban lebih dari Rp 700 miliar. Kali ini bernama MeMiles di bawah bendera PT Kam and Kam. Pelakunya adalah residivis. Kamal Tarachand alias Sanjay, yang pernah dipenjara gara-gara penipuan ‘iklan’ pada tisu.

Modus penipuan skema ponzi plus iming-iming hadiah tak masuk akal itu, kali ini disajikan Sanjay secara digital. Pelaku menyediakan aplikasi yang bisa didownload di App Store amupun di Play Store. Untuk sebagian orang, aplikasi adalah keren.

Pada aplikasi itu, Sanjay menawarkan hadiah menggiurkan. Satu di antaranya, hanya dengan top up dana Rp 8,4 juta, peserta akan mendapatkan hadiah mobil Pajero.

Selaih hadiah, kasus ini diduga memanfaatkan para pesohor untuk dijadikan contoh ‘jujur’. Tercatat ada lima pesohor yang sudah dipanggil Polda Jatim untuk dimintai keterangan.

Walhasil, kuat dugaan ketertarikan ribuan orang ini lantaran dua hal utama. Pertama, keuntungan besar dengan ‘keringat’ yang tak perlu deras. Dan kedua, contoh sukses dari para pesohor.

Dua faktor tersebut selalu dimanfaatkan para pelaku penipuan massal. Baik bermodus investasi, hadiah, atau bahkan umrah.

Lalu, resep apa yang harus dijalankan agar kita menjadi konsumen cerdas yang akal sehatnya tidak ‘tertipu’ harga dan referensi? Jawabnya hanya satu, yakni kembali pada faktor utama marketing bernama; Produk (termasuk kualitas dan kuantitas produk).

Banjarmasin Post edisi Kamis (16/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Kamis (16/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Semurah apapun atau semenarik apapun sang pemasar atau pereferensi, seharusnya calon konsumen memilih dan memilah produk yang akan ‘dibelinya’.

Bila produknya buruk, tidak masuk akal, cacat, membahayakan, ukurannya salah, timbangannya salah, tentu tidak perlu dibeli. Meski produk itu berharga murah atau ditawarkan sales promostion girl (SPG) memikat hati atau direferensikan tokoh dan pesohor.

Bila mobil bekas terendam banjir, tipe terendah dan dibuat 20 tahun lalu, harga pasar masih lebih dari Rp 15 juta. Akal sehat mana yang mau mentransfer Rp 8,5 juta untuk mendapatkan benar-benar mobil Pajero dan bukan miniatur Pajero. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved