Opini Publik

Orientasi Kebijakan Pendidikan Nadiem?

Tulisan ini bukan berarti menghakimi atau mendahului seseorang yang belum bekerja atau baru memulai bekerja, namun tetap penting untuk mengamati

Orientasi Kebijakan Pendidikan Nadiem?
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (tengah) menyapa para guru saat menghadiri puncak peringatan HUT ke-74 PGRI di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (30/11/2019). Acara tersebut mengangkat tema Peran strategis Guru dalam mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia unggul. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/wsj. 

Oleh: MOH. YAMIN, Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM)

BANJARMASINPOST.CO.ID - Tulisan ini bukan berarti menghakimi atau mendahului seseorang yang belum bekerja atau baru memulai bekerja, namun tetap penting untuk mengamati apa yang dilakukan. Nadiem Anwar Makarim dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 23 Oktober 2019, akan tetapi belum tampak apa yang akan dilakukan hingga saat ini.

Gagasan terobosan besarnya belum muncul ke ruang publik tentang apa yang harus dilakukan dalam rangka membenahi dunia pendidikan. Pemikirannya untuk memberikan arah pendidikan nasional yang lebih bermakna juga belum kelihatan. Jika berbicara tentang kurikulum 2013 terkait apa yang harus dilakukan, apakah tetap bertahan atau direvisi juga belum muncul. Menarik apa yang disampaikan Doni Koesoema, kurikulum pendidikan harus melakukan transformasi apabila ingin menjawab tuntutan dan perubahan zaman (Media Indonesia, 2/11/19). Perubahan adalah sebuah keniscayaan sehingga apakah nama kurikulum tetap bertahan, mengalami revisi, atau yang terjadi revisi adalah isi, maka ini perlu digaungkan di ruang publik sehingga masyarakat pendidikan menjadi tahu.

Apabila harus berbicara inovasi pendidikan, termasuk teknologi dalam pendidikan apa yang harus digarap, tampak juga belum menyeruak ke ruang publik. Harusnya sudah punya grand pemikiran bagaimana mengaitkan inovasi dalam pendidikan dan teknologi dalam pendidikan sehingga masyarakat pendidikan bisa mengikuti. Jika berbicara tentang strategi pembangunan sumber daya manusia unggul seperti apa yang harus dilakukan agar sesuai dengan arah visi Presiden juga tidak memperlihatkan arah kesana. Dengan kata lain, strategi apa yang harus dilakukan dalam pembangunan sumber daya manusia. Pemikiran dan gagasan visioner seorang menteri tidak mesti harus berbasis kepada data berapa jumlah anak didik baik di tingkat dasar, menengah pertama dan atas serta pendidikan tinggi, termasuk data jumlah guru dan dosen yang harus ditingkatkan kualitasnya. Visi pembangunan sumber daya manusia adalah konsep universal dan implimentasinya dapat disesuaikan dengan keadaan di lapangan. Ini yang selanjutnya dinamakan konsep pembangunan sumber daya manusia unggul. Selanjutnya, jika berbicara tentang pembangunan infrastruktur pendidikan, Nadiem belum merilis itu. Ini bukan berarti bahwa kita mau menuntut cepat untuk bekerja namun itulah tugas seorang menteri yang harus bekerja cepat dan tangkas.

Slogan Joko Widodo yang menuntut siapapun, termasuk para menterinya untuk bekerja cepat perlu dipahami dan dijadikan sandaran mereka untuk bisa menerjemahkan mimpi dan visi presiden ke ranah yang lebih konkret. Oleh sebab itu, konteks pendidikan yang berkenaan dengan hajat hidup orang banyak pun perlu disegerakan. Jangan terlalu lama berpikir dan merenung.

Jangan menggunakan waktu belajar dan merenung sebagai sesuatu yang tunggal. Jika bisa belajar dan merenung sambil bekerja, mengapa bukan itu saja yang dilakukan sehingga saat bekerja, maka di situlah ada makna belajar dan mempelajari persoalan-persoalan pendidikan yang dihadapi rakyatnya. Konsep belajar dan mempelajari tidak bisa harus dipisahkan dari realitas sebab semakin memisahkan realitas dan proses belajar itu sendiri, maka semakin jauh antara harapan (Das Sollen) dan kenyataan (Das sein).

Oleh sebab itu, langkah segera dan cepat yang perlu dilakukan Mendikbud adalah susun strategi belajar sambil bekerja. Jika Nadiem mampu bekerja cepat dalam merintis dan mengelola usahanya Gojek, itu pun juga perlu terjadi kepada dunia pendidikan. Membiarkan persoalan pendidikan terus menerus terabaikan karena kelamaan merenung dan berpikir akan menjadikan semakin banyak persoalan pendidikan bertambah secara kuantitas.

Kuantitas persoalan pendidikan tidak akan pernah berhenti bertambah, akan tetapi terus meningkat dari masa ke masa. Robohnya sekolah dasar negeri Gentong, Kota Pasuruan, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa merupakan contoh nyata ketika tidak ada pengawasan serius dari sebuah proyek pembangunan infrastruktur pendidikan (5/11/19). Pertanyaannya adalah haruskah kita terus belajar dan mempelajari apa yang sedang terjadi di dunia pendidikan? Haruskah itu semua belum cukup untuk menjadi pelajaran bahwa saatnya kita bekerja dan bekerja cepat untuk pembangunan pendidikan yang bermarbat dan unggul.

Banjarmasin Post edisi Kamis (16/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Kamis (16/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Reformulasi Visi Pendidikan

Visi pendidikan Joko Widodo adalah pembangunan sumber daya manusia unggul. Karena wilayah implimentasi berada di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim perlu segera mereformulasi arah pendidikan nasional ke depan. Reformulasi harus dilalui melalui kajian mendalam terhadap persoaan-persoalan pendidikan yang sudah terjadi dalam 5 tahun terakhir saat periode pertama Joko Widodo. Untuk itu, tidak memerlukan waktu lama untuk melakukan sinkronisasi karena data sudah ada di Balitbang Kemendikbud.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved