Breaking News:

Magnit Kampung Sungaitabuk

Lokasinya Terpencil, Tapi Jadi Rebutan Pemkab Banjar dan Tanahlaut, Terjadi Gesekan Antarwarga

Terpencil dan jauh dari ingar bingar keramaian kota tak lantas membuat Kampung Sungaitabuk terpinggirkan dalam sepi. Sebaliknya, permukiman kecil

banjarmasinpost.co.id/idda royani
Inilah bangunan gedung SD yang dibangun Pemkab Tala belasan tahun lalu di Kampung Sungaitabuk. Terbengkalai dan kini diselumuti belukar. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Terpencil dan jauh dari ingar bingar keramaian kota tak lantas membuat Kampung Sungaitabuk terpinggirkan dalam sepi. Sebaliknya, permukiman kecil ini jadi perhatian banyak pihak.

Investor bahkan melirik wilayah yang berada di Desa Kiram, Kecamatan Karangintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) itu. Setidaknya sejak sekitar tiga tahun lalu telah beroperasi objek wisata alam yang dikelola pihak swasta yakni Kiram Park.

Dari waktu ke waktu makin banyak wisatawan lokal yang berkunjung. Apalagi di objek wisata tersebut kerap digelar event besar seperti kontes durian dan kerap menjadi persinggahan peserta adventure trail maupun offroad.

Penampakan Joroknya Pasar Tradisional Kota Wuhan, Tempat Virus Corona yang Membunuh 26 Orang

VIDEO Terbaru Wuhan, Seperti Kota Hantu karena Warga Enggan Keluar Rumah Takut Teror Virus Corona

FAKTA 6 ABG Jual Diri di Hotel Melati Banjarbaru, dari Kehabisan Uang hingga Lakukan Open Booking

Bahkan wilayah Kampung Sungaitabuk hingga kini masih menjadi rebutan antara Pemkab Banjar dan Tanahlaut (Tala). Padahal sengketa tapal batas itu telah terjadi sejak belasan tahun silam sejak era Bupati Banjar Pangeran Khairul Saleh dan Bupati Tala H Adriansyah.

Bahkan sekarang persoalan administratif tersebut mulai berimbas pada gesekan kepemilikan lahan antarwarga. Area atau titik batas yang sampai kini masih menjadi benang kusut yakni di wilayah Kampung Sungaitabuk.

Tercatat sebelas titik yang menjadi sengkarut batas dan baru satu titik yang telah dicapai kesepakatan antarkedua kabupaten.

Kalangan warga Sungaitabuk berharap pemerintah secepatnya menuntaskan persoalan batas tersebut. Pasalnya, jika terus berlarut-larut dikhawatirkan bakal makin kompleks permasalahan yang terjadi di level bawah (masyarakat).

"Saat ini saja sudah mulai terjadi persoalan lahan antarwarga. Warga dari kampung sebelah tiba-tiba saja melakukan penguasaan, padahal sudah jelas lahan itu milik kami," tutur beberapa warga Sungaitabuk.

Warga Kampung Sungatabuk menapaki jalan poros setempat yang kini telah mulus beraspal.
Warga Kampung Sungatabuk menapaki jalan poros setempat yang kini telah mulus beraspal. (banjarmasinpost.co.id/idda royani)

Dikatakannya, warga kampung tetangga tersebut melakukan okupasi melalui intimidasi dan pengaruh fisik. Luasan lahan yang diklaim mencapai puluhan hektare yang di antaranya telah dimiliki perusahaan karet yang sebagiannya dulu dibeli dari warga Sungaitabuk.

Mengenai persoalan itu, tokoh warga Sungaitabuk sekaligus Ketua RT 02 Desa Kiram, Tony, membenarkan.

Halaman
123
Penulis: Idda Royani
Editor: Didik Triomarsidi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved