Jendela

Di Balik Impian Kuasa Sejagat

Kemunculan Keraton Agung Sejagat dan Sunda-Empire Earth-Empire di awal tahun 2020 ini membuat banyak orang menerka-nerka

Di Balik Impian Kuasa Sejagat
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kemunculan Keraton Agung Sejagat dan Sunda-Empire Earth-Empire di awal tahun 2020 ini membuat banyak orang menerka-nerka. Ada yang bilang, ini hanya rekayasa pengalihan isu belaka. Ada pula yang menilai, ini sekadar dagelan saja. Adapun Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, berpendapat, semua ini bukti bahwa sekarang banyak orang stres.

Saya tertarik pada teori stres di atas. Stres secara bahasa artinya tegang dan tertekan. Orang jadi tegang karena ada masalah. Masalah muncul akibat kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Harapannya indah, kenyataannya buruk. Sains dan teknologi modern telah banyak mempermudah hidup manusia, tetapi masalah-masalah lama dan baru tidak semuanya selesai, bahkan bertambah-tambah.

Ketika masalah begitu berat dengan tali-temali sebab akibat yang kusut, orang secara alamiah akan berusaha mencari bantuan kepada pihak yang dianggap mampu, mungkin kepada kiyai, dokter, dukun, psikolog, tetua masyarakat atau ‘orang pintar’. Pada akhirnya, orang berharap akan kehadiran manusia luar biasa sebagai pemimpin kiriman Tuhan, Ratu Adil, Imam Mahdi atau khalifah yang adil-bijaksana.

Di negeri kita, rezim silih berganti. Kadang harapan melambung tinggi, kadang kekecewaan menusuk hati. Pada 1998, rezim Soeharto jatuh, dan banyak orang berharap perubahan besar akan terjadi. Rakyat tak lagi dikibuli. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) akan diberantas tuntas. Ternyata, hampir 22 tahun berlalu, kenyataan masih jauh panggang dari api. Demokrasi kita tergadai pada politik uang dan oligarki.

Apakah kita sudah terjebak di jalan buntu? Tidak! Mengapa? Karena manusia itu pada hakikatnya baik dan merindukan kebaikan. Saya pun yakin, masih ada orang-orang baik di sekitar kita. Masalahnya adalah, kebanyakan dari kita menyukai orang baik, tetapi membenci orang yang berusaha memperbaiki yang buruk, terutama jika perbaikan itu mengganggu kepentingan pribadi dan/atau kelompok kita.

Seorang sahabat lama di Sumatera bercerita kepada saya. Dia pernah dipercaya seorang gubernur untuk mengawasi berbagai proyek. Uang sogok datang bertubi-tubi, tetapi selalu dia tolak. “Saya tidak terima uang seperti ini. Saya sudah cukup dengan rezeki yang halal. Sedikit tapi halal itu berkah,” katanya. Tak jarang si penyogok menangis dan berkata, “Di zaman seperti ini, masih ada orang baik seperti Bapak!”

Banjarmasin Post edisi Senin (20/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (20/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Keterharuan si penyogok itu mungkin mewakili perasaan banyak orang. Kejujuran semakin hari semakin langka. Integritas hanya kata indah penghias bibir belaka. Kemunafikan seolah sudah biasa. Pidatonya tentang kejujuran, praktiknya justru terbalik. Ironi ini bukan hanya berlaku pada para pemimpin, tetapi juga pada para anak buah. Pemimpin jujur dimusuhi. Pemimpin yang mau kerjasama korupsi disayangi.

Begitu pula, sungguh naif jika kita menganggap korupsi dan penyelewengan hanya dilakukan oleh pejabat negara. Pihak swasta kadangkala lebih gila. Janji-janji seindah madu, tetapi faktanya sepahit empedu. Kontrak tidak dilaksanakan sesuai janji. Sikap masyarakat dalam pemilu juga begitu. “Meski Anda mampu dan jujur, Anda akan dikalahkan oleh orang yang bagi-bagi uang,” kata seorang kawan.

Saya sendiri beberapa kali pernah didatangi di tempat parkir saat mau pulang dari satu acara oleh orang-orang yang mengaku wartawan, entah dari media apa. Mereka minta duit! Adapula surat dari LSM antah berantah yang minta sumbangan. Saya tidak pernah menuruti permintaan mereka. Saya tidak mau membenarkan anggapan bahwa setiap pejabat itu banyak duit ‘berkat’ korupsi sehingga harus bagi-bagi!

Jadi, kita tengah mengalami krisis integritas di hampir semua lapisan masyarakat. Namun, karena nurani manusia itu adalah baik dan rindu akan kebaikan, orang diam-diam terus mencari pintu harapan. Ada yang tertarik pada ‘jihad’ bom bunuh diri yang konon adalah jalan tol ke surga. Adapula yang tergoda pada model kekuasaan kuno seperti kerajaan, empirium atau khilafah yang mencakup seluruh dunia.

Alhasil, kerinduan akan model kekuasaan baru, betapa pun konyolnya, memantulkan dua sisi penting: ketidakpuasan terhadap kenyataan yang ada, dan kerinduan akan perbaikan. Kelemahan kita tampaknya adalah, meskipun keinginan akan yang baik dan benar itu tetap bergema di hati kita, kita belum menjadi bangsa yang teguh, kuat, dan konsisten memegang yang baik dan benar itu. Integritas kita masih rapuh! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved