Tajuk

Menjawab Penculikan WNI

BELUM lagi Muhammad Farhan (27) pulang ke Tanah Air setelah dibebaskan dari sekapan kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina

Menjawab Penculikan WNI
(Screengrab from The Star)
Ketiga nelayan Indonesia dalam rekaman video yang dirilis Abu Sayyaf pekan lalu. Ketiganya ditangkap September lalu, di mana Abu Sayyaf meminta tebusan Rp 8 miliar. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - BELUM lagi Muhammad Farhan (27) pulang ke Tanah Air setelah dibebaskan dari sekapan kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina, lima warga negara Indonesia (WNI) kembali diculik kawanan bersenjata dari negara Presiden Rodrigo Duterte.

Penculikannya pun bahkan hanya berselang sehari setelah Farhan dibebaskan militer Filipina yakni pada Jumat (17/1). Mereka diculik dari kapal nelayan Malaysia di peraian Negara Bagian Sabah.

Berdasarkan keterangan Konsul Republik Indonesia di Tawau Malaysia, sejak tahun 2000 ada 44 WNI yang diculik kelompok bersenjata Filipina di perairan Malaysia. Sebanyak 38 orang berhasil dibebaskan dan satu orang meninggal dunia. Melihat kejadian-kejadian sebelumnya, penculikan terbaru sepertinya juga dilakukan Kelompok Abu Sayyaf.

Setidaknya ada dua pertanyaan muncul dari penculikan ini. Pertama mengapa kelompok Abu Sayyaf yang merupakan milisi pembebasan daerah muslim di Filipina Selatan kerap menculik warga Indonesia yang mayoritas muslim? Padahal secara politik ini tidak menguntungkan bagi kelompok Abu Sayyaf. Mereka memerlukan dukungan dari Indonesia, yang berbatasan langsung dengan Filipina Selatan, saat berhadapan dengan pemerintahan Manila.

Pertanyaan kedua adalah kenapa banyak warga Indonesia yang menjadi nelayan di Malaysia? Padahal Indonesia tengah getol-getolnya mengembangkan sektor perikanan.

Tentunya ada banyak jawaban untuk menjawab dua pertanyaan ini. Untuk pertanyaan pertama, melihat dari lokasi kejadian, mungkin pelaku tidak tahu kalau korban adalah WNI. Soalnya yang disasar adalah kapal nelayan Malaysia. Mengapa sasarannya adalah nelayan Malaysia? Ini terkait dengan sengketa wilayah perbatasan di sana.

Banjarmasin Post edisi Senin (20/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (20/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Jika Abu Sayyaf menghormati Indonesia semestinya sandera WNI dibebaskan. Namun selama ini, hal itu tidak dilakukan. Artinya Indonesia tidak lagi dipandang sebagai penengah bagi Abu Sayyaf untuk menghadapi pemerintah Filipina. Melihat hal ini, tak ada yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia kecuali memperingatkan warga negeri ini dan mengharapkan aksi militer Filipina untuk membebaskan WNI.

Sebenarnya ada langkah yang lebih efektif untuk mencegah penculikan WNI oleh milisi Filipina Selatan yakni mencegah rakyat negeri ini menjadi nelayan di Sabah Malaysia. Caranya tentu saja membuka peluang usaha perikanan di negeri sendiri. Ini juga untuk menjawab pertanyaan kedua, mengapa banyak warga Indonesia yang menjadi nelayan di Malaysia. Banyak warga Indonesia pergi ke Malaysia karena sulit mencari pekerjaan di negeri sendiri.

Bagaimana mungkin warga Indonesia menjadi nelayan di Malaysia pada saat ikan di negeri sendiri melimpah. Pemerintah harus memikirkan cara supaya warga negeri ini tertarik menjadi nelayan dan berusaha di bidang kelautan. Beri perhatian lebih kepada nelayan.

Jangan hanya saat menghadapi kekuatan Cina di perairan Natuna, nelayan diperhatikan dan didorong agar melaut di sana. Lebih memalukan lagi bila ternyata kapal-kapal nelayan asing yang mencuri ikan di negeri ini ternyata diawaki orang Indonesia.

Bila pemerintah mau menjawab dua pertanyaan tersebut diharapkan takkan ada lagi warga Indonesia yang diculik oleh kelompok bersenjata di Filipina. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved