Hilangnya Tradisi Manugal

Kebakaran Lahan Menggerus Manugal, Cara Bertani Khas Dayak yang Mengandung Makna Kebersamaan

Manugal merupakan cara bertani atau berladang untuk menanam padi, sayuran maupun buah-buahan yang dilakukan oleh warga Dayak di Kalimantan Tengah

Kebakaran Lahan Menggerus Manugal, Cara Bertani Khas Dayak yang Mengandung Makna Kebersamaan
tribunkalteng.com/fathurahman
Tradisi Manugal, Cara Bertani Khas Dayak yang Mengandung Makna Kebersamaan 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Manugal merupakan cara bertani atau berladang untuk menanam padi, sayuran maupun buah-buahan yang dilakukan oleh warga Dayak di Kalimantan Tengah secara turun-temurun sejak dahulu.

Sayangnya, bertani dengan cara manugal sudah langka ditemui di Bumi Tambun Bungai.

Cara bertani dengan kearifan lokal khas dayak tersebut saat ini makin tergerus, seiring gencarnya larangan membuka lahan dengan cara membakar yang diterapkan oleh pemerintah melalui aparat keamanannya.

Aturan ini membuat masyarakat pinggiran Kalteng takut.

Artis Pengirim Santet ke Ashanty Disinggung, Ibu Sambung Aurel Hermansyah Ditarget Mati Perlahan

Inul Terpaksa Sekolah di Bawah Terpal Diikat di Pohon, Belasan Bocah Dusun di Balangan Buta Huruf

Video Pernikahan Sule Viral Pasca Lina Meninggal, Foto Ayah Rizky Febian Akad dengan Wanita Beredar

Padahal, bagi warga Dayak Kalteng, selama puluhan bahkan ratusan tahun mereka melakukan kegiatan tersebut tidak pernah memunculkan kabut asap yang pekat seperti terjadi dalam beberapa tahun ini.
“Lahan yang kami bersihkan untuk ditanami padi, sayuran dan buah-buahan merupakan lahan kami sendiri,” ujar peladang, Dariti Hildan, Rabu (15/1).

Diungkapkan dia, tradisi manugal memang proses awalnya dengan cara membakar untuk membersihkan lahan dari rumput dan tanaman liar, sampahnya ditempatkan tersendiri kemudian dibakar namun dijaga oleh banyak orang, dan dilakukan pada saat pergantian musim dari kemarau ke penghujan karena lahan gambut basah.

Ada sekitar 40 orang keluarga dan warga di Desa Baruang, Kecamatan Gunung Bintang Away, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, yang tampak melakukan kegiatan manugal ini dan berhasil memproduksi padi, sayuran dan buah.

“Semua yang ikut manugal adalah keluarga dan tetangga kami, bergotong royong untuk mendapatkan beras untuk dimakan sendiri, bukan untuk dijual,” ujar Dariti.

Dikatakan dia, selain padi, tanaman lainnya yang ditanam sayuran dan buah-buahan.

Ketika lahan bersih dan siap ditanam, petani lokal ini bersama-sama beriringan membuat lubang dengan kayu yang dihentakan ke tanah kemudian benih padi pun ditebar sedangkan tanaman sayuran dan buah ditanam disekitarnya.

Kebersamaan sangat tampak dalam manugal yang dilakukan warga Dayak ini, bahkan usai menugal pun puluhan peladang ini makan bersama di bawah pohon hutan sekitar lokasi tempat menugal.

“Tradisi ini sudah kami lakukan turun-temurun sejak lama, saat memberihkan lahan kami juga sudah izin dengan lurah atau petugas terkait lainnya,” ujar Dariti.

Lahan yang ditanam seluas dua hektare ditugal selama dua hari dan selama enam bulan menunggu baru benih menjadi padi yang menguning dan siap dipanen oleh keluarga dan tetangga peladang di Kabupaten Barito Selatan ini.

“Padi yang dihasilkan sekitar dua ton, kami panen itu untuk makan kami selama setahun dibagi-bagi dengan anak dan cucu kami juga tetangga sehingga kami tetap bisa bertahan hidup dan saling membantu sesama keluarga,” ujar Misnun Uten, tetuha keluarga peladang setempat.

Warga Dayak Barito Kalteng ini, berharap ada kebijakan bagi mereka untuk mempertahankan tradisi manugal tersebut, karena selama ini warga bisa hidup dan mendapatkan makanan terutama beras, sayuran dan buah dari tradisi tersebut.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved