Opini Publik

Rasionalitas dan Jebakan Investasi

Meningkatnya gairah masyarakat untuk berinvestasi dewasa ini tampaknya masih belum dibarengi dengan pemahaman yang baik mengenai seluk-beluk investasi

Rasionalitas dan Jebakan Investasi
SURYA.co.id/Luhur Pambudi
Kedua tersangka penipuan investasi bodong via aplikasi MeMiles saat gelar rilis di Mapolda Jatim 

Oleh: R Wulandari, Lulusan Program Manajemen Keuangan dan Perbankan Indonesia (AKPI).

BANJARMASINPOST.CO.ID - Meningkatnya gairah masyarakat untuk berinvestasi dewasa ini tampaknya masih belum dibarengi dengan pemahaman yang baik mengenai seluk-beluk investasi sehingga tidak jarang para investor akhirnya kejeblos menjadi santapan empuk para penyelenggara investasi abal-abal.Tidak sedikit kasus di mana para investor akhirnya harus gigit jari gara-gara duit yang mereka investasikan tak jelas ke mana rimbanya.

Sudah banyak kasus investasi bodong terkuak di negeri ini. Namun, tetap saja masih banyak warga masyarakat kita yang dengan gampangnya terperdaya oleh penyelenggara investasi abal-abal. Ambil salah satu contohnya yaitu praktek investasi bodong MeMiles, yang berhasil menggaet sebanyak 264.000 nasabah dan meraup duit sekitar Rp 750 miliar nasabah dalam tempo delapan bulan. Keberhasilan MeMiles menggaet banyak nasabah salah satunya karena memanfaatkan endorser dari kalangan artis.

Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan(OJK) memperkirakan kerugian akibat investasi bodong dalam sepuluh tahun terakhir (2008–2018) ditaksir sekitar Rp 88,8 triliun. Ironinya, mayoritas korban investasi bodong justru berasal dari kalangan berpendidikan tinggi.

Praktek investasi bodong sendiri sebetulnya mudah dikenali. Pengelola investasi bodong biasanya mengiming-imingi calon investor dengan keuntungan atau laba dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat. Keuntungan yang ditawarkan bahkan ada yang sampai 50 persen. Padahal, keuntungan paling logis dari sebuah bisnis investasi paling tinggi tak lebih dari 5%. Dalam kasus investasi MeMiles, misalnya, nasabah dijanjikan mendapatkan keuntungan sekitar 30 persen.

Selain iming-iming keuntungan menggiurkan dalam tempo yang singkat, ada juga pengelola investasi bodong yang pengelola bisnis investasi bodong yang mengiming-imingi para nasabahnya dengan bonus serta fasilitas aduhai. Misalnya, jalan-jalan ke luar negeri, umroh gratis, hadiah mobil serta rumah baru dan sebagainya. Untuk menggaet lebih banyak nasabah, pengelola investasi bodong tidak jarang pula memanfaatkan tokoh agama maupun pesohor tertentu. Testimoni mereka umumnya menjadi rujukan dan sekaligus magnet para calon nasabah untuk berbondong-bondong melakukan investasi, yang di kemudian hari ternyata justru bermasalah.

Banjarmasin Post edisi Kamis (23/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Kamis (23/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Tidak produktif

Melakukan investasi memang merupakan sebuah keharusan. Pendapatan yang kita miliki tidak boleh habis hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rutin. Bagaimanapun, kita perlu menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi diri kita dan keluarga kita.

Uang yang kita miliki dari sisa pengeluaran rutin sebaiknya tidak boleh dibiarkan dalam keadaan menganggur dan tidak produktif. Artinya, uang tersebut mesti kita manfaatkan untuk aktivitas yang produktif. Berinvestasi adalah salah satu cara memanfaatkan uang secara produktif dan sekaligus salah satu cara menyiapkan masa depan.

Saat ini, pelbagai peluang investasi ditawarkan, baik secara offline maupun online, dengan skema keuntungan yang tidak jarang sangat menggiurkan. Sayang, banyaknya tawaran untuk berinvestasi ini sering tidak dibarengi dengan sikap kritis para calon investor. Padahal, sikap kritis sangat dibutuhkan agar para calon investor benar-benar paham dan lebih berhati-hati mengenai sejumlah risiko yang terkait dengan produk investasi yang akan dipilihnya.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved