Breaking News:

Magnit Kampung Sungaitabuk

Tak Goyah dengan Anjloknya Harga Jual Lateks, Warga Kampung Sungaitabuk Tetap Semangat Lakukan Ini

Warga yang bermukim di dataran tinggi memang identik dengan tanaman keras (perkebunan). Begitu halnya dengan warga yang bermukim di Sungaitabuk

Penulis: Idda Royani | Editor: Didik Triomarsidi
banjarmasinpost.co.id/idda royani
Warga Kampung Sungaitabuk menyadap karet saat hari gelap sehingga mesti menggunakan alat bantu berupa senter bulat. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Warga yang bermukim di dataran tinggi memang identik dengan tanaman keras (perkebunan). Begitu halnya dengan warga yang bermukim di Kampung Sungaitabuk, Desa Kiram, Kecamatan Karangintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Sejak dulu secara turun-temurun penduduk setempat membudidayakan tanaman karet. Sebagian besar warga setempat menyandarkan keberlangsung kehidupan mereka dari hasil berkebun karet. Hampir tap hari mereka pergi ke kebun untuk menyadap karet.

Tokoh warga Kampung Sungaitabuk, Toni, menuturkan keahlian warga di kampungnya sejak dulu yakni berkebun karet. Karena jebloknya harga jual lateks (getah karet) yang terjadi sejak beberap tahun lalu cukup memukul perekonomian warga setempat.

Penampakan Joroknya Pasar Tradisional Kota Wuhan, Tempat Virus Corona yang Membunuh 26 Orang

VIRAL Video, Gadis Belia Dibebaskan Berbuat Mesum dengan Banyak Pria, Misinya Cari Suami Idaman Hati

Ragam Ucapan Selamat Imlek 2020 dalam Bahasa Mandarin Tahun Baru China 2571 (Tahun Tikus Logam)

Meski begitu warga di kampungnya tetap bertahan karena memang berkebun karet telah menjadi usaha turun-temurun dari nenek moyang.

Aktivitas berkebun yang dilakukan pun masih tradisional sehingga produk getah karet yang dihasilkan juga tetap murni alami.

Warga Kampung Sungaitabuk menyadap karet saat hari gelap sehingga mesti menggunakan alat bantu berupa senter bulat.
Warga Kampung Sungaitabuk menyadap karet saat hari gelap sehingga mesti menggunakan alat bantu berupa senter bulat. (banjarmasinpost.co.id/idda royani)

Seperti pekebun karet lainnya, selepas waktu subuh warga setempat banyak yang beraktivitas di kebun karet masing-masing. Penerangan berupa lampu sorot kecil yang diikat di kepala pun menjadi alat utama penerangan.

Luasan kebun karet di Kampung Sungaitabuk sedikitnya mencapai puluhan hektare. Pasalnya satu orang ada yang memiliki kebun karet lebih dari satu hektare, sedangkan jumlah penduduk setempat saat ini sekitar 50 kepala keluarga (KK).

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved