Berita Tapin

Pemilik Lahan di Perbatasan Tapin-Batola Gelisah, ini Penyebabnya

Sejumlah pemilik lahan di lingkungan RT 12 RW 04 Desa Keladan, Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin, Kalsel gelisah.

Pemilik Lahan di Perbatasan Tapin-Batola Gelisah, ini Penyebabnya
HM FACHRY UNTUK BPOST GROUP
Ilustrasi-Pertumbuhan rumpun padi program Serasi 2018 tak merata akibat genangan air dalam yang sempat melanda hamparan lahan sawah. Tahun ini tata airnya ditangani lebih baik lagi. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Sejumlah pemilik lahan di lingkungan RT 12 RW 04 Desa Keladan, Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) gelisah.

Kegelisahan itu karena lahan pertanian mereka terkena proyek saluran pertanian padi, diduga realisasi program Selamatkan Rawa Sejahtera Petani (Serasi) Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Proyek pembuatan saluran pengairan itu hingga merambah lahan warga Desa Keladan, Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin.

Tokoh masyarakat di Desa Keladan, H Ardiansyah mengatakan lahan yang terdampak proyek penggalian saluran irigasi itu dikeluhkan karena memotong lahan warganya di bagian tengah dan tanpa pemberitahuan.

"Pemilik lahan yang terkena proyek saluran pengairan program pertanian itu, mereka gelisah dan mengeluh kepada kepala desa Keladan sesuai domisili letak posisi lahannya di wilayah Kecamatan Candi Laras Utara," katanya.

Haul ke-15 Guru Sekumpul, Sebanyak 23.988 Personil Disiapkan

Bikin Resah Warga Palangkaraya, Pembalap Liar Kocar-Kacir Lihat Polisi

PNS yang Kepergok Mesum di Solo Paragon Mall Ternyata Pria Profesional, Mobilnya Seperti Kamar Mesum

Urusan Ranjang Disinggung, Ahmad Dhani Bikin Mulan Jameela Geleng Kepala, Eks Maia Ungkap Soal Rindu

Informasi dihimpun reporter Banjarmasinpost.co.id, lahan yang terdampak proyek saluran pengairan pertanian itu bukan hanya warga Desa Keladan.

Akan tetapi, lahan yang terdampak juga pemiliknya berasal dari Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar dan Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Batola karena peralihan hak jual beli dan warisan orangtua mereka.

Kepala Desa Keladan, Saleh dikonfirmasi reporter Banjarmasinpost.co.id, Minggu (19/1/2020) membenarkan pengaduan warganya dan pemilik lahan di kantor Pemerintah Desa Keladan.

"Saya sempat menahan alat berat yang membuat saluran pertanian itu untuk berhenti. lebarnya sekitar dua meter dengan panjang diperkirakan mencapai belasan kilometer," katanya.

Namun, aktivitas penggalian itu hanya setop sementara saat ditegur kepala desa Keladan. Begitu, Kepala desa balik ke Kantor Desa Keladan, alat berat itu kembali menggali parit hingga kini.

Saleh menduga, kegiatan proyek penggalian saluran pertanian di wilayah Desa Keladan itu diduga dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Batola.

Polsek Lontar Cokok Pengedar Sabu, Seorang Pelaku Kabur Ketika Akan Diperiksa

Lokasi CFD di Bundaran Besar Palangkaraya Mirip Pasar Tumpah, Fikri Semakin Susah Bergerak

Hasil Autopsi Lina, Mantan Istri Sule Disinggung, Polisi Ungkap Perkembangan Kasus Ibu Rizky Febian

Itu karena Saleh mengaku mempertanyakan kegiatan penggalian parit saluran pertanian itu ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Tapin.

"Saya datangi Kantor Dinas PUPR Tapin di Rantau, tidak ada kegiatan proyek saluran air di wilayah Desa Keladan," katanya.

Saleh berharap penegasan tata batas antarkabupaten segera dituntaskan, pemerintah dikedua belah agar tidak menimbulkan konflik agraria.

"Sebenarnya pernah ada kegiatan pelacakan tata batas di perbatasan itu, cuma hingga kini belum ada kejelasan," katanya. (banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved